
“Ini oleh-oleh untuk adikku tercinta,” kata Adelia memberikan paper bag cukup besar pada Aksa berisi coklat monggo.
“Nah kalau sekarang aku nih yang protes. Aku nggak dapat oleh-oleh dari kak Adel,” ucap Ayya.
“Aduh buat kamu tuh spesial. Aku sudah bawain, tapi nanti kado buat kamu sama mama itu nanti,” ucap Adelia.
“Aku maunya sekarang,” jawab Ayya.
“bagaimana Mas, mau di kasihkan sekarang?” tanya Adelia pada Sonny.
“Terserah kamu aja enaknya bagaimana,” balas Sonny denga senyum penuh rasa cinta.
“Ya sudah Mas ambil hadiahnya di kamar,” pinta Adelia. Tak banyak protes Sonny beranjak ke kamarnya untuk mengambil bungkusan kado yang dia dan Adelia siapkan.
Mukti menyuapi Ayya sepotong mata roda yang sudah dia gigit lebih dulu.
“Aku tuh kalau udah buatan sendiri males makannya Mas,” kata Ayya pelan. Dia tak enak dengan yang lain.
“Justru itu Mas suapin biar kamu ikut makan. Masa nggak ikut makan snacknya.”
“Aku nggak ikut makan tapi nggak ngeracunin kok. Jadi aman.” balas Ayya.
“Kamu tuh sekarang ketahuan ya usilnya,” Mukti gemas pada Ayya yang sekarang cepat sekali memotong ucapannya.
“Kalau udah ketahuan ya udah kalau nggak suka buang aja aku,” jawab Ayya.
“Enggak. Mas makin suka kok. Apalagi kayak tadi waktu di kamar habis pulang salat,” bisik Mukti.
__ADS_1
“Ih kayak gitu dibahas di sini,” jawab Ayya. Dia jadi malu sendiri ingat yang tadi siang terjadi di kamar Mukti.
“Jadi ini oleh-oleh buat semua sih. Ini bukan buat Ayu sama Mama saja,” kata Adelia sambil menyerahkan kotak kecil berbungkus kertas kado berwarna coklat kepada Ambar sang mama mertua.
“Apa sih oleh-olehnya. Kecil begini buat semua,” jawab Ambar.
“Mama yang buka saja,” balas Adelia dengan senyum manis.
Ambar penasaran karena dia lihat kotaknya ini tidak keras. Dia tusuk dari luar kotak itu malah masuk ke dalam.
"Sepertinya tebakanku benar deh Mas,” bisik Ayya pada tunangannya.
“Kok tahu?” tanya Mukti.
“Lihat aja kado dari kak Adel sekarang. Pasti isinya tentang itu.”
“Nggak mungkin lah Yank,” balas Mukti mengingat bagaimana lamanya Angga dan Abu untuk dapat anak.
Ambar melihat isi kado ternyata memang dari mika. Pantesan kok goyang-goyang ternyata nggak keras karena terbuat dari mika yang diikat dengan pita gold. Di atas pita ada amplop kecil berwarna hijau.
Tentu saja Ambar penasaran dia buka bungkus mikanya lagi. Di sana ada sepatu bayi berbahan rajut berwarna coklat. Ambar membuka amplop ada foto USG baby di sana.
“Alhamdulillah!” jawab Ambar dia tak menyangka Sonny memutus pandangan bahwa keturunannya akan lambat punya anak seperti Angga dan Abu. Dia perlihatkan foto 4D yang ada dalam amplop pada semua yang ada di sana.
“Itu serius?” tanya Angga setengah tak percaya.
“Iya Eyang sangat serius,” kata Adel dengan senyum bahagia. Ayya langsung memeluk kakak iparnya.
__ADS_1
“Selamat ya Kak. Aku senang banget akan punya keponakan,” Ayya memeluk dan mencium Adelia.
Mukti hanya bengong dia tak percaya tebakan kekasihnya kemarin adalah benar.
Aksa yang baru selesai mandi kaget kok pada pelukan semua karena saat ini dia lihat Angga dan Abu pun memeluk Sonny dan Adelia sedang berpelukan dengan Mukti.
“Woi ada apa ini kok pada teletubbies. Kok aku nggak tahu,” kata Aksa yang baru selesai mandi dan rambutnya masih ada tetesan air segar.
“Kamu akan jadi Om,” kata Ambar dengan mata berkaca-kaca.
“Iya serius sudah tiga minggu,” kata Sonny sang calon papa.
“Kami memang belum berani langsung berangkat ke sini ketika satu minggu setelah positif.”
“Surat dari dokter juga ada,” kata Adelia.
“Buat apa surat dari dokter kandungan? Yang hamil aja dokter kandungan,” ujar Angga.
“Ya tetap aja aku nggak periksa periksa sendiri kan Eyang,” kata Adelia.
“Alhamdulillah kamu bisa cepet punya baby,” kata Angga.
“Sejak kami bersiap menikah memang aku disuntik rutin 3 hari sekali atau setiap aku datang ke Jakarta. Aku juga dikasih minum obat penyubur,” kata Sonny.
“Aku sudah di periksa kesuburan sebelum lamaran buat tunangan. Jadi benar-benar aku di push agar memutus pendapat kalau keturunan kita itu lambat punya anak.” ucap Sonny dengan wajah bahagia.
“Wah bagus kalau seperti itu, sehingga kalian tidak terlalu lama menunggu seperti Mama,” kata Ambar.
__ADS_1
“Iya sih. Kadang kalau yang nggak kuat itu omongan mertua pasti mereka akan bolak-balik tanya kok kamu belum hamil? Begitu Mama dulu tersiksanya seperti itu bolak-balik ditanya kenapa belum hamil.”
“Selain mertua juga lingkungan yang akan mencibir kalau kita belum punya anak,” kata Abu.