CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
JIWANYA WAYAN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



"Kalau menurut Eyang seperti itu ya sudah kita packing aja sekarang,” kata Mukti. Tadi Angga dan Abu sudah sepakat akan membawa Menur kembali ke Surabaya dan mereka juga sepakat rumah mereka di Bali akan diberikan kepada Ambar perusahaan di Bali akan mereka pindahkan kembali ke Surabaya karena menurut Angga dan Abu, Menur lebih nyaman berada di rumah sendiri yaitu rumah Surabaya.



Menur sudah sadar, tapi no respons. Dokter meminta keluarga memilih, dirawat di rumah sakit jiwa atau di rawat di rumah saja. Abu dan Angga sepakat merawat Menur di rumah saja.



“Oke kita bersiap aja besok pagi kita jalan,” jawab Abu sepakat dengan Mukti.



“Papa nggak ada yang mau diambil di rumah?” tanya Mukti.



“Belum lah. Takutnya ada mamamu di rumah, nanti malah ribut karena dia kan sudah bilang tidak mau bertemu Papa,” jawab Abu lirih. Sakit rasanya harus menjauh dari peempuan terkasihnya.



“Mama kan di Villa Pa, bukan di rumah. Tadi kan aku bilangnya RUMAH, kayaknya Papa udah nggak konsen ya. Dari tadi kok aku bicara selalu salah tangkap,” Mukti memperjelas maksud yang dia katakan.



Abu hanya membenarkan dalam hatinya. Bagaimana dia mau konsen dengan keputusan Ambar minta break selama 1 tahun? Hal itu belum bisa terpecahkan dalam otaknya. Dia tetap tak percaya Ambar akan memutuskan seperti itu.



“Enggak usah lah, toh barang Papa di rumah kita yang di Surabaya masih cukup dan di rumah eyang Angga di Surabaya juga ada kalau cuma soal baju dan barang-barang lain,” jawab Abu.



“Kalau gitu mau pakai mobil siapa besok?” tanya Mukti.



“Pakai mobil Eyang aja, karena kan langsung kembali ke Surabaya. Nanti mobil papamu biar di sini dulu. Dia kan masih akan urus perusahaan di Bali nanti.”



“Kalau mobilmu tentu enggak cukup. Mobil sport gitu cuma isi dua kok,”  kata Angga.

__ADS_1



“Oke Eyang jangan ngomel gitu, nanti makin cepat tua,” goda Mukti.



“Aku akan siapin mobilnya, aku cek dulu segala macam oli dan ban di benkel biar kita besok perjalanan darat ke Surabaya nyaman.”



Airlangga dan Abu memang akan membawa Menur melalui jalan darat agar lebih nyaman. Kalau naik pesawat kan harus boal balik kendaraan,   jadi lebih baik mereka jalan darat biar Menur juga menikmati perjalanan itu dengan santai.


\*\*\*



Mukti membawa mobil Angga ke bengkel untuk pemeriksaan semua kelayakan berangkat ke Surabaya, sedang Abu dan Angga konsul ke dokter sebelum keberangkatan.



Abu dan Angga sudah memutuskan dan mengatakan pada dokter bahwa akan dibawa ke rumah Surabaya saja.



“Kalau di Surabaya, nanti konsul ke dokter Ayu Fitriani ya, ini nomornya. Tanyakan saja bisa konsul di rumah sakit mana. Karena beliau pegang beberapa rumah sakit,” lalu dokter memberikan kartu nama untuk konsul di Surabaya nanti. kartu nama seorang dokter kejiwaan, Abu membaca dokter psikologi yang dirujuk oleh dokter di Bali adalah Ayu Fitriani seorang dokter perempuan.




“Iya Pak nanti datanya akan saya kirim dari sini atau Bapak-bapak juga bisa minta copy-an data pasien ke bagian administrasi untuk diserahkan ke dokter. Biasanya dokter akan menghubungi saya nanti saya kirim via email,” jelas dokter yang memeriksan Menur di Bali



“Baik Dokter. Terima kasih surat rujukannya, tapi beneran boleh dirawat di rumah saja kan?” Airlangga taakut dia menyalahi prosedur.



“Sama aja sih Pak mau dirawat di rumah atau di rumah sakit jiwa kalau yang diberikan obatnya sama. Malah kalau di rumah kemungkinan dia cepat sembuh lebih besar karena kalau di rumah kan di tanganinya dengan cinta seluruh anggota keluarga, kalau di rumah sakit kan hanya ditangani secara medis walau di rumah sakit semuanya juga tidak ada yang menyakiti tapi tidak ada cinta sebagai sesama anggota keluarga bila di rumah sakit.”



“Baik, kami mengerti Dok. Terima kasih,” jawab Angga.


\*\*\*


__ADS_1


“Semoga aku cepat menyelesaikan semua ini Pakde,” kata Wayan pada Saino. Dia jadi ikut memanggil mantan sopirnya dengan panggilan pakde karena sejak kecil Yaya atau Komang putrinya memanggil Saino dengan sebutan pakde.



Wayan mendapat kabar bahwa kondisi istrinya semakin lemah. Walau Wayan dan Sukma tidak menikah secara resmi, tapi buat Wayan hanya Sukma lah istrinya, hanya Sukma yang Wayan cintai dengan segenap jiwa.



Dulu saat SMA dan kuliah banyak perempuan yang menjadi kekasih Wayan, tetapi Wayan dengan mudah berpaling bila sudah tidak cocok bahkan Wayan tidak pernah mempertahankan perempuan sebagai kekasih terakhirnya, saat kedua orang tuanya minta Wayan menikahi Dewi dulu.



Tak ada rasa keberatan Wayan saat untuk diminta untuk memutuskan pacarnya ketika muda dan masih kuliah.Tapi tidak dengan Sukma.



Dengan Sukma, Wayan seakan memang benar-benar mendapatkan jiwa seperti arti kata SUKMA dalam bahasa Sansekerta yang artinya jiwa. Sukma adalah jiwanya Wayan. Begitu pun sebaliknya Wayan bagi Sukma.



Dan mereka punya buah hati yaitu Yaya yang tak akan pernah mungkin digantikan oleh siapa pun terlebih belakangan saat Wayan tahu kelakuan Dewi yang sengaja membuat putrinya sebagai tameng untuk keluar rumah ketika Dewi janjian dengan kekasih gelapnya untuk masuk ke kamar hotel.



Wayan juga menyesalkan sopirnya dulu yang mau bekerja sama dengan Dewi untuk menjaga Yaya di mobil sementara Dewi berkencan di kamar hotel. Memang orang yang berkelakuan buruk tak akan diberkahi. Sopirnya itu mengalami kecelakaan dan patah kaki harus diamputasi saat berkendaraan dengan motor bersama kekasih gelapnya.



Istrinya tentu tak mau merawat lelaki yang selingkuh, sudah tak punya kaki tak punya istri pula karena istrinya langsung minta cerai. Itu adalah balasan dari alam untuk kelakuan sopir tersebut kepada Yaya. Anak  kecil yang diberi obat tidur agar ibu angkatnya bebas berkencan dan sopir itu adalah sebagai fasilisator kegiatan busuknya. Karma itu langsung diterima oleh si sopir tanpa menunggu lama.



“Aamiiiin,” kata Pakde Saino.



“Pakde sekarang sedang bawa apa?” tanya Wayan



“Tadi bawa jagung produksi desa sebelah juga sedikit benih ikan,” jawab Saino. Memang Saino habis mengantar order lalu mampir ke tempatnya Wayan. Mereka biasa ngobrol sesaat di sela kesibukan Wayan mengelola tokonya.



Kalau Saino mampir seperti ini biasanya Wayan memberikan sedikit sembako untuk Sukma. Tak bisa banyak karena pasti akan berakibat di pembukuan. Wayan hanya mengambil sesuai dengan uang yang ada di sakunya karena yang dia berikan kepada Saino itu dibeli dari uang hidupnya. Jadi semua tidak gratis itu semua dari uang yang Wayan miliki saat itu dan Saino tahu hal itu karena Wayan bilang bukan dia tidak mau memberi, hanya dia sama sekali sulit mengeluarkan uang. Saino juga tahu bahwa sekarang Wayan sedang jungkir balik untuk bisa menebus kebebasannya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok

__ADS_1



__ADS_2