CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
RENCANANYA BIKIN DI BADUNG


__ADS_3

Ayya dan Mukti pamit pada semua yang ada di sana mereka tidak memperlihatkan keanehan atau perubahan perilaku. Ayya masih kaku menghadapi Mukti yang secara resmi sudah menyatakan pada dunia bahwa Ayya adalah miliknya. Hanya Ayya saja yang masih membatasi diri.


“Kamu jangan kapok ke sini lagi ya,” pinta Vonny.


“Iya, Tante. Kalau aku ke Jakarta nanti aku mampir sini,” Ayya menjawab manis permintaan Vonny.


“Bukan mampirlah, rumah papa dan mamamu sudah enggak ada di Jakarta, jadi kalau kalian memang ada keperluan di Jakarta, kalian wajib tinggal di sini. Tidak boleh tidak. Ingat ya Mukti! Pokoknya Tante pesan begitu. Kalau kalian ada urusan di Jakarta kalian wajib tinggal di rumah ini. Tidak boleh di tempat lain.”


“Baik Tante. Tapi sepertinya saya juga akan jarang ke Jakarta karena memang sejak dulu saya kan jarang ada urusan di ibukota. Tapi Insya Allah bila ada urusan di Jakarta, saya akan menginap disini.” balas Mukti.


“Dan satu lagi, mulai hari ini kalian harus panggil saya MAMA seperti Adel dan Sonny, karena buat Mama kalian adalah anak-anak Mama. Masa Ambar punya banyak anak, Mama cuma satu ditambah Sonny?” ucap Vonny. Semuanya tentu setuju,


Ayu bertambah sedih, bukan sedih dalam artian merana. Tetapi dia terenyuh ternyata banyak orang yang memberikan uluran tangan, mendekap dirinya yang piatu, dia yang sudah ditinggal ibunya malah dapat banyak orang tua.

__ADS_1


“Kalau begitu aku berangkat ya Ma,” kata Ayya.


“Iya kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kabari Mama.”


“Iya Ma, aku akan kabari Mama,” jawab Ayya.


“Nanti biar Mama kirim nomor Mama dari mama Ambar. Atau kamu tanya sama Mukti nomor Mama yang mana. Karena takutnya kalau sekarang kamu enggak save malah lupa.”


“Baik Ma, nanti di mobil aku minta sama Mas Mukti nomor Mama yang mana,” Ayya pun mencium punggung tangan Vonny dilanjut memeluk dan mencium pipi Vonny. Tentu saja Vonny tambah senang bertambah anak. Jujur dia tidak terlalu kehilangan Prilly karena Prilly membuang diri sejak kecil.


Mukti dan Ayya memang sengaja pamit lebih dulu karena mereka yakin untuk pamitan saja butuh waktu lebih dari satu jam. Belum ke para eyang belum ke para pakde bude. Semuanya harus dipamiti satu persatu. tentu saja itu tidak bisa hanya dalam waktu sekejap. Peluk cium dan nasehat semuanya berkumpul jadi satu.


“Janga lupa selalu khabari Eyang. Dan Eyang juga minta perkembangan kasusmu di pengadilan selalu kamu kasih tahu,” pinta Angga.

__ADS_1


“Insya Allah akan aku khabari Eyang.” Ayya memeluk erat Angga.


“Kayanya kita sebentar lagi kumpulnya di Solo nih,” goda bude Pras.


“Ya enggak di Solo dong. di Badung. Masa di Solo? Kan pengantin perempuannya di Badung,” kata Abu.


“Ih, Papa kok gitu sih,” kata Ayya. Ambar dan Mukti hanya tersenyum saja.


“Ya nanti kumpulnya memang di Badung,” kata Ambar.


“Dan aku juga ngunduh mantunya di Bali bukan di Solo. Karena di Solo kami belum kenal banyak orang. Kami lebih banyak kenalan di Bali dan Surabaya jadi ngunduh mantu pun aku akan bikin di Bali,” ujar Ambar.


“Wah benar-benar harus siap-siap nih,” kata Vonny.

__ADS_1


“Mama jangan ikutan mama Ambar deh Ma,” kata Ayya pada Vonny.


__ADS_2