
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Hari ini kamu keluar?” tanya Angga pada Mukti.
‘*Alhamdulillah eyang tanya, jadi aku bisa dengar planning kerjaanku hari ini apa*,’ batin Ayya menanti jawaban Mukti.
“Hari ini belum ada rencana keluar Eyang, kebetulan teman-teman minta jeda satu hari. Besok aku ada meeting dari pagi. Teman-teman semalam sudah bilang mulai jam 8 pagi. Jadi besok habis sarapan aku berangkat.”
“Hari ini rencananya aku bantuin papa beres-beres rumah aja, biar rumah lama bisa langsung kosong,” kata Mukti.
‘*Wah aku bisa tenang hari ini tidak kerja diluar. Padahal kerjaan kemarin sudah aku selesaikan semalam*,’ batin Ayya.
“Mbak Ayu, itu ponselnya di kamar berbunyi,” kata Bu Parman yang baru menaruh beberapa barang dapur yang dia bawa dari rumah kontrakan. Kalau mau ke dapur memang melalui kamar Ayya.
“Eh Bude sudah kembali, ayo Bude sarapan dulu,” kata Ayya.
“Iya mbak, habis ini saya sarapan ,” jawab Bu Parman.
“Itu ponselnya bunyi terus,” kata Bu Parman lagi.
“Biarin aja Bude, saya selesaikan makan dulu,” jawab Ayya.
“Angkat aja, itu kan absen pagi dari pacarmu. Nanti dia marah loh,” kata Mukti.
“Enggak apa-apa Pak. Kalau pacar harusnya enggak cepat marah. Pacar itu harusnya mengerti bahwa kekasihnya itu bukan hanya harus meladeni dia, tapi punya koneksi lain, punya sosialisasi yang lain. Kan interaksi sosial enggak hanya dengan pasangannya aja,” kata Ayya dengan bijak.
__ADS_1
Angga hanya senyum-senyum, dia bisa melihat bahwa ada percikan api antara Mukti dan Ayya.
Sehabis sarapan Ayya langsung cuci piring, dia tidak langsung melihat ponselnya.
“Mbak Ayu, Saya mau ke pasar. Mau ikut enggak?” tanya Bu Parman.
“Bude mau belanja apa?” tanya Ayya penasaran.
“Mau belanja aneka macam sayuran buat stok satu minggu, karena habis itu kan Bu Ambar mau pergi ke ke Jakarta. Jadi stock sayuran satu minggu aja sama buah.”
“Lusa mas Sonny datang, kalau ada Mas Sonny enggak boleh buah kosong. harus ada jus buat eyang Anggak dan Pak Abu. Sejak dulu mas Sonny marah kalau asupan serat eyang Angga dan papanya kurang. Mas Sonny bilang dua orang itu kalau di luar rumah enggak makan serat. Jadi di rumah harus dipantau ketat,” jelas bu Parman.
“Ayo Bude, aku kok pengen salad, kita bikin salad yuk?” aja Ayya.
“Kalau salad sayuran?” tanya Ayya.
“Kalau bu Ambar salad sayuran juga suka sih, tapi yang paling suka salad sayuran itu mas Aksa.” bu Parman sangat hafal kesukaan masing-masing majikannya.
“Ya wis kita beli aja aneka sayuran yang buat salad juga yang buat salad buah, jadi nanti kita sajikan selang-seling biar enggak bosan.”
“Tunggu 10 menit lagi ya Mbak,” Kata bu Parman.
“Kenapa harus 10 menit Bude? Memang ada yang ditunggu?” tanya Ayya
__ADS_1
“Enggak sih, barusan Mas Mukti sama Pakde kan ke rumah lama. Takutnya mereka balik kita sudah enggak ada.”
“Ya kalau mereka baliknya cepet, kalau lama bagaimana?” tanya Ayya.
“Kan Bu Ambar mau ke sini. Jadi Bu Ambar dateng kita berangkat,” kata bude Parman.
“Oh gitu, ya wes ta’ siap-siap,” kata Ayya, dia pun bersiap-siap hendak ke pasar bersama dengan Bude Parman.
“Kamu mau ikut ke pasar?” tanya Ambar pada Ayya.
“Iya Ma, aku ke pasar. Tapi aku enggak bawa ponsel ya Ma,” kata Ayya.
“Kenapa?” tanya Ambar.
“Enggak Ma. Aku enggak nyaman kalau bawa ponsel ke pasar. Aku biasa kalau ke pasar hanya bawa uang seperlunya di saku aja. Enggak pernah mau bawa lebih. Aku pernah kehilangan, sejak itu enggak pernah berani ke pasar bawa sesuatu yang berlebih,” kata Ayya.
Ayya enggak bisa ngebayangin ponsel jenis terbaru miliknya hilang di pasar. Kalau masih ponselnya yang lama sih masih mending, dia masih bisa cari gantinya. Kalau ponsel yang baru dari Mukti, tentu dia enggak berani. Ayya sadar, ponsel itu alat kerjanya, bukan untuk dipamerin.
“Ya sudah, nanti kalau Mama butuh sesuatu yang terlupa, Mama akan hubungi bu Parman,” aja kata Ambar.
“Ya Ma, hubungi Bude aja,” kata Ayya. Mereka pun berdua naik motor
“Loh, kok dia yang bawa motor?” kata Mukti melihat dari jauh Ayya yang bawa motor Bude yang bonceng.
Mukti sedang membawa barang-barang dari rumah lama dengan mobil lamanya Abu. Enggak mungkin dong pakai mobil baru buat pindahan angkut-angkut barang.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.
__ADS_1