CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SALING DIAM


__ADS_3

“Aku enggak tahu kenapa mas Mukti diam. Jadi ya lebih baik aku juga diam. Daripada bikin dia marah. Kalau ditanya aku akan jawab. Tapi kalau enggak ya wis,” Ayya bersiap keluar kamarnya pagi ini. Sehabis salat subuh tadi dia kembali masuk kamar. Tak membuat sarapan atau apa pun selain kopi untuk Mukti.


Seharian Komang Ayu terus bekerja menjawab telepon dari 3 galeri yang dia pegang. Semua dia jawab, bila berkaitan stock dia akan lihat buku besar studio, bila kurang jelas dia akan bertanya pada pengrajin mengenai stok di studio dan kapan pengiriman serta semua aspek soal barang dari studio ke galeri.


Komang Ayu sudah cukup mahir dalam hal ini tak perlu lagi bertanya pada Mukti. Mukti benar-benar terbantukan dengan adanya Komang Ayu.


*‘Kamu apa kabar?’ *saat sedang berbalas pesan dengan Sri masuk pesan dari Arjun.


*‘Hai Jun aku baik,’ *jawab Komang Ayu sambil memperhatikan laptopnya melihat tabel data dari galeri yang di Denpasar.


‘Aku boleh telepon?’


‘Silakan. Aku sedang tidak sibuk, telepon aja.’ jawab Komang Ayu.


“Sibuk banget ya kamu sekarang?”Arjun pun tak membuang kesempatan itu, dia langsung menghubungi Komang Ayu.


“Biasa aja lah, sama seperti waktu kamu ke studio,” jawab Komang Ayu.


“Kok tadi bilang kamu enggak sibuk jadi aku bisa telepon,” protes Arjun.


“Maksudnya handphone ini enggak sibuk, jadi kamu bisa bicara. Kalau telepon kantor ya tetap sibuk lah,” jawab Komang Ayu.


“Berarti aku ganggu?” tanya Arjun.


“Enggak, enggak ganggu,” jawab Komang Ayu.

__ADS_1


“Aku cuma mau tanya, lusa aku akan ke Badung karena orang tuaku akan mengadakan pesta. Kita bisa ketemu?” tanya Arjun penuh harap.


“Wah sayang sekali, aku besok ke Jakarta ada acara pengantinan kakaknya bosku,” jawab Komang Ayu.


“Oh yang waktu itu kamu bilang, acaranya besok ya?” jawab Arjun kecewa. Dia sudah mendengar rencana ini saat sebelum dia datang ke studio dan menyatakan keseriusan dengan Ayu. Dulu Komang Ayu bilang akan ke Jakarta menghadiri pesta itu.


“Bukan besok sih acaranya masih 4 hari lagi,” jawab Ayya.


“Wah bersamaan dengan acara orang tuaku ya,” kata Arjun.


“Mungkin, aku kan enggak tahu jadwal pesta orang tuamu,” jawab Ayya.


“Sama,” jawab Arjun sedih.


“Makanya aku pulangnya lusa.”


“Iya, tapi nanti kapan-kapan kabari ya kalau kamu ke Jakarta atau kalau aku ke Bali sehingga kita masih bisa ketemu,” jawab Arjun.


“Aku akan kabari kamu,” jawab Ayya. Saat itu Mukti masuk ke kamarnya mungkin ingin buang air kecil.


Sejak tadi memang Mukti melihat Ayya dapat telepon di nomor di ponselnya berarti di nomornya Ayya sendiri. Bukan di ponsel kerjanya.


‘Janjian dengan siapa lagi dia?’ pikir Mukti penuh curiga.


Dua hari berlalu dalam senyap. Mukti dan Komang Ayu memang benar-benar tak bertegur sapa seperti biasanya. Mereka hanya bicara seperlunya seperti saat ngajak makan, ngajak sholat dan seterusnya tidak ada sharing cerita atau bercengkerama hal lain.

__ADS_1


“Andai aku bisa aku lebih baik enggak usah ikut ke Jakarta,” kata Komang Ayu dengan kesal saat packing pakaiannya.


“Tapi aku sudah mengundang Sri untuk datang, bagaimana dong. Kasihan Sri bila dia datang aku enggak ada.”


Besok paginya Ayu dan Mukti berangkat ke bandara sopir rentalnya Sonny sudah menunggu di sana untuk membawa pulang mobil sportnya Mukti. Nanti saat Mukti pulang mobil akan diantar kembali ke bandara.


“Hati-hati ya Pak dan terima kasih,” Kata Mukti saat menyerahkan kunci mobilnya.


“Iya Mas Mukti, ini titipan dari kami untuk pak Sonny,” kata sopir memberikan kado dititipkan pada Mukti.


“Ini dari siapa?” tanya Mukti takut salah.


“Sudah kami tulis di dalam kotak. Itu dari kami semua di rental Uluwatu besok dari jetski dan terbang layang akan memberikannya langsung saat Pak Sonny ke sini.”


“Apa Mas Sonny akan liburan ke sini?” Mukti menduga Sonny telah memberitah staffnya soal kedatangannya ke Bali.


“Tidak tahu Mas,  mereka enggak ngasih tau kami di rental. Cuma pas saat kami tanya, mereka bilang akan memberikan langsung karena mereka enggak tahu Mas Mukti mau kami antar. Jadinya mereka enggak titipin ke kami.


“Ya wis, nanti aku bilangin ke Mas Sonny,” kata Mukti.


Mukti dan Ayya langsung menuju tempat check in karena waktu penerbangan mereka sudah mepet.



__ADS_1


![](contribute/fiction/6969677/episode-images/1691268836082.jpg)


__ADS_2