
Mukti kembali mengingat siang naas itu. Dia ingat usulan Wayan untuk makan bersama dengan Made. Lalu mereka makan bertiga. Mukti mengingat makanan apa yang mereka konsumsi juga minuman tak ada yang aneh. Mereka pesan satu ayam bakar utuh sambal dan lalap untuk mereka bertiga.
Lalu tetiba Mukti sudah ada di kamar dengan perempuan berambut sebahu bahkan dia belum pernah berkenalan dengan perempuan itu namanya siapa saja dia tak tahu karena waktu mendatangi Made dia sama sekali tak kenalan dia langsung mencari meja kosong berdua Wayan lalu Made menghampiri meja mereka. Jadi Mukti tak pernah kenalan dengan perempuan tersebut. Sama sekali tidak.
Mukti tak ingat kapan dia pindah ke kamar. Bagaimana dia bisa tiba di kamar. Begitu berada di kamar dengan perempuan tersebut mereka langsung melakukan tanpa kata-kata. Benar-benar tanpa kata-kata. Sehabis mengeluarkan hasratnya Mukti langsung membuka botol minuman kemasan yang masih bersegel. Dia minum sehabis itu dia tak ingat apa pun lagi.
Mukti tidak ingat apakah dia kembali ke tempat tidur atau dia sempat ke kamar mandi dulu atau tidak.
Saat Mukti bangun, dia merasa baru tidur sebentar. Mukti kaget di sebelahnya ada perempuan yang sama-sama naked bersama dirinya. Pakaian mereka bertebaran.
Mukti langsung berlari ke kamar mandi membersihkan dirinya, dia ingat berarti sebelum tidur dia sama sekali belum bersih-bersih karena dia melihat sper-ma kering di ujung tembakannya. Mukti langsung mengenakan pakaiannya dan menyalakan ponsel.
__ADS_1
Betapa kagetnya Mukti dengan banyaknya panggilan baik dari Ayya dari Abu dari eyang Angga maupun dari mamanya. Tak ada pesan apa pun. Kalau saat seperti itu tentu saja Ayya tidak mau meninggalkan pesan. Yang membuat Mukti syok saat itu adalah tanggal di ponsel sudah berganti! Artinya semalam dia tidak pulang, dia tidur bersama perempuan ini.
“Lalu aku harus bagaimana? Apa yang aku harus katakan pada Ayya?” begitu pikiran Mukti saat itu. Dia langsung mematikan ponselnya lagi Dia terus berpikir.
Saat itu perempuan di sebelahnya bangun langsung menjerit dan menangis melihat dia masih naked dan berada di kamar tertutup berdua dengan Mukti.
“Apa yang terjadi? Mengapa kita di sini?” tanya perempuan tersebut.
“Saya juga tidak tahu. Saya sama sekali tidak tahu bagaimana kita bisa di sini sedangkan saya tidak kenal kamu,” kata Mukti. Tentu saja perempuan itu tahu Mukti tapi Mukti tidak tahu dirinya.
“Diam!” teriak Mukti.
__ADS_1
“Tunangan saya telepon. Kalau sampai ada suara kamu dia dengar, saya habisi kamu!” bentak Mukti. Dia benar-benar marah pada perempuan yang sedang menangis itu.
Mukti bicara dengan Ayya, dia tak bisa memenuhi permintaan Ayya yaitu datang ke pameran dalam hitungan kelima.
‘Bagaimana aku bisa datang ke tempatmu Sayank. Aku saja nggak tahu aku ada di mana dan di mana mobilku,’ kata Mukti dalam batinnya. Dia terdiam sampai lama. Dia tak bisa menjawab apa pun terlebih saat Ayya bilang back ground dia sunyi sedang kalau di pameran gaduh.
“Ingat ya! Saya tidak kenal kamu dan kalau terjadi apa-apa saya tidak mau tanggung jawab pada kamu. Saya tak akan pernah menikahi kamu! kamu itu bukan siapa-siapa saya!”
“Jangan kamu bilang saya beruntung mendapatkan keperawanan kamu. Tak ada keuntungan apa pun buat saya karena saya mengalami kerugian besar. Saya akan kehilangan tunangan saya bila dia tahu masalah ini dan keluarga besar saya juga akan marah.”
“Kalau sampai kamu menuntut pernikahan, saya akan kabulkan. Pada hari pernikahan saya bunuh diri di depan penghulu dan semua yang hadir. Kamu ingat itu. Apa pun yang terjadi kamu nothing. Jangan pernah saya mau bertemu lagi.”
__ADS_1
“Apa pun yang terjadi saya tak akan pernah menikahi kamu. Biar kamu hamil pun tak akan pernah ada pernikahan. Sekali lagi saya tekankan saya akan mengikuti prosesnya sampai di hari akad. Saya akan melamar kamu, saya akan memenuhi semua persyaratan administrasi. Tapi saya akan bunuh diri saat sebelum akad nikah. Ingat itu!” berulang kali Mukti mengataskan tak akan pernah menikahi perempuan itu.
“Kamu di mana Bro?” tanya Mukti saat menghubungi Made.