
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Sebenarnya semalam sejak Sonny masuk kamar Ambar sudah berpikir ulang. Sejak dia SMA cintanya memang hanya untuk Abu. Begitu pun Abu. Tak pernah ada orang lain. Tapi tentu Ambar tak tahu bagaimana Abu diluaran.
Selama mereka berumah tangga juga nggak pernah ribut dalam artian ribut perang prinsip. Enggak ada. Sekarang setelah sadar dia di adu domba oleh mertuanya, tentu Ambar berpikir dong. Kenapa dia nggak balik lagi? Toh mereka masih sama-sama cinta dan mereka punya tiga putra yang sangat mengharap mereka selalu rukun.
Tapi kalau dia mau balik, sebaiknya tinggal di mana? Dia sudah pindahkan barang-barang ke Jogja. Rumah Bali juga sudah mau di kontrakan. Rumah Surabaya sudah mau dia jual.
‘Sepertinya memang harus ngomong. Harus cari solusi. Apa dijalankan pisah satu tahun seperti rencana awal. Aku tinggal di Jogja nemenin Aksa dan Sonny.’
Tapi kan Aksa juga harus diajak ngomong. Mau tetap seperti rencana semula, atau tetap stay di Bali.
'*Aku mumet kalau kayak gini*,' pikir Ambar semalam.
\*\*\*
"Kalau menurut Mama sih kita ngomong semua deh Mas. Karena ini kan menyangkut masalah Aksa. Juga menyangkut masalah rumah, mungkin nanti menyangkut masalah eyang Angga juga," kata Ambar.
__ADS_1
"Mamas enggak bisa lama-lama di Bali Ma. Harus segera balik ke Jogja. Mamas kabur karena mikirin keutuhan keluarga kita Ma," Sonny juga tak bisa terlalu lama di Bali karena sedang super sibuk.
"Kalau gitu kenapa enggak siang ini aja? Apa papamu sama Mukti enggak bisa kalau siang ini?" Ambar mempercepat waktu kumpul mengingat Sonny harus segera kembali ke Jogja.
"Jadi kalau kamu mau balik nanti malam pun bisa. Mau balik besok pagi bisa."
"Ya sudah aku telepon papa sama Mukti dulu deh." Sonny merogoh sakunya untuk menghubungi papa dan Mukti.
"Halo halo halo halo," Sonny mengirim pesan suara atau voice note di grup chat.
"Oke aku bisa," jawab Mukti yang kebetulan sedang online.
Abu rupanya sedang tidak online jadi dia tidak bisa menjawab.
"Coba kamu telepon papa dulu. Kalau enggak bisa kan aku harus ngatur jadwal ulang karena aku harus balik ke Jogja," jawab Sonny.
"Ya udah aku telepon papa dulu, biar papa nanti langsung jawab," kata Mukti.
__ADS_1
Ternyata Abu sedang off makanya enggak bisa dihubungi.
"Wah gawat kalau papa enggak bisa dihubungi. Sama juga bohong," sesal Sonny.
Sonny dan Mukti menunggu kepastian kapan ponselnya Abu kembali aktif.
\*\*\*
Abu yang sedang ditunggu oleh Mukti dan Sonny sedang sarapan di pantai. Dia sedang berpikir. Tepatnya merenung. Mengapa bisa tak mengetahui kebusukan Menur? Apa karena Menur teramat lihai? Mengapa semua bisa tertipu?
Abu ingat bagaimana tatapan ji-jik Ambar untuknya saat Witri menceritakan mereka menghabiskan sepanjang malam dalam pergulatan tanpa jeda!
Abu sering memergoki mata sembab milik Ambar tapi tak berani menanyakannya karena Abu tahu itu karena tegurannya pada Ambar saat dia membela Mukti kecil.
'*Kasihan Ambar, selama ini sering aku sakiti karena aku lebih percaya perempuan tua nan lembut itu*.'
Akhirnya setelah ponsel Abu aktiv mereka setuju untuk makan siang bersama di villa. Tanpa membuang waktu Abu tak menanti siang. Dia langsung menuju Villa saat itu juga setelah mampir beli buah, coklat dan ice cream.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok
__ADS_1