
Ayya keluar dari toilet dengan tubuh menggigil. Dia sangat kedinginan karena harus mandi malam-malam. Kalau tidak mandi tentu lengket. Dia menggunakan baju yang dibelikan oleh waiters tadi. Baju kotornya ada di dalam tas tempat baju yang baru beli.
“Pak Putut silakan ke ruang manajer di sana ada CCTV-nya. Saya sudah melihatnya. Terbukti bahwa Lingga dan saudaranya memang sengaja mau menyakiti Ayya. Itu sebabnya saya berani menghubungi and,” ucap Mukti.
“Mukti kok kamu kayak gini sih? Kok kamu jahat sama aku,” protes Lingga, tapi tak digubris Mukti. Lelaki itu sibuk memeluk Ayya. Dan menciumi kening serta mata kekasihnya.
“Kamu cari mati sendiri!” bisik Indra. Teman yang paling dekat dengan Lingga, bahkan pernah berharap Lingga mau mencintainya.
“Wayan dan Indra, silakan kalau mau lihat CCTV-nya. Di depan sudah ada polisi 6 orang. Jadi kalian nggak perlu jagain Lingga dan saudaranya itu,” ucap Mukti mengajak dua sohibnya masuk mengikuti pak Putut.
“Nah lihat kan? Dia sudah berdiri lama di sini saat saya sedang telepon. Lihat ini ya,” kata Mukti. Di ruang itu ada tiga monitor jadi dari tiga sudut bisa kelihatan.
“Lihat kami masih duduk-duduk telepon, dia sudah berdiri memegang mangkok. Padahal dia sudah membayar di kasir. Dia tidak langsung duduk ke tempatnya, dia menunggu saat yang tepat. Perhatikan … perhatikan,” kata Mukti.
Dilayar monitor telihat begitu Mukti dan Ayya bersiap akan pulang terlihat Sekar mengambil ancang-ancang. Ketika Ayya berjalan Sekar dengan sengaja menumpahkan mangkok es ke dad4 Ayya.
“Terbukti kan?Semua sependapat kan? Saya minta copy rekaman ini sekarang juga,” kata Mukti tegas.
__ADS_1
“Ada apa Bro? Tadi tak sempat bicara dengan Mukti, sekarang teleponnya sibuk terus,” Wayan mendapat telepon dari Made. Made mengatakan tak bisa meluncur karena terlalu jauh bila masalahnya urgen. Wayan menceritakan semuanya.
“Aku sedang melihat CCTV, aku ganti jadi video call ya biar kamu lihat apa yang Lingga lakukan. Sebenarnya bukan Lingga langsung sih tapi saudaranya,” ucap Wayan.
“Ya ampun kenapa Lingga jadi seperti itu?” kata Made karena jelas sekali di CCTV mereka memang menunggu Ayya untuk bangkit. Sekar sudah siap sejak tadi. Lingga sudah duduk. Kalau memang Sekar mau duduk kenapa menunggu Ayya selesai bicara dulu?
Indra tak bisa berkata-kata lagi karena sudah jelas itu tak bisa direkayasa.
“Baik Ibu terima kasih,” kata Pak Putut saat menerima copy rekaman CCTV dari manager cafe.
“Saya minta nomor telepon sini dan nomor telepon Ibu,” Pak Putut langsung memberikan kartu namanya pada manajer cafe tersebut.
“Maaf Lingga. CCTV jelas memberatkan kamu. Walau kamu tak berperan aktif, seharusnya kamu melarang saudaramu melakukan kejahatan itu. Jadi kamu kena pasal persekongkolan. Kami sebagai teman tak bisa menolong apa pun. Saksinya kasir dan waitress juga sudah tahu sejak tadi Sekar sudah mendapatkan es krim itu dan dia memang tidak duduk sengaja menunggu sampai Komang Ayu bersiap pulang,” kata Indra.
Banyak yang membuat video bagaimana Lingga dan saudaranya ditangkap. Tentu saja zaman sekarang mana sih yang tidak langsung diposting? Akhirnya nama Lingga dan saudaranya langsung viral malam itu juga!
“Pak Putut saya langsung pulang saja. Kasihan Komang Ayu, dia sangat kedinginan,” ucap Mukti.
__ADS_1
“Baik mas Mukti silakan. Nanti semuanya saya urus di sini,” kata Pak Putut.
Mukti membayar semuanya yang dia makan dan ternyata oleh kasir dipotong uang sisa belanja baju tadi. Waiters tersebut tidak mau menerima uang kembalian yang Ayya berikan untuk membeli baju. Langsung dipotong di pembayaran makanan Mukti.
“Memang kenapa sih sama Lingga?” tanya Wayan tak percaya. Mereka berdiri sebentar di depan cafe.
“Mungkin Mbak Lingga marah karena tadi mas Mukti sama sekali nggak mau lihat muka dia waktu kami ketemu di supermarket. Cuma aku yang bicara sama mbak Lingga. Dia kesal, jadi saudaranya balas dendam atas kekesalan mbak Lingga,” ucap Ayya mencoba menelaah alasan Lingga.
“Memangnya ada kewajiban aku bicara dengan dia? Dan kalau dia kesal dia berhak melakukan tindakan balas dendam sedang aku tak melakukan apa pun padanya?” jawab Mukti kesal.
“Wayan kayaknya ceritanya besok ya. Ini nanti takut Ayya sakit dan aku yakin sebentar lagi mamaku akan kembali telepon untuk bertanya apakah kami sudah sampai rumah. Kalau belum tentu dia akan ngomel sama aku karena anak emasnya mendapat musibah lagi. Kamu tahu sendiri bagaimana cintanya mama pada Ayya,” ucap Mukti.
“Dan bilang Made terima kasih. Walau dia nggak bisa datang tapi setidaknya aku sudah kasih tahu.”
“Iya tadi aku pas dekat sini, jadi aku langsung berlari. Made kan jauh. Dia lagi di rumahnya dan sedang ada tamu dari Jepang yang ingin kerja sama dengan dirinya.”
“Okelah sip. Pokoknya salam saja. Aku cuma tak ingin aku dibilang mendiskredit Lingga. Padahal kalian lihat buktinya memang dia lah yang cari perkara.”
__ADS_1
“Kami percaya kepada kamu. Nggak mungkin kamu bikin sensasi murahan seperti itu. Salahnya Lingga kalau dia cari jalan pintas. Padahal dia waktu itu ikut ketika persidangannya Saras. Dia tahu akibat perbuatan bodoh seperti itu. Mengapa dia membiarkan saja tantenya berbuat seperti itu? Benar-benar stupid.”