
“Kenapa Son? Loh ini ada Ayu?” kata Angga yang duluan masuk ke dalam pembicaraan group.
“Iya Eyang, ini aku.” kata Ayya
“Bagaimana kabarmu Yu?” kata Abu yang juga baru masuk.
“Alhamdulillah. Aku sehat Eyang, Papa. Mas Sonny, kita bisa langsung to the point. Aku takut sekali nyalain ponsel ini karena tadi Carlo terus menelepon aku. Begitu pun Mas Mukti, sudah dua kali dia menelepon tapi tidak aku angkat karena sedang bicara dengan Mas Sonny.
“Oh ya sudah. Ada kabar apa?” kata Angga mengerti kondisi Ayya.
“Ini Eyang tadi aku minta Ayu untuk hubungi aku karena kan kita sudah dapat siapa yang kemungkinan dicurigai yaitu Silvana dan Saras. Ternyata Ayu lihat waktu pembukaan Silvana itu ada. dan saat sebelum tragedi maupun sesudah tragedi Ayu lihat Silvana sering berada di pameran. Padahal sekarang kan Mukti sedang di pameran dan dia sedang kacau. Makanya aku takut terjadi sesuatu di sana,” ucap Sonny.
“Mama langsung hubungi Mas Mukti sekarang Ma. Juga hubungi Made dan Wayan Ma,” pinta Ayu dengan ketakutan.
“Bilang mereka jaga Mas Mukti,” tanpa sadar Ayu langsung memerintah Ambar.
__ADS_1
“Oke Mama matiin telepon Mama di sini. Mama dengerin bersama Papa dan Eyang. Mama langsung telepon Mukti dulu sama Wayan dan Made. Mama punya nomor mereka,” ucap Ambar. Dia langsung melakukan panggilan pada Mukti setelah menutup panggilan di group.
“Pokoknya selama Mukti di jaga Made dan Wayan dengan ketat, dia aman kok,” kata Angga menghibur Ayya.
“Bagaimana aman Eyang? Bukankah kemarin mereka bertiga kena semua?” tanya Sonny mengingatkan bahwa mereka bertiga akhirnya kena jebakan sehabis makan siang bersama.
“Oh iya ya,” jawab Angga. Dia baru sadar karena yang dituju Mukti tapi semuanya terkena dampaknya.
“Itu makanya aku tadi langsung minta izin sama Ayu untuk hubungi semua. Tapi sayangnya Ayu nggak mau kalau bicara dengan Mukti,” ucap Sonny.
“Papa, kasih tahu mama jangan sampai Mas Mukti dengar pembicaraan ini. Aku nggak mau bicara kalau mama kasih dengar suara ini ke Mas Mukti di teleponnya Mama,” pinta Ayu pada Abu.
“Kenapa Ma?” tanya Mukti.
“Ini kami sedang bicara dengan Ayu dan Sonny. Ternyata kata Ayu, Silvana itu sejak pembukaan ada di pameran dan berkali-kali Ayu lihat ada Silvana di dekatmu saat pameran. Pokoknya ada di sekitarmu terus,” kata Ambar.
__ADS_1
“Dan dia salah satu kandidat yang Mas Sonny curigai pelaku penjebakmu. Karena itu Ayu minta kamu waspada. Begitu pun Made dan Wayan. Karena kalian bertiga kemarin saja kena barengan, jadi Ayu minta ….”
“Mana Ayyanya Ma? Aku ingin bicara,” potong Mukti.
“Nggak bisa, dia sedang bicara dengan Mas Sonny.” balas Ambar.
“Ya kan itu pasti di grup Ma. Aku ikut lah bicara,” pinta Mukti.
“Sabar ya? Kamu harus sabar. Jangan sampai nanti dia malah tak mau lagi kita hubungi. Ini permintaan Ayu loh. Permintaan dia Mama suruh menelepon kamu, bilang ke kamu agar kamu jaga diri baik-baik karena bahaya mengintai. Begitu pun Wayan dan Made mereka diminta juga jaga diri. Jangan sampai kalian karena masalah lagi. Jangan menghirup apa pun jangan minum apa pun atau makan apa pun di luar yang kalian bawa.”
“Itu pesan Ayu buat kamu lho. Sekarang kurang perhatian apa dia sama kamu? Kalau kamu nggak sabar, Mama nggak bisa bantu. Masih bagus dia sangat perhatian. Berarti kan dia masih cinta kamu. Tenang saja kamunya,” kata Ambar membujuk.
“Iya Ma. Aku tunggu khabar selanjutnya. Tapi bilangin dia ya Ma, aku sayang banget sama Dia,” Mukti sadar, memang benar yang dibilang Ambar. Permintaan Ayya agar dia jaga diri ini adalah tanda cinta Ayya padanya.
“Nggak usah pakai dibilangin, dia juga tahu lah. Sudah pokoknya begitu saja. Bilang sama Made dan Wayan jangan sampai mereka ditawari rokok atau apa pun dari orang lain. Ini pesan yang Ayu bilang. Mama kembali ke dalam untuk bicara lagi dengan Ayu dan Sonny. Ponsel harus Mama matikan, karena kalau HP Mama masih nyala, Mama nggak boleh dekat mereka. Itu sudah syarat dari Ayu,” ucap Ambar.
__ADS_1
“Iya Ma, terima kasih,” kata Mukti. Dia langsung lari mencari dua sahabatnya agar terhindar dari bahaya, karena Made kan perokok berat. Nanti bisa ditawarin rokok oleh seseorang. Wayan walau bukan pecandu rokok tapi dia masih merokok, tak seperti dirinya yang tak merokok sama sekali.