
“Alhamdulillah selesai,” kata Mukti. Dia memeluk erat Made dan Wayan. 6 bulan persiapan sejak di Bali. 1 bulan persiapan di Solo tinggal 3 minggu pameran dan akan ada 1 bulan lagi mereka untuk mengevaluasi dan lalu pulang ke Bali. Mereka berharap semakin cepat menuntaskan pekerjaan sekalian mengurus masalah Silvana yang masih teka-teki.
Ada urusan apa dia sampai menjebak Mukti seperti itu dan apakah benar Silvana yang menjebak membuat video? ‘Kan belum tentu juga. Jadi memang semuanya masih teka-teki.
“Kami pulang duluan ya.” pamit Abu.
“Iya Pa, Ma. Hati-hati ya,” jawab Ayya.
“Sebentar lagi juga aku pulang,” lanjut Ayya lagi.
“Kamu pulang ke mana Yank?” tanya Mukti kaget.
“Ke tempat tinggalku lah,” jawab Ayya.
“Kamu di hotel mana? Aku antar ya,” pinta Mukti.
__ADS_1
“Nggak usah aku pulang sendiri,” Ayya bersikeras.
“Kamu nggak boleh pergi ke mana pun. Kamu harus pulang sama aku atau diantar aku. Itu peraturannya,” jawab Mukti tegas. Ayya tak mau membuat keributan di depan Ambar dan Abu. Dia hanya diam dan memberi salim pada dua calon mertuanya.
Mukti tak mau kehilangan Ayya bagaimanapun juga memang harus menyelesaikan masalah. Tapi tak bisa sekarang. Sekarang dia masih banyak pekerjaan.
“Yang sabar ya. Jangan pakai emosi,” bisik Ambar saat mencium pipi Ayya.
“Iya Ma. Aku akan selesaikan semua dengan kepala dingin,” jawab Ayya.
“Iya Pak. Kami kasih waktu lima hari pada peserta untuk mengosongkan arena. Jadi lima hari ini kami masih rutin ke sini,” jawab Made.
“Kalian baliknya ke mana?” tanya Mukti pada Wayan dan Made.
“Ke rumah aku aja ya. Nggak usah balik ke mess dulu. Aku masih khawatir,” ujar Mukti.
__ADS_1
“Nanti aku ganggu kalian,” balas Made.
“Enggak kok. Kami nggak keganggu,” kata Ayya. Dia tak mau ribut di depan orang lain. Dia menjaga marwahnya Mukti.
Ayya sudah sangat lapar. Sejak tadi mereka semua belum makan. Mukti Made dan Wayan memang tak ada yang berani makan walaupun makanannya mereka yang pesan cateringnya. Tapi tidak berani makan sama sekali.
“Ayo kita makan dulu. Aku udah nggak kuat,” kata Mukti.
“Mas sudah minum obat malam belum?”
“Belum Honey. Aku belum minum obat kan obatnya diminum harus sesudah makan bahkan sejak tadi nggak berani minum apa pun,” jawab Mukti. Mereka bertiga tadi makan nasi goreng hangat dari rumah saat makan siang. Sesudah itu belum makan apa pun lagi. Sore Wayan membuat tiga gelas kopi sachet. Sejak itu mereka belum isi apa pun lagi. “Ya udah ayo sekarang pulang. Mas beresin sini dulu. Kasih perintah untuk semuanya agar bisa ditutup. Lalu besok dilanjutkan pekerjaannya. Mereka juga semua capek kok,” kata Ayya. Kalau sudah begini dia yang over handle. Dia yang memerintah Mukti. Made dan Wayan sudah tahu kekuatan Komang memimpin di belakang layar. Mereka sangat menyadari di balik kesuksesan seorang lelaki ada wanita hebat di sisinya. Itu yang mereka lihat pada Mukti saat ini.
Ayya tak mau Mukti sampai jatuh sakit lagi.
Mukti dan Made langsung memberi tugas pada semua orang satu jam lagi ruangan harus ditutup. Besok pagi baru mulai bekerja lagi jam 09.00 pagi agar tidak terlalu cepat, karena mereka semua lelah.
__ADS_1