
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Maaf tempatnya sedang penuh karena keluarga berkumpul di sini, kamu tidur dengan tamu lain yang belum salin kenal untuk sementara. Nanti kalau yang lain sudah pulang kamu bisa pindah sesuai dengan pesan non Adelia,” kata seorang kepala rumah tangga yang tadi ditunjuk oleh Nona Adelia atas laporan Mukti dan Sonny.
“Iya Ibu enggak apa apa saya mengerti kok. Saya di mana aja enggak apa-apa,” jawab Komang santun. Namanya dia bertamu di rumah orang sedang kena musibah, maka wajar kan dapat tempat seadanya. Komang Ayu ditempatkan satu kamar bertiga dengan beberapa orang tamu.
Sejak datang ke sana Komang Ayu tak bisa diam. Dia membantu sebisanya, entah membawa minuman ke depan atau membawa semua gerabah kotor ke belakang dan mencucinya. Semua yang Ayu lakukan tentu dilihat Mukti, juga Adelia secara selintas melihat asisten Mukti yang banyak membantu orang dapur.
Walau hanya selintas sat lewat tak sengaja, Komang Ayu melihat bagaimana akrabnya keluarga ini. Bagaimana sayangnya Sonny pada Adelia dan Ambar.
Pemakaman selesai, Ayu tidak ikut dia hanya membantu membereskan rumah sat semua pergi. Semua orang di rumah langsung menyapu dan mengepel seluruh rumah.
Komang mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan, dia tetap ringan tangan. Ayu membantu di dapur apa yang bisa dia bantu apa yang dia bisa kerjakan dia tidak mau berpangku tangan beberapa kali Adelia memang melihat tapi tak bisa menegur karena kondisi sedang sangat sibuk.
Malam ini Komang Ayu melihat Ambar sedang menggoda Mukti dan Sonny, terlihat bagaimana akrabnya ibu dan anak. Juga ada kehangatan dengan besannya.
Dari jauh Komang melihat kebahagiaan kedua keluarga besar ini kehangatan yang dia tak pernah punya. Kehangatan yang dia miliki sudah terkubur bersama jasad ibunya.
Komang hanya punya cinta kasih dari ibunya karena dari ayah dan ibu tirinya dia hanya mendapat siksaan.
Sebenarnya Ayahnya baik tapi kalau di depan ibunya ayahnya kalah. Berapa kali ayahnya menegur dan mengucapkan kata-kata manis bila di belakang istrinya. Komang tak bisa menyalahkan karena memang semua terjadi karena kesalahan ayahnya.
Walau ibu tirinya atau majikan ibunya tidak punya anak, tapi menghamili pembantu adalah kesalahan besar.
Walau dari situ bisa ketahuan siapa yang tidak subur, tapi tetap saja yang disalahkan adalah ibunya.
Istri sah ayahnya tak berani minta cerai karena tahu dia mandul, sang ayah tak berani menceraikan istrinya karena dia hidup dari kekayaan istrinya.
Jadilah ibu Komang yang disalahkan dalam kejadia kehamilan itu.
Keluarga ayahnya juga nggak bisa berkutik walau tahu ada cucu dari anak mereka tapi kekuatan uang istri sag dari ayahnya membuat keluarga ayahnya juga tak berani membela Komang.
Komang tak tutup mata sesekali memang ayahnya memberi uang secara sembunyi, sembunyi, tapi dalam jumlah sangat kecil dan sangat jarang.
Komang tak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibu dalam keluarga hangat. Kalau saja Ayahnya bisa hidup dengan Ibunya walau sembunyi-sembunyi tentulah nasib Komang tak akan sekering ini dalam hal kasih sayang.
__ADS_1
"Sudahlah nggak usah ngomong masa lalu dan berharap banyak dari ayah," Komang bicara sangat pelan dan menjauh dari keluarga itu karena dia merasa dia tidak bertugas saat ini. Komang melihat Mukti sedang sibuk bersama dengan para keluarganya.
Komang merasakan getar disakunya. Dia tak mengaktivkan nada dering. Hanya getar saja. Komang melihat ada missedcall dari pak Mukti.
‘*Ada apa ya pak Mukti missedcall*?’
Ayu langsung menghampiri Mukti, dia tahu pak Mukti missedcall itu bukan untuk bicara di ponsel karena mereka satu lokasi. Itu pasti pak Mukti minta Ayu menghampirinya.
“Bu maaf saya ke depan dulu dipanggil Pak Mukti,” pamit Komang Ayu kepada para ibu yang sedang membereskan kue untuk dihidangkan ke depan.
“Iya mbak Komang Ayu,” kata seorang ibu yang tahu tadi sudah berkenalan.
“Ada yang perlu saya kerjakan Pak?” tanya Komang saat berhasil menemui Mukti di teras belakang.
"Besok pagi kamu ikut saya ke pengadilan," Mukti menerangkan alasan dia memanggil Komang.
"Jam berapa Pak?" tentu hal ini harus Komang tanya agar dia tak salah jadwal.
"Loh bagaimana saya mau siapin baju Bapak, sedang saya tak tahu di mana letak lemari yang harus saya ambil baju untuk Bapak?"
"Kalau sarapan saya akan siapkan karena saya bisa bekerja sama dengan petugas dapur di sini. Boleh saya catat apa yang tak Bapak sukai dan yang Bapak suka sebagai menu sarapan?"
"Saya suka kopi tidak terlalu manis tidak terlalu kental," kata Mukti.
"Baik Pak .Apa Bapak pernah mencoba kopi yang saya buat waktu di cafe?" tanya Komang
“Oh iya seperti itu, saya mau yang seperti itu. Kamu bisa meraciknya lagi buat saya,” Mukti jelas ingat karena semua rekannya suka dengan kopi racikan Komang Ayu.
“Iya Pak akan saya buat seperti itu.”
"Kalau sarapan apa saja boleh roti boleh nasi atau yang lain nggak apa apa yang penting kopi harus siap lebih dulu saat saya bangun." Mukti memerintah Komang soal kemauannya.
"Baik Pak."
__ADS_1
"Kita mungkin berangkat bareng mamaku dan eyang, Karena mas Sonny akan antar Adelia ke rumah sakit dulu, baru dia ke pengadilan."
"Apa bu Adelia sedang sakit?"
"Bukan, Adelia itu dokter kandungan. Dan papanya itu pemilik Rumah Sakit, mamanya dokter anak. Jadi Adelia ke rumah sakit bukan karena ingin berobat."
"Saya mengerti Pak," kata Komang.
'*Jadi orang kaya ini pemilik Rumah Sakit . Wow benar-benar orang hebat*.' Komang baru sadar dia berada di rumah pemilik rumah sakit.
"Ya sudah sekarang kamu tidur."
"Baik Pak Terima kasih."
Sesuai tugas yang buktikan pagi ini Komang Ayu langsung membuat kopi untuk Mukti, dia sudah diberi ancer-ancer kopinya Mukti itu maunya seperti apa dia tidak mau kopi yang terlalu kental dan terlalu manis itu yang Mukti bilang.
Maka pagi ini kopi seperti itu yang disiapkan oleh Ayu buat Mukti
Komang Ayu langsung bersiap setelah dia selesai mengerjakan perintah Mukti. Komang Ayu menggunakan kemeja polos biru dengan kulot panjang dari batik dengan garis berwarna biru.
“Mbak saya boleh minta bedaknya sedikit enggak? Saya enggak bawa bedak atau pun lipstik,” Komang Ayu meminta bedak pada sesama penghuni kamar di rumah Adelia itu.
“Pakai aja punya saya,” seorang tamu menjawab permintaan Komang Ayu.
“Minta sedikit ya Mbak, keburu-buru kemarin saya sampai tidak bawa apa pun,” jelas Komang Ayu.
“Pakai saja, sudah wajar kalau keburu-buru sampai tidak bawa apa-apa,” jawab yang lain.
“Baik Mbak, terima kasih. Saya keluar duluan nanti ditunggu pak Mukti karena kami mau berangkat ke pengadilan,” jawab Komang Ayu setelah dia selesai mengoles bedak secara tipis ke wajahnya.
“Sama-sama Mbak Komang. Sampai ketemu, mungkin nanti kalau Mbak Komang datang saya sudah pulang karena hari ini kami langsung pulang ke Bandung.”
“Wah begitu, sampai jumpa kalau begitu. Jangan lupa saling kirim khabar, kan tadi malam sudah tukar nomor,” jawab Komang Ayu.
“Iya sampai jumpa.” Akhirnya mereka pun berpisah.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok
__ADS_1