
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Wah saya tidak bisa kasih nomor telepon saya Pak,” Komang Ayu menolak permintaan dua orang lelaki dari Kalimantan dan Jawa Barat.
“Aku ingin berhubungan personal dengan kamu Komang. Jangan membatasi diri dan jangan kaku menggunakan kata saya seperti itu.”
“Maaf tidak bisa Pak. Saya di sini hanya asistennya pak Mukti, jadi saya tidak ada urusan personal dengan siapa pun.” Komang Ayu terus menghindar.
“Oke aku akan minta nomor kamu ke Mukti secara langsung aja. Kalau perlu aku akan minta pada Mukti agar membolehkan kamu jadi sekretarisku,” jawab seorang dari dua lelaki gagah tersebut.
“Silakan Pak, kalau memang Pak Mukti memberikan. Mohon maaf saya tak ingin mendapat kesulitan bila pak Mukti tahu saya menyebarkan nomor ponsel saya untuk urusan personal,” kata Komang.
‘*Wah hebat nih, Komang Ayu, dia benar-benar tak mau terlibat personal*,’ kata Trisno. Trisno jelas mendengar semua itu karena dia berdiri di belakang Komang Ayu. Saat ini sedang jam makan siang. Semua dipersilakan self service.
“Kamu enggak makan siang?” tanya Trisno pada Mukti saat dia kembali ke ruang pertemuan dan bertemu dengan Wayan dan Mukti.
“Sudah barusan aku makan bersama Wayan,” jawab Mukti.
“Oh pantes Komang Ayu sendirian, dia dikejar dua orang lelaki yang minta nomor teleponnya juga menginginkan dia jadi sekretaris pribadinya. Tapi Komang enggak kasih karena dia enggak ingin ada urusan personal disini. Tapi kalau nanti di luar dia bersedia pindah kerja ya bisa aja sih.”
“Hebat tuh asisten mu, aku salut sama dia. Banyak penggemarnya di sini selain dua orang tadi juga ada beberapa orang yang berkenalan dengannya.”
__ADS_1
“Aku yakin kalau dia tipe yang sembrono nomor teleponnya langsung akan tersebar di sini.” Ucap Trisno bersungguh-sungguh.
“Sayang ya majikannya enggak peduli sama dia. Dia dibiarkan sendirian di lokasi yang asing buat dia, padahal seharusnya dia bukan peserta rapat,” ulas Wayan.
“Masih bagus dia bisa bertahan dengan ruang lingkup asing. Kalau aku jadi Bosnya pasti akan aku lindungi. Semoga dia terima tawaran pekerjaan dari seorang penggemarnya tadi yang bilang akan buat Komang Ayu kerja sesuai jam kantor dari jam 08.00 hingga jam 17.00 dari hari Senin hingga hari Jumat saja. Enggak seperti sekarang yang jam kerjanya tak tentu dan tidak tahu berapa perhitungan lebur di luar jam kerjanya,” kata Trisno sambil kembali ke tem\[pat duduknya sebelum makan siang tadi.
Mukti merasa tertembak dengan kata-kata Trisno barusan, dia memang membiarkan Ayya di lahan yang serba asing. Seperti membiarkan Komang Ayu tersesat di hutan belantara tanpa ada jalan keluar.
Habis makan Komang Ayu pergi ke mushola, dia membersihkan diri dan sholat di sana sampai batas waktu yang ditentukan untuk masuk lagi.
\*‘*Dia ke mana* ya dari tadi aku cari kok enggak ada.’ \*batin Mukti sambil celingak celinguk.
Mukti tidak mencari di mushola karena tidak berpikir Ayya ada di sana. Tadi Mukti salat lebih dulu sebelum makan. Jadi dia tidak berpikir balik lagi, sedangkan Komang makan dulu baru salat jadi memang mereka berselisih jalan.
‘*Dia belum balik*?’ tulis Mukti pada Wayan.
‘*Kamu lihat sendiri kan kursi sebelah aku masih kosong. Buat apa kamu tanya, ya pasti belum balik lah*,’ Wayan membalas pesan yang Mukti kirim.
‘Dia ke mana?’ tanya Mukti selanjutnya.
\*‘Mana aku tahu? Aku enggak punya nomornya dan tadi aku makan sama kamu. Dia kan kamu lepas makan sendiri, ya udah aku nggak tahu dimana dia saat ini,’ \*jawab Wayan.
__ADS_1
Akhirnya Mukti pun menghubungi nomor ponsel Komang Ayu. Sayang nomor Komang Ayu sedang sibuk tak bisa ditelepon oleh Mukti.
\*‘Pasti dia lagi pacaran,’ \*pikir Mukti dengan geram karena nomornya Komang Ayu sedang sibuk bicara.
\*‘Kamu di mana dan lagi sibuk apa?’ \*tulis bukti dia memang akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan saja karena tak bisa menghubungi Ayu.
Tak lama Mukti melihat Ayya masuk ke ruangan, wajahnya sudah fresh karena habis berwudhu. Bukan habis dandan tapi Mukti berpikir Ayya habis merias wajahnya kembali karena sudah punya banyak penggemar di ruangan ini.
“Dari mana?” tanya Wayan sambil berbisik.
“Aku dari mushola Kak, habis salat,” jawab Ayya sambil mengeluarkan laptopnya dari ransel dan mulai menyalakan kembali.
“Kok telat?” Wayan masih menggali informasi.
“Aku dapat telepon dari Papaku, kami ngobrol sebentar.”
“Oh begitu. Kamu mau pulang ke Badung?”
“Iya Kak, minggu depan kami, maksud aku pak Mukti akan pulang ke Bali sehabis lamaran kakaknya dari Jakarta. Jadi aku akan pulang ke Badung juga karena Pak Mukti memberi izin.”
“Baguslah,” kata Wayan. Lalu mereka langsung sibuk dengan meeting hari itu.
Sehabis bicara di telepon dengan papanya tadi Ayya melihat ada panggilan tak terjawab dari Mukti juga pesan tertulis. Dia segera masuk ruangan karena merasa tak perlu menjawab pesan tersebut. Dia tahu sudah salah, terlambat masuk ruang meeting beberapa menit.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.