
“Enaknya aku tanya enggak ya masalah Carlo? Tapi kalau aku tanya nanti dia pasti curiga. Dia kira aku memata-matai dia.”
“Sudahlah. Biarin aja dia enggak perlu ditegur. Aku yakin dia masih mengenang kata-kata cinta dari artis itu tadi malam,” gumam Mukti pelan.
“Walaupun Ayya sudah menerima Carlo, aku tetap tidak akan mundur!” kata Mukti pasti.
“Kamu melamun?” tanya Mukti.
“Ayya kamu ngelamun?” tegur Mukti lebih keras agar Ayya tahu.
“Eh … kenapa Mas?” tanya Ayya gugup.
“Kamu ngelamunin apa?” selidik Mukti.
“Aku enggak ngelamun,” jawab Ayya asal.
“Kamu lihat seberapa banyak nasi yang kamu ambilkan untuk aku.” perintah Mukti.
__ADS_1
Ayya kaget melihat piring Mukti sudah penuh dengan nasi, beberapa bulir sudah terjatuh di meja, tapi dia masih terus mengambilkan.
“Eh maaf Mas. Maaf,” Ayya lalu mengembalikan nasi dan memberikan porsi yang sesuai dengan kebiasaan Mukti. Kalau sarapan tentu Mukti tidak banyak nasi. Beda dengan porsi makan siang dan makan malam.
“Kalau mau ngelamun silakan aja di kamar. Enggak usah makan. Mungkin cinta memang seperti itu, lebih enak di lamunkan daripada makan atau kegiatan lainnya,” kata Mukti. Dia mengambil piring kosong lalu menuang nasi sendiri juga sayur dan telur.
Ayya hanya melihat piring yang sudah berisi nasi di tangannya ketika melihat Mukti mengambil nasi sendiri.
Nasi di piring dituang lagi separuh ke dalam majic jar dan Ayya pun makan dengan diam. Ayya sadar bahwa sejak tadi dia salah.
Mukti sama sekali tak bicara sampai selesai sarapan. Mukti terluka melihat Ayya hanya melamun memikirkan cinta Carlo.
Tentu saja di pengadilan akan bertemu dengan teman-teman Mukti yang semalam datang.
“Iya Mas,” jawab Ayya dengan tertunduk. Ayya tahu Mukti sudah sangat marah pada dirinya.
“Bu, aku lupa ternyata aku dan pak Mukti mau pergi ke pengadilan. Jadi singkongnya enggak jadi digoreng buat cemilan pagi. Tapi kalau mau dimakan, makan aja enggak apa apa kok,” kata Komang Ayu saat membawa piring kotor ke belakang.
__ADS_1
“Oalah Mbak Komang, kenapa sih sampai ngelamun enggak sadar kalau hari ini mau pergi,” Bu Pinem melihat hari ini Komang terlihat lesu. Tak seperti biasanya.
“Iya Bu, saya lupa sampai barusan Pak Mukti marah-marah karena saya mengambilkan nasi sampai nasinya hampir tumpah karena kepenuhan. Saya terus aja menambahkan karena saya ngelamun,” ucap Komang Ayu penuh penyesalan.
“Jangan seperti itulah Mbak. Berbahaya kalau ngelamun, terlebih kalau di jalan. Bisa tertabrak nantinya, lupakan aja semuanya enggak usah dipikirkan. Kalau memang mau dipikirkan pikirkanlah di kamar, sehingga tidak membahayakan Mbak Komang sendiri nantinya,” kata Bu Pinem menasehati gadis tersebut.
“Iya Bu, maaf ya. Memang saya sedang tidak jernih pikirannya,” kata Komang Ayu.
“Iya iya, sudah sana bersiap nanti keburu Pak Muktinya tambah marah lagi,” bu Pinem tak ingin gadis yang biasanya ceria tambah sedih bila dimarahi majikan mereka.
“Iya Bu, maaf ya nggak bantuin beres-beres bekas sarapan pagi. Pak Mukti bilang nunggu di mobil. Biasanya kan keluar dari sini bareng sampai mobil. Ini enggak, dia bilang akan nunggu di mobil aja.” jawab Komang Ayu lagi.
“Ya sudah sana cepat bersiap,” kata Bu Pinem memberi semangat kepada Komang Ayu.
__ADS_1
