
Sri jadi tidak konsen kerja, dia bingung karena tak bisa menghubungi Komang Ayya. Dia akan menghubungi beberapa teman yang mungkin Komang Ayya kunjungi.
‘Tapi mereka semua kan ada di Jakarta?’ akhirnya Sri membatalkan niatnya. Dia sadar kalau hal itu dilakukan nanti malah heboh. Semua pasti bertanya-tanya mengapa Sri mencari Komang Ayya.
Sri benar-benar bingung padahal sejak hari Sabtu dan Minggu ketika kasus itu terjadi Komang Ayya sama sekali tak bercerita apa pun. Bahkan saat Komang Ayya sudah pulang dari ruang pameran Komang Ayya sama sekali tidak mengeluh atau menangis atau curhat padanya. Sama sekali tidak ada. Jadi Sri hanya mereka-reka saja di dalam benaknya. Sekarang Bu Ambar bertanya pada dia, kan dia jadi bingung.
‘Pasti Komang Ayya bilang pada bu Ambar kalau Komang Ayya pergi ke tempatku,’ pikir Sri.
Pak Parman juga bingung saat pak Abu bosnya, pemilik rumah bertanya tentang non Ayya. Pak Parman langsung bilang bahwa Ayya pergi membawa travel bag dan mengatakan akan ke tempatnya Sri.
__ADS_1
“Travel bag yang mana?” tanya Pak Abu.
“Yang besar sekali Pak. Bukan yang kecil,” tentu saja Abu kaget. Abu tak habis pikir ke mana anak perempuannya itu akan pergi sedang dia tak punya saudara di Solo ini.
‘Kalau Ayya pergi ke Badung rasanya itu tak mungkin,’ pikir Abu.
‘Mukti pasti akan langsung mencari ke sana. Paling tidak saat ini juga Mukti pasti akan menyuruh orang untuk mengecek keberadaan Ayu di Badung. Jadi tak mungkin Ayu akan langsung menuju Badung,’ Abu terus berpikir tentang Ayya.
‘Pasti anak itu berpikir nanti eyang Angga akan syok menerima video tersebut. Anak itu memang benar-benar hebat,’ kata Abu dalam benaknya.
__ADS_1
‘Apa dia pergi ke Jakarta ya? Bisa saja kan dia pergi ke Jakarta ke tempat pekerjaannya yang dulu. Kan di sana nggak ada yang tahu?’ kata Abu dia benar-benar menduga apa yang sedang di pikir oleh anak perempuannya tersebut. Dilihatnya istrinya hanya tunduk dengan meneteskan air mata.
“Coba cek lagi ke Sri Ma. Kali saja sekarang sudah sampai di tempatnya Sri.” pinta Abu.
“Sri nya panggil ke sini saja gampang kan? Bisa kita tanya benar ada apa enggak,” jawab Ambar yang sudah tak ada harapan lagi. Karena Sri memang ada di kantor ini di bagian kantin.
“Nggak usah lah. Nanti malah heboh ada pegawai kantin masuk ke ruang CEO. Sudah Mama telepon saja atau telepon ke nomor kantin,” kata Abu.
Angga juga sedang bingung memikirkan ke mana cucu perempuannya tersebut. Sedang Mukti masih menangis dia benar-benar kaget ketika mengetahui dari Abu bahwa Ayya sudah pergi meninggalkan rumah mereka.
__ADS_1
‘Seharusnya memang sejak kemarin aku cerita sama mama dan papa minta pendapat. Bukan aku coba memecahkan persoalan ini sendiri. Aku juga harusnya langsung memanggil Ayya untuk mengakui semuanya sehingga tidak seperti ini. Sekarang aku sudah kehilangan cahaya hidupku. Entah apalagi yang harus aku hadapi. Tapi yang pasti aku tidak mungkin menikahi perempuan itu. Lebih baik aku mati kalau harus menikahi perempuan itu. Biar bagaimana pun aku tak pernah mencintainya. Bahkan kenal pun tidak. Baru satu kali itu bertemu. Benar-benar baru satu kali aku ketemu. Kalau ada anak sekali pun tidak akan mungkin aku menikahinya. Tidak akan mungkin,' kata Mukti berkali-kali dalam pikirannya. Yang terlihat dia hanya sedang menggeleng saja.
Mukti benar-benar tak percaya telah dijebak seperti ini. Dia yakin ini jebakan karena dia ingat terakhir dia sedang makan siang bersama Wayan dan Made.