
‘Dia bisa nyetir? Apa aku kasih dia mobil pribadi aja ya? Tapi kalau dia aku kasih mobil, percuma juga. Aku inginnya dia selalu ada di samping aku kapan pun. Padahal rasa ini tak pernah aku miliki waktu sama Vio!’
‘Ah seharusnya aku tidak boleh membandingkan Ayya dengan Vio. Tapi mau bagaimana lagi? Pasti terbandingkanlah. Namanya Vio itu pernah jadi orang yang dekat dengan aku, bahkan pernah jadi istri siri aku. Tapi memang benar, rasa ini tak pernah ada saat berhubungan dengan Vio. Mungkin ini yang dialami Mas Sonny pada kak Adel.’
Mukti mendekati Ayya dia duduk di tepi ranjang. Dia tarik kursi Ayya dan dia putar agar Ayya mengarahkan wajahnya berhadapan dengan Mukti.
“Dengerin Mas ya. Dengerin! Mas minta maaf. Serius minta maaf.”
“Mas nggak salah kok. Sudah nggak usah dibahas,” jawab Ayya datar.
__ADS_1
“Kamu nggak bisa bilang seperti itu, karena Mas tahu kamu marah. Jadi please kita selesaikan. Jangan bikin ganjalan di hati kita berdua. Mas nggak mau panas lagi. Mas nggak mau tertekan lagi,” balas Mukti menghiba.
‘Apa hubungannya sama panas?’ batin Ayya. Dia terluka, bukan marah. Ayya hanya diam tak mau menjawab. Dia biarkan Mukti melanjutkan kata-katanya.
“Sebenarnya kemarin Mas sakit itu karena Mas sangat tertekan. Mas nggak bisa ngomong apa pun. Mas nggak bisa cerita ke siapa pun saat kamu bilang : Buat Mas mungkin sudah biasa meluk perempuan bahkan lebih dari itu pun Mas juga biasa. Tapi buat aku kan aneh Mas. Aku serius nanti jadi nggak bisa merem. Jadi lebih baik janganlah. Itu kata-katamu kemarin waktu Mas minta tidur meluk kamu.”
“Mas merasa sangat rendah mendengar kata-katamu itu. Kamu bilang Mas biasa meluk perempuan bahkan lebih dari itu, seakan-akan kamu bilang Mas adalah player. Mas terbiasa dengan banyak perempuan di luar sana. Padahal demi Allah hanya pernah satu perempuan yang Mas peluk bahkan making love dengan dia. Semua itu seperti yang Mas bilang berawal dari dia dikasih obat oleh neneknya. lalu Mas hanya memeluk untuk meredakan gejolak dia. Tapi saat itu namanya manusia akhirnya Mas terangsang dan kami melakukan. Untuk selanjutnya seperti yang kamu tahu sampai saat ini hanya satu perempuan itu yang pernah Mas gauli. Itu pun 7 tahun sesudah bertemu lagi kami melakukannya setelah menikah. Jadi bukan saat seperti ketika Mas SMA dulu. Serius Mas tertekan dengan kalimatmu itu. Itu kenapa mama datang karena cuma mama yang tahu, kalau Mas sudah tertekan Mas langsung panas. Dan ini adalah kejadian kedua sejak masa SMP.” Jujur Mukti mengatakan pangkal sakitnya kemarin.
“Maksud aku tuh bukan menyebut Mas seorang player, bukan itu maksud aku. Mas sudah terbiasa memeluk seorang perempuan bahkan melebihi itu jadi bukan pada semua atau banyak perempuan tetapi masih pernah melakukan itu dan lebih dari peluk. Bukan menuduh Mas dengan banyak perempuan,” bantah Ayya.
__ADS_1
“Yang Mas tangkap seperti itu. Itu membuat Mas stres karena Mas sadar di depan mata kamu Mas itu sudah tidak ada harganya sama sekali,” bisik Mukti lirih.
Ayya tak kuasa mendengar kata-kata Mukti, dia pun lalu berdiri dan dari kursinya dan memeluk Mukti. Ayya tak menyangka kata-katanya itu yang membuat Mukti sampai sakit jadi dia juga tak ingin kata-katanya bahwa Mukti merantai dirinya akan membuat lelaki tersebut kembali sakit.
“Maafin aku Mas. Maafin. Aku nggak berniat menuduh Mas sebagai player. Maksud aku yaitu tadi, bahwa Mas pernah melakukan yang lebih dari pelukan,” Ayya tak sadar bahwa dia sekarang sedang memeluk lebih dulu. Mukti pun membalas pelukan kekasihnya.
Mukti sekarang tenang. Memang seperti yang mama Ambar bilang, dia harus selalu mengeluarkan apa yang dipikirkannya pada Ayya karena dua kepala itu pasti akan sering terjadi salah paham. Seperti yang tadi malam mereka lakukan. Ayya bilang merasa dirantai dan Mukti bilang terserah kamu silakan lakukan apa pun.
“Sama-sama ya. Maafin Mas juga. Mas juga nggak berpikir waktu bilang kamu bebas melakukan apa pun sejak hari ini, itu akan melukaimu. Maafin Mas,” kata Mukti.
__ADS_1
Ayya pun melepas pelukannya tapi tidak dengan Mukti. Dia memegang kedua pipi tunangannya. dia pandang wajah Ayya lekat. Dia lihat di mata itu tak ada penolakan sama sekali.