CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
NASI GORENG KAMBING SPESIAL


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Kamu bikin kopi buat siapa?” tanya Bu Parman pagi ini.



“Buat Mas Mukti, Bude,” balas Ayya.



“Apa Mas Mukti tidur sini?” tanya Bu Parman.



“Iya Mas Mukti dan eyang Angga sudah tidur sini,” jawab Ayya, tadi malam memang Bu Parman tidur lebih dulu sebelum semuanya selesai.



“Oh gitu ya wis ibu mau bikin sarapan buat kita kalau gitu,” kata Bu Parman. Biasanya di rumah ini hanya dia berdua suaminya. Sehabis salat subuh biasanya mereka berdua ke rumah kontrakan untuk membantu bu Ambar. Kalau sudah pada menginap sini ya dia harus masak.



“Mau bikin apa Bude sini ta’ bantuin,” Ayya menawarkan bantuan.



“Enggak masak apa-apa. Tadi malam sate kambing masih banyak belum  dicampurin bumbu. Itu saja dipanaskan,” jawab bu Parman.



“Nasi juga masih ada karena tadi malam kan sate Padangnya pakai lontong,” jelas bu Parman.



“Jangan dipanaskan Bude, biar aku bikin nasi goreng kambing aja. Dari bumbu sate kambing kan kecap sama cabenya bisa jadi bumbu, nggak repot.” Ayya berinisiatif bikin nasi goreng kambing saja daripada sate dan nasi hanya dipanasakan buat sarapan.



“Sini, wis aku aja yang bikin,” kata Ayya lagi.



“Ya sudah Bude nyerah. kam yang masak nasi goreng kambing,” ucap Bu Parman. Dia segera ke rumah lama.



Ayya pun langsung membuat nasi goreng kambing dari sate yang tadi malam tersisa banyak, juga bumbu sate dan nasi.



Sebagai pelengkap Ayya  buat irisan tomat, irisan timun juga ada toge  pendek dari kulkas. Ada kerupuk dan juga ada emping di toples meja dapur.



“Pagi Mbak,” sapa Aksa.



“Kok ke sini Dek? Bukannya mau sekolah?” tanya Ayya sambil mengatur piring juga sendok dan garpu di meja makan.



“Iya tadi malam charger ku ketinggalan, jadi aku mau ambil,” Jawab Aksa.



“Sarapan dulu. Ini Mbak sudah bikin nasi goreng kambing lengkap sama sayuran pelengkapnya,” ujar Ayya.



“Aku mau deh Mbak,” kata Aksa. Dia pun duduk manis, Ayya menyendokkan nasi goreng kambing hangat.



“Sayurannya mau pakai irisan tomat, timun atau toge?” tawar Ayya.



“Pakai semua dong,” jawab Aksa.



 ”Ya sudah ini,” kata Ayya.


__ADS_1


“Mbak bikinin kamu teh ya,” lalu Ayya membuatkan teh membiarkan Aksa makan sendirian.



Mukti yang baru keluar kamar kaget melihat Aksa sedang sarapan dengan lahap.



“Weh kok tumben makan di sini. Memangnya mama enggak masak?”



“Aku tadi berangkat lebih cepat sudah makan roti sih. Mama bikinkan aku roti. Rumah ini kan memang kelewatan jadi enggak aneh aku ke sini. Dan sekarang pacarku kan ada di sini,” jawab Aksa santai.



“Iiiih, nasi gorengnya enak banget. Enaaaaaaaaaak banget,” kata Aksa.



“Biasa aja kali,” jawab Mukti. Dia kesal Aksa bilang pacarnya ada di sini. Enggak mungkin bu Parman kan?



“Enggak, ini mbak Ayu yang masak. Emang enak banget. kalau Bu Parman yang masak enggak bakal kaya gini,” kata Aksa sambil terus mengunyah.



Mukti memang melihat ada irisan tomat, timun serta toge. kalau Bu Parman yang bikin hanya ada irisan timun, tidak mungkin ada irisan tomat atau sayuran lainnya.



Saat itu Ayya datang membawa dua gelas teh, satu untuk dirinya, satu untuk Aksa.



“Mbak enggak makan?” tanya Aksa.



“Nanti aja, Mbak makannya bareng-bareng yang lain,” jawab Ayya.



“Bareng aku aja Mbak enggak apa-apa,” kata Aksa.




Ayya tak menyapa Mukti dia masih kesal akibat persoalan kemarin dia dituduh pacaran dengan Arjun. Padahal semalam Mukti juga kesal karena mendengar Ayya dapat telepon dari Arjun.



“Pagi Eyang,” sapa Ayya.



“Eyang biasanya pagi minumnya apa? Aku tadi belum tanya bude Parman. Maaf kalau aku lupa,” kata Ayya.



“Eyang teh aja enggak apa apa. Mungkin su5u Eyang masih di rumah lama, jadi belum bisa kamu bikinkan,” jelas Angga.



“Aku bikinkan teh pakai madu mau?” tanya Ayya.



“Boleh teh pakai madu,” Angga tak menolak tawaran Ayya.



“Eyang mau ta’ ambil kan sarapan dulu?” kata Ayya.



 ”Mukti dari tadi di sini kamu enggak tawarin sarapan,” goda Angga yang melihat Mukti masih memegang cangkir kopi miliknya saja.



“Kalau Pak Mukti kan bisa ambil sendiri. Kopinya kan yang penting sudah siap,” jawab Ayya.



“Segini Eyang?” tanya Ayya memperlihatkan nasi yang dia ambilkan untuk Angga.


__ADS_1


“Eyang enggak apa apa kan ada cabenya sedikit? Enggak terlalu pedas sih,” beritahu Ayya.



“Enggak apa-apa kok, eyang kuat,” jawab Angga.



“Ya cukup segitu.”



“Pakai timun, tomat, dan toge?”



“Eyang pakai tomat sama toge aja, timunnya enggak suka,” jawab Angga.



“Baik eyang, jangan tambah emping. Eyang tambah kerupuk aja, karena sudah kambing. Enggak boleh sama emping,” larang Ayya.



Aksa tertawa terbahak-bahak mendengar larangan dari Ayya.



“Kenapa Dek ada yang salah?” tanya Ayya, dia jadi enggak enak.



“Aku senang ada Mbak Ayu di sini,” jawab Aksa.



“Sekarang eyang Angga jadi ada satpamnya, biasanya yang jadi satpam itu Kak Adel. Tapi Kak Adel kan jarang ketemu, eh sekarang ada mbak Ayu disini, aku suka nih.”



“Tapi kan mbak cuma sementara, nanti kan aku juga balik ke Badung,” jelas Ayya.



“Yaaaah, harusnya mbak Ayu di sini aja. Biarin aja Mas Mukti yang ke Badung. Mbak Ayu nya tetap di sini,” harap Aksa.



“Sudahlah, aku mau bikin teh buat Eyang dulu,” Ayya pun meninggalkan meja makan.



Penasaran dengan nasi goreng kambing, Mukti pun langsung mengambil satu piring. Lengkap dengan sayuran dan kerupuk.



‘*Eh beneran enak, ini memang beda*,’ kata Mukti dalam hatinya. Tapi dia tak berani mengakui di depan Aksa, yang tadi jelas-jelas memuji hasil masakan Ayya.



“Mbak, aku pamit ya terima kasih sarapannya. Besok aku sarapan sini lagi deh,” kata Aksa.



“Besok kan belum tentu Mbak yang masak,” jawab Ayya, dia baru meletakkan teh untuk Eyang Angga.



“Ini seriusan enak nasi goreng kambingnya,” kata Angga.



“Matur nuwun Eyang kalau suka dengan hasil olahanku,” jawab Ayya.



“Sudah kamu makan aja, enggak usah nungguin siapa-siapa. Kan cuma kita yang makan di sini,” kata Angga.



“Oh iya ya, Aku pikir papa dan mama juga sarapan di sini,” kata Ayya.



“Enggak, mereka sarapan di sana,” kata Angga. Maka Ayya pun mengambil nasi dia mulai sarapan. Ayya ingat satu tahun terakhir dia sangat sedikit makannya karena satu porsi makan siang dia jadikan buat makan siang dan makan malam. Dia memang benar-benar berhemat demi mengirim uang buat beli obat almarhum ibunya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.


__ADS_1


__ADS_2