
“Tumben mama beliin kemeja aku biasanya mama hanya belikan aku T shirt saja. Dan pas lagi ukurannya. Biasanya mama kalau beliin aku pasti ada kekurangannya dan enggak pernah belikan kemeja karena tahu aku enggak pakai kemeja kalau sehari-hari. Tapi kok motifnya gini Yah? Kok kayak motif *sarimbit *( couple atau pasangan ) dan warnanya kenapa warna kesukaan Ayya?” kata Mukti saat mencoba kemeja yang tadi diberikan oleh Ambar. Dia memutar di kaca melihat kemeja itu sangat pas di tubuhnya dan enak dipakai.
Baju couple yang dia punya biasanya untuk kondangan selalu tangan panjang bersama dengan Ayya. Ini satu-satunya kemeja tangan pendek yang dia miliki karena biasanya dia tidak suka kemeja tangan pendek.
Kemeja batik hanya dia gunakan untuk acara resmi, selebihnya dia hanya pakai kaos. Jarang Mukti pakai kemeja. Kalau pun ada kemeja pasti motif kotak-kotak bukan salur. Itu pun akan dia gulung 3/4 dan tidak dia kancing jadi hanya sebagai pelapis kaos. Itu kebiasaan Mukti sehari-hari bila keluar. Kalau di rumah Yah hanya kaos-an saja. Entah kaos dengan kerah maupun tidak dengan kerah. Dia tak punya kemeja batik tangan pendek sama sekali.
“Ini enaknya celananya apa Yah? Nggak mungkin kan aku pakai ungu? Aku enggak punya celana ungu pula. Putih kayanya terlalu rame. Apa hitam saja?” kata Mukti pada bayangannya di cermin.
“Yah sudahlah, hitam saja. Hitam yang waktu buat tunangannya mas Sonny kan ada di sini, tidak dibawa pulang ke Bali kayanya. Eh, tapi waktu itu kan dari Jakarta langsung ke Bali?” pikir Mukti sambil mencari celana hitam yang dia maksud di lemarinya.
“Ah, ternyata ada di sini,” Mukti senang melihat ada celana hitam di tumpukan ****** ***** lemarinya.
“Tapi celana jeans hitam ini juga bagus kok. Masih baru. Pakai yang kain apa yang jeans Yah?” kata Mukti. Dia bingung sendiri.
__ADS_1
Akhirnya dia keluarkan dua celana hitam itu baik yang jeans maupun yang celana bahan kain chino.
Sonny tak percaya data yang dia dapat saat ini jauh dari dugaannya.
*‘Kalau aku bilang sekarang tentu besok pembukaan akan terganggu karena konsentrasi Mukti pasti pecah. Tapi aku nggak bilang rasanya berat. Aku harus bagaimana ya?’ *begitu batin Sonny saat membaca email dari detektif yang dia suruh saat itu dia hendak sarapan.
“Kenapa Yah?” tanya istrinya.
“Ayah dapat email dari detektif yang Ayah suruh. Enaknya hasil ini kita share ke mama, papa dan eyang atau bagaimana? Masalahnya kalau kita share nanti konsentrasi Mukti untuk besok akan terganggu,” Sonny meminta pendapat Adelia.
“Besok penutupan pameran. Hari ini dia sedang jungkir balik untuk persiapan penutupan. Tentu dia jadi tidak konsentrasi ingin segera balas dendam bila tahu dugaan siapa yang membuat Ayya dan dia bermasalah.”
“Tapi nanti mama dan papa pasti tanya. Ayah kan sudah janji kasih tahu mereka jam 08.00 pagi ini,” ucap Sonny.
__ADS_1
“Kalau sudah dijanjikan seperti itu, mama dan papa pasti nagih.”
“Iya juga itu yang Ayah bingungkan,” balas Sonny.
“Yah, sudah kirim saja pesan. Bilang kita akan ngobrol saat tidak ada Mukti. Saat Mukti ke ruang pameran, sehingga Mukti tidak terganggu konsentrasi untuk persiapan penutupan pameran,” saran Adelia.
“Oh iya begitu saja,” kata Sonny. Dia segera mengirim pesan pada Angga serta Abu dan Ambar.
‘Ma tolong bilang Ayu juga begitu baca pesan Mama segera hubungi Mama atau hubungi aku, penting! Masalah siapa pelaku utama yang membuat dia seperti itu,’ tulis Sonny.
*‘Kamu langsung kirim pesan saja. Tulis pesan langsung ke nomornya Ayu agar dia bisa baca langsung apa yang kamu mau!’ *balas Ambar.
‘Oke Ma, aku akan langsung tulis pesan ke Ayu, semoga dia segera baca. Paling tidak dia buka hari ini karena penting banget.’
__ADS_1
‘Ya nanti kita bicara saat nggak ada Mukti saja,’ sahut Ambar dalam tulisan balasannya.