
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Masih sangat pagi ketika Mukti tiba di bandara. Sesuai rencana pagi ini dia akan kembali ke pulau dewata untuk mengambil copy berkas. Padahal dia sedang berada di Jakarta berkaitan urusan persidangan mantan istri sirinya yang menggerogoti uang perusahaan papanya.
Nomor baru menghubunginya. "Dengan pak Mukti?" suara perempuan seperti bergetar ketakutan di ujung telepon menyapa Mukti pagi ini.
"Iya, Saya sendiri. Ada apa?" Tanya Mukti.
"Pak, saya sudah sampai di Bandara. Apa benar Bapak akan membawa saya pulang ke Denpasar?" Tanya suara perempuan itu tak percaya.
"Saya baru tiba di terminal keberangkatan. Sebentar saya turun dulu." Mukti tidak bawa baju atau apa pun dia hanya bawa slingbag saja.
"Saya sudah lihat kamu sebentar." Tanpa menutup sambungan telepon Mukti bicara pada sopir yang mengantarnya ke bandara.
"Terima kasih ya Pak. Bilang om Ariel saya sudah selamat tiba di bandara," kata Mukti pada sopir yang mengantarnya. Komang masih bisa mendengar dengan jelas semua percakapan itu.
"Iya hati-hati Mas Mukti." Jawab si sopir.
Mukti melambai pada Komang Ayu. Dia lalu mematikan sambungan percakapannya.
"Aku enggak percaya Bapak ini ternyata benar-benar mau menolong." Bisik Komang pada sahabat baiknya.
"Semoga kamu bisa bekerja di Bali seperti yang dia bilang. Tak perlu lagi kamu kembali ke Jakarta. Karena orang yang butuh uang hasil perjuanganmu sudah tak ada."
"Kamu tinggal bekerja untuk dirimu sendiri. Bila kamu mau ke Jakarta, sayang rumahmu di Bali dan juga tak enak pada orang-orang yang telah membantumu pulang ke Bali dengan membelikan tiket pesawat juga membayar semua hutangmu."
"Tapi terserah kamulah nanti bagaimana." Teman Komang Ayu memberi pendapatnya. Biar bagaimana pun dia hanya bisa kasih pendapat. Tak bisa mengharuskan atau melarang Komang.
Sementara Komang Ayu masih tak percaya ada orang tak dikenal yang membantunya sedemikian rupa. Sedang dia sudah tak akan bisa berhutang lagi karena gajinya sudah habis untuk biaya berobat ibunya.
__ADS_1
"Uang kost tunggakan ku, nanti aku bayar bulan depan kalau aku sudah gajian ya Sri," ucap Komang. Sri nama sahabatnya sejak dia datang ke Jakarta dua tahun lalu.
"Kamu enggak usah berpikir seperti itu, ada orang membelikan tiket tanpa apa pun aja itu sudah lebih dari aku, ada orang melunasi semua hutangmu ke managemen. Aku cuma uang kost yang tak seberapa. Biar tak perlu kau hitung agar itu bisa jadi ladang pahala yang aku tanam saja." Jelas Sri.
"Kalau aku berpikir untung rugi berteman denganmu tentu aku enggak akan antar kamu ke sini. Akan aku biarkan kamu sendirian." Ucap Sri serius.
"Iya terima kasih ya Sri, kamu teman terbaikku," Komang Ayu lalu memeluk teman sekaligus teman satu kamar kostnya.
"Ayo mana kartu identitasmu? Kita masuk kita sudah harus mulai check in." Pinta Mukti pada Komang Ayu.
"Dan siapa namamu?" tanya Mukti pada teman Komang.
"Saya Sri Pak."
"Oke perhatikan nama saya ada di kartu nama kalau dia terjadi kenapa-kenapa kamu bisa lapor polisi bawa saya menculik dia atau menjual dia. Di kartu nama saya ada tiga galery milik saya di Bali. Cari saja saya disana."
"Teman-teman saya juga sering nongkrong di cafe tempat kamu kerja. Suruh tanya mereka di mana saya bila saya berbuat buruk ada temanmu ini."
"Saya tahu Bapak memang menolong dengan tulus. Hanya Allah yang bisa membayar kebaikan Bapak dan teman-temannya." Ucap Sri.
"Ya sudah kami harus masuk," kata Mukti. Lalu Mukti pun langsung chek in menggunakan KTP miliknya dan milik Komang. Mukti melihat tas lusuh Komang Ayu.
Komang memeluk Sri erat. Dia sangat berat berpisah dengan orang sebaik Sri.
“Doakan aku ya?” pinta Komang.
“Kita akan selalu saling mendoakan. Yang tabah ya,” bisik Sri.
"Itu tas mau taruh di bagasi atau di dalam cabin pesawat?" tanya Mukti.
__ADS_1
"Saya enggak mengerti mau ditaruh di mana Pak. Saya belum pernah naik pesawat. Dulu saya dibawa naik bus," dengan jujur Komang Ayu memberitahu dia tak tahu mau ditaruh mana tas pakaian miliknya.
"Jadi kamu belum pernah naik pesawat?"
"Benar Pak. Saya belum pernah naik pesawat."
"Oke kalau begitu taruh di kabin aja biar enggak usah nunggu saat kita turun nanti." Mukti memutuskan tidak menaruh tak Komang di bagasi.
"Di mana tempat tinggalmu?"
"Saya di Badung Pak." jawab gadis polos itu.
"Oke, kita masuk dulu. Nanti kita ngobrol lagi." Mukti mengajak Komang segera naik ke pesawat karena mereka datang memang dengan waktu yang mepet akan berangkat. Tak perlu menunggu lama.
"Ayo bismillah kita naik." Ajak Mukti pada Komang.
"Eh maaf, agama kamu apa? Koq saya ajak kamu mengucap Basmalah," tanya Mukti.
"Ibu saya muslim. Bapak saya Hindu."
"Saya enggak tanya sejarah kamu." Jawab Mukti sambil menaiki tangga pesawat.
"Awalnya dulu ikut dengan keluarga ayah saya, sehingga di surat raport hingga data ijazah saya Hindu. Tapi akhirnya ibu mengambil saya dan dia membawa saya ke Badung karena di rumah ayah saya, saya hanya dijadikan pembantu oleh istri ayah saya."
"Saat saya mulai dekat dengan ibu, akhirnya saya mempelajari Islam. Di surat-menyurat saya sesuai dengan sekolah dulu saya masih Hindu. Di KTP sudah tertulis Islam," jelas Komang.
"Apa pun agama yang kamu anut, baik Hindu mau Islam jalani dengan baik. Bila kamu Hindu ya kamu jalani dengan hatimu. Kalau Islam jadilah Islam yang taat. Jangan separuh separuh."
"Tidak ada agama yang mengajarkan pada pengikutnya untuk berlaku buruk," kata Mukti seakan dia adalah ahli agama.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang beda thema dari novel yang biasa eyank tulis. Kita masuk thema HOROR dan ini berdasar kisah nyata yang di kembangkan.
Cuzz ke novel dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok
__ADS_1