
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Kesini kok nggak telepon?" tanya Mukti melihat Komang sedang duduk dengan wajah pucat sementara gadis itu memegangi tangan Sita.
"Saya …."
"Pemakaman ibumu hari itu sudah selesai, apa tak ada yang kamu urus lagi sehingga kamu sudah kesini?"
"Saya …." Komang hanya bisa menggeleng.
"Duduk! Kamu kenapa?"
"Saya, saya …"
"Minum dulu," Sita menyodorkan air putih pada Komang.
"Kenapa gugup gitu? Ada apa?" Sita memeluk Komang untuk membuat gadis itu tenang.
"Setelah ibu dimakamkan, malamnya rumah masih rame. Saat semua pulang, ada orang mau memperkosa saya kemarin di hari kedua. Untung saya ditolong oleh tetangga sebelah rumah yang curiga karena saya melempar piring dan gelas.”
“Tadi pagi dia kembali mencoba akan memperkosa dan hampir berhasi;. Sekarang saya takut tinggal di rumah itu sendirian Kak. Orang itu selalu mengikuti kemana pun saya pergi." Komang bercerita ada Sita.
Rupanya sejak tadi dia tak bisa cerita pada Mukti karena merasa tak nyaman.
"Apa kamu ke sini dia juga ngikutin kamu?"
"Sepertinya iya kak. Aku masih lihat motornya mengikuti angkot yang aku naiki."
"Kamu juga enggak bawa apa-apa ke sini?" Tanya Mukti. Saat itu kebetulan Komang datang dengan wajah pucat, pakai sandal jepit tanpa membawa apa pun kecuali dompet dan ponselnya saja.
"Enggak Pak. Saya hanya bawa ponsel dan dompet saja karena saya takut."
"Lalu siapa yang jaga rumahmu?"
"Tetangga sebelah rumah."
Seperti biasa jiwa welas asih Mukti langsung tergerak. Dia tak mungkin melepas seorang gadis di mangsa orang lain.
“Ya sudah, kamu disini saja bersama Sita dan karyawan lainnya. Belum selesai Mukti bicara, ponselnya berbunyi.
"Kenapa Mas," tanya Mukti menjawab telepon dari Sonny .
"Kalau bisa cari tiket sekarang juga, kakaknya Adelia meninggal satu jam lalu. Mama juga ngewanti-wanti kamu harus ngehormatin om Ariel dan tante Vonny."
"Innalillahi," kata Mukti.
"Oke aku akan upayakan tiket segera Mas," jawab Mukti.
Mukti sudah tiga hari berada di Bali harusnya besok dia kembali ke Solo tapi karena ada berita seperti ini dia akan pending masalah Solo saat ini.
Hari pertama dia di Badung, hari ke dua di Denpasar dan sekarang di Badung kembali.
“Sita, panggil Komang,” perintah Mukti. Dia akan segera berangkat ke Jakarta. Tapi entaah mengapa rasanya dia tak tega meninggalkan gadis malang itu sendirian walau bisa dia titipkan sepenuhnya pada Sita.
__ADS_1
“Baik Pak,” jawab Sita.
“Bapak memanggil saya?” tanya Komang yang sudah segar.
“Ikut saya ke Jakarta. Bersiap sekarang juga kita berangkat. Kita cari tiket sedapatnya,” perintah Mukti.
“Ke Jakarta?” tanya Komang bingung.
“Bapak mau mengembalikan saya bekerja di Cafe lagi?”
“Tidak. Kamu jadi asisten saya saja,” jawab Mukti sambil menuju ruang tidurnya di galeri itu. Dia ambil dompet dan slingbag berisi pasport dan charger yang tak pernah keluar dari tas itu.
"Kamu dulu sekolah sampai apa?" tanya Mukti. Saat ini mereka sedang menuju bandara.
"Saya dulu sekolah sampai lulus SMK. Baru kuliah semester satu jurusan sekretaris saya berhenti karena ibu saya sakit dan saya dibawa ke Jakarta untuk cari uang. Jadilah saya bekerja di cafe itu Pak."
"Sekarang ini kita mau ke mana?" tanya Komang Ayu.
"Kembali ke Jakarta. Kakaknya kakak ipar saya meninggal."
"Tapi kenapa saya harus ke Jakarta?" Apa Bapak akan kembalikan saya kerja di cafe?"
"Enggak kamu sekarang jadi asisten pribadi saya."
"Saya tidak bawa baju, enggak bawa apa-apa. Kalau pun bawa baju, tentu baju lusuh saya tak pantas untuk jadi pakaian kerja seorang asisten pribadi."
"Gampang soal itu. Nanti urusan kakak ipar saya. Yang penting kamu pergi dulu dari Bali agar terhindar dari lelaki itu."
"Terima kasih sekali lagi Pak."
"Jangan bilang terima kasih terus. Yang penting kamu kerja dengan baik dan benar. Saya tidak mau karyawan saya itu tidak becus kerja."
"Baik Pak, saya akan selalu berupaya menjadi yang terbaik. Kalau saya kurang benar atau salah. Bapak kasih tahu karena saya masih sangat minus."
"Saya akan melaksanakan. Nanti Bapak kasih tahu aja semua jadwalnya. Saya akan beli buku untuk mencatat semua keperluan itu," kata Komang Ayu.
"Loh kok berhenti di sini Pak?" Komang bingung mobil berhenti.
"Sekarang masih ada waktu. Penerbangan kita belum terlalu mepet. Kamu masuk ke toko itu beli pakaian dalammu dan beberapa baju yang layak untuk kerja karena kamu sekarang adalah asisten saya."
"Ingat, beli minimal tiga pasang baju juga pakaian dalammu," kata Mukti.
Mukti memberikan uang pada Ayu.
"Jangan beli satu, ingat minimal kamu harus beli tiga atau lima karena takutnya kakak ipar saya sedang repot, tentu dia tidak sempat menyiapkan baju untuk kamu."
Ayu menerima uang yang diberikan oleh Mukti.
"Saya tunggu di sini," kata Mukti. Dia menunggu di mobil, tak enak menemani Ayu belanja pakaian dalam.
"Sehabis dari bandara nanti kamu ke villa ya. Bilang ke manager villa untuk membersihkan villa papa."perintah Mukti saat menunggu Komang belanja.
"Baik Pak Sony eh Mas Mukti nanti saya beritahu penanggung jawab villa untuk membersihkan villa tuan besar."
Ayu bergerak cepat dia membeli pasangan baju yang cukup pantas dipakai kerja, tidak terlalu mahal tapi rapi dan sopan. Ayu memilih membeli celana kulot dan blouse saja. Dia tak mau pakai celana pensil apalagi celana ketat.
Ayu juga tidak mau memakai rok agar lebih leluasa bergerak dan juga terlihat sopan.
__ADS_1
"Pantes enggak ya aku beli sepatu?" Gumam Ayu karena dia hanya memakai sendal jepit tadi keburu-buru.
"Ah sudahlah aku beli. Enggak mungkin aku bekerja dengan sandal jepit."
"Maaf Pak jadi lama nunggu. Maaf saya terpaksa beli sepatu karena tadi saya hanya pakai sandal jepit saja."
"Buat seorang perempuan kamu belanja cukup cepat. Buat apa saya marah?"
Tadi Mukti berhenti bukan di butik sehingga pakaian di sini tidak terlalu mahal dan kelasnya pas lah dengan Komang.
Ayu membeli satu sneaker yang langsung dia pakai dan sandal jepitnya dia bungkus.
"Ini Pak kembaliannya."
"Pegang saja itu kembaliannya."
"Baik Pak."
"Kamu mengerti bikin schedule kan?"
"Saya cukup tahu Pak, tapi kalau salah nanti Bapak ajarin aja."
"Kamu tahu penggunaan laptop"
"Saya mengerti Pak."
"Bagus nanti akan saya siapkan laptop untuk pekerjaanmu. Kamu juga harus susun file data foto selama pameran dan setiap saya meeting," kata Mukti menjelaskan apa yang hars Ayu kerjakan.
"Ingat ya laptop untuk bekerja bukan buat nonton. Saya tidak suka orang yang sibuk dengan drama Korea, drama China, sinetron Indonesia atau cerita lainnya. Boleh nonton, tapi diluar jam kerja."
"Iya Pak, saya mengerti."
"Mas aku sudah di bandara Bali. Ada yang jemput atau aku naik taksi aja setiba di bandara Jakarta nanti?" tanya Mukti takut salah.
"Nanti dijemput kamu baru berangkat jam berapa?"
"Tiga puluh menit lagi pesawat berangkat."
"Berarti aku akan nyuruh sopir berangkat sekarang jadi begitu kamu tiba sopir juga sudah sampai di Bandara," ucap Sonny.
"Iya Mas. Oh ya Mas aku bawa asisten pribadiku. Ceritanya panjang tolong kasih tahu Mbak Adel aku minta kamar buat asistenku."
"Gampang kalau soal itu. Kalau kamar di sini kan kamu tahu sendiri rumah ini super besar. Kalau misalnya penuh karena keluarga datang ya nanti bisa masuk di kamar salah satu pembantu atau satu kamar dengan mama."
"Ya janganlah. Jangan dengan mama. Enggak boleh ada yang ganggu mama."
"Biar dia di kamar pembantu saja."
"Janganlah kalau asisten mu masa ditaruh di kamar pembantu."
"Nggak apa-apa kok Mas. Ini asisten juga dadakan. Nanti ceritanya panjang. Orangnya sedang mengarah ke sini. Sudah dulu ya Mas. " Saat itu memang Ayu baru ke toilet.
"Oke hati-hati ya."
"Iya Mas," balas Mukti.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok