CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BERKENALAN DENGAN AKTOR FAMOUS


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


 “Kenapa Arjun pulang cepat?” tanya Mukti setelah mereka selesai salat dzuhur. Begitu Arjun pulang memang Ayya mengajak Mukti salat.


“Enggak tahu, memangnya harus menginap di sini?” Ayya balik bertanya dengan kesal.


“Kamu kesal sama dia kenapa marahnya ke Mas?” Mukti melihatAyya sebal kalau bicara tentang Arjun. Andai tak ada kasus Luna, mungkin Ayya bisa mempertimbangkan cinta Arjun yang sejak SMA jelas-jelas sudah menyatakan cinta padanya.


“Siapa yang kesal? Enggak kesal kok,” bantah Ayya.


“Kenapa ya tadi pagi kok kerjaan banyak banget, habis makan siang kok enggak ada yang ribut ya?” kata Ayya pada Mukti.


“Wajar, kan pagi mereka langsung mengerjakan apa yang sudah kamu tuliskan tadi. Sesudah itu ya sudah, masak telepon kamu lagi?” kata Mukti.


“Iya juga ya, orang Gianyar langsung ke karantina, orang Denpasar langsung ke pengrajin.” Ayya akhirnya sependapat dengan Mukti.


Sebenarnya enggak kebetulan juga sih kalau Ayya berpikir logis, cuma ya sudah Ayya memang enggak berpikir sampai sana. Logikanya kenapa Mbak Sita enggak telepon orang Gianyar langsung untuk janjian bertemu di mana. Kan lebih enak kalau bicara langsung. Kenapa harus via Komang Ayu?


Pasti readersnya eyank  pada tahu dong siapa yang mengatur semua itu. Siapa yang mengatur agar Komang Ayu sibuk saat menerima Arjun sebagai tamu?


“Nanti malam kita makan di luar yuk?” ajak Mukti.


“Malas ah, makan hasil olahan bu Pinem aja,” tolak Ayya.


“Ngapain sih harus pergi keluar lagi?”


“Seharian kamu sibuk. Biar enggak suntuk aja,” kata Mukti.


“Terserah deh,” jawab Ayya.

__ADS_1


“Nanti malam carinya menu kambing ya Mas, kayaknya iga bakar kambing enak deh,” Ayya malah yang menentukan menu, padahal tadi dia yang malas keluar.


“Oke, siapa takut?”


Sesudah salat Mukti kembali ke tempat pekerjaannya. Ayya baru tahu proses kerja Mukti. Satu barang saja bisa menghabiskan waktu berminggu hingga berbulan untuk suatu maha karya. Itu sebabnya harga sebuah karya seni sangat mahal.


Ayya kembali menekuni pekerjaan tadi, dia juga menghubungi orang cabang galeri, dia menghubungi Sita juga orang di Denpasar dan Gianyar untuk memastikan stock sama atau tidak dengan yang dia tuliskan.


Ayya menuliskan pesanan makan mereka, dia memesan satu porsi iga bakar yang dipadu dengan kentang serta sayuran pelengkap steak seperti biasa. Untuk Mukti dia memesan iga bakar beserta nasi bukan dengan kentang tambahannya adalah satu porsi sop kambing.


“Komang?” sapa seseorang.


“Mbak Sarah!” Ayya berdiri dan memeluk perempuan cantik yang menyapanyaa barusan.


“Lagi liburan di sini Mbak?”


“Enggak liburan say, kami lagi kerja,” jawab Sarah.


“Pak Mukti kenalkan ini Sarah. Kita pernah ketemu saat di Solo waktu di meeting dulu,” Ayya memperkenalkan lawan bicaranya pada Mukti. Mukti pun mengulurkan tangan pada Sarah.


“Ini loh Pak yang bersama sutradara dari Bandung itu,” Mukti langsung ingat kalau bicara tentang sutradara dari Bandung. Seorang lelaki yang memang mengejar Komang untuk menjadi bintangnya.


“Bagaimana tawaranku waktu itu? Aku kasih gratis kok buat kamu,” kata Sarah.


“Aku enggak berani Mbak, nggak ada bakat buat ke sana, passionku bukan ke sana,” Jawab Ayya.


“Kamu tuh cantik tinggal di poles dikit kamu akan jadi bintang. Pasti kamu lebih hebat dari bintang-bintang yang aku poles selama ini,” jawab Sarah.


“Kalau sutradara aja sudah memilih kamu, lebih-lebih aku.”


“Iya Mbak. Enggak apa apa lah. Mbak sama siapa aja di sini?” tanya Ayya mengalihkan topik bahasan tentang rekrutmen dirinya menjadi bintang film.


Sarah tadi memang melewati mejanya Ayya. Dia habis dari toilet.

__ADS_1


“Kami di ujung sana, lihat tuh yang rame. Satu tim untuk menyelesaikan sinetron yang berlokasi di sini,” kata Sarah menunjuk di mana team nya berkumpul.


“Wah senang ya Mbak,” Ayya melihat keriuhan tawa di meja ujung yang Sarah tunjuk.


“Kak Sarah. Kok lama banget sih?” kata seorang bintang sinetron yang sedang naik daun. Bintang muda yang sangat banyak penggemarnya.


“Hai Carlo, kenalkan ini calon debutan aku berikutnya,” Sarah memperkenalkan Ayya pada bintang sinetron itu.


Pria yang dipanggil Carlo langsung mendekat dan berjabat tangan dengan Ayya serta Mukti.


“Jangan asal ngomong Mbak. Nanti dikira aku serius, aku kan enggak jawab iya dengan tawaran Mbak.”


“Enggak apa apa lah. Kamu masih simpan kan nomor aku? Aku akan selalu hubungi kamu biar kamu bergabung sama agensi ku.”


“Wah saya senang banget kalau mbak Komang ikutan ke agensinya Kak Sarah. Jadi kita bisa tiap hari ketemu,” kata Carlo.


“Enggak kok, saya enggak tertarik untuk bidang itu. Ini juga saya masih banyak kerjaan,” kata Ayya. Saat itu server mengantar makanan yang mereka pesan.


“Silakan lho, kalian makan. Mari pak Mukti. Saya permisi,” kata Sarah.


“Mari Pak,” kata Carlo pada Mukti.


 ”Ya,” jawab Mukti.


“Komang, nanti aku hubungi kamu ya. Aku akan minta nomormu dari Kak Sarah,” kata Carlo.


“Silakan,” jawab Komang Ayu. Tak mungkin dia bilang jangan kepada Sarah di depan orang lain. Mukti tentu saja geram seorang bintang sinetron muda yang ganteng dan terkenal malah mengejar Komang Ayu. Setahu Mukti bintang tenar malah menghindar dari kejaran ceweq yang tak famous kan? Karena tak membuat rating mereka meningkat.


Mukti dan Ayya segera mulai makan. Dari jauh Arjun yang kebetulan berada di sana dengan Bayu dan Indra serta Luna melihat bagaimana kedekatan Komang dan Mukti.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.



__ADS_2