CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAK PERLU KATA-KATA VERBAL


__ADS_3

Wayan dan Mukti menikmati lumpia semarang yang masih panas. Tentu saja eyang Angga juga ikut makan. Walau tadi bilangnya hanya mencicipi satu, nyatanya sekarang ssudah  lumpia ketiga yang ada di tangannya.


“Ini hanya segini?” tanya Ambar.


“Iya saya hanya goreng separuhnya. Nanti kalau Mas Mukti dan mbak Ayu ssudah  bangun dan Mas Aksa ssudah  pulang sekolah biar saya goreng lagi jadi mereka makan yang panas juga,” kata Bu Parman.


“Bukan biar panas saja Bu. Biar nggak habis sama eyang juga,” kata Wayan menggoda Angga.


Abu terkekeh mendengar Wayan berani membully papanya.


“Apa nih yang nunggu aku?” kata Aksa yang baru pulang.


“Kok kamu tumben cepat pulang?” kata Ambar.


“Aku kok punya feeling nggak enak. Jadi aku cepat pulang,” balas Aksa.


“Feeling opo?” tanya Ambar?


“Entahlah. Aku kayak nggak genah begini,” balas Aksa.

__ADS_1


“Masmu dan mbakmu dikerjain orang sampai pingsan,” kata Ambar menjelaskan feeling yang mungkin dirasakan Aksa.


“Apa?” teriak Aksa. Dia kaget ternyata feelingnya merasa tak enak hati sejak tadi ada hubungan dengan Mukti dan Ayu kakak tersayangnya.


“Lalu bagaimana kondisi mereka sekarang?” desak Aksa.


“Ada di kamar Ayu. Mereka masih belum sadar. Keduanya ssudah  diperiksa dokter,” jawab Ambar.


Tanpa menunggu jawaban Ambar selesai, Aksa ssudah  berlari ke kamar Ayu. Dia lihat kedua kakaknya masih terlena tak sadarkan diri.


“Kerjaan siapa lagi Pa?” tanya Aksa saat dia ssudah  kembali ke ruang tengah. Dia sangat geram mendapati kedua kakaknya seperti itu.


“Baiklah aku mandi dulu sekalian salat. Biar sessudah  itu aku santai,


 kata Aksa sambil berjalan masuk ke kamarnya.


Aksa benar-benar tak percaya kakaknya mendapat musibah lagi.


“Akan aku hancurkan dia, setelah aku tahu siapa pelakunya,” kata Aksa tak main-main. Dia paling tak suka Ayu mendapat musibah karena buat dia Ayu dan Adelia itu kakak perempuan yang dia sayangi. Walaupun keduanya bukan kakak kandungnya.

__ADS_1


Adelia mempunyai tempat tersendiri di hati Aksa. Karena kakak perempuannya itu dia kenal sejak dia berusia 5 tahun. Sehingga dia menyayangi Adelia seperti kakak yang ngemong, Adelia sosok yang  sangat mencintai adiknya.


Sedang Ayu adalah sosok gadis lembut yang menjadi kakaknya setelah dia dewasa. Tentu beda rasa sayangnya. Kepada Ayu, Aksa tidak berani kolokan seperti pada Adelia. Tetapi dia sama-sama menyayangi keduanya dengan kadar yang berbeda dan tak bisa diungkap dengan perasaan bagaimana takaran sayangnya.


“Mas … Mas, bangun,” Mukti mendengar suara Ayya yang membangunkan dirinya. Dia membuka matanya pelan. Dai edarkan pandangan matanya.


“Kok kita sudah di kamarmu?” tanya Mukti saat menyadari mereka tidur di kamar Ayya.


“Pasti papa sudah  langsung tolongin kita, saat kita habis minum lemon tea. Karena sehabis makan tadi kita nggak kenapa-napa. Nggak ada rasa apa pun di makanan yang kita pesan. Tapi begitu kita selesai makan dan minum lemon tea baru kita mulai terserang kantuk,” kata Ayya sambil berupaya duduk.


Ayya langsung menuju meja riasnya, dia membersihkan wajah dari make up lalu dia sisir rambutnya baru, bersiap keluar.


“Ayo Mas kita keluar pasti kita ditunggu semuanya,” ajak Ayya.


Mukti pun menghampiri Ayya dan memeluknya dari belakang karena saat itu Ayya duduk di meja rias.


“Maafin Mas ya, gara-gara Mas kamu jadi kena masalah seperti ini,” ucap Mukti tulus.


“Ini bukan gara-gara Mas. Ini gara-gara cinta kita. Ini hambatan cinta kita. Kalau hanya karena faktor Mas. Dan aku tidak menjadi pacar Mas atau pasangan Mas. Tentu aku tidak akan pernah seperti ini. Jadi sejak kasus kopi sampai kasus ini bukan karena Mas semata, tapi karena cinta kita,” kata Ayya. Dia mengusap pipi Mukti tanpa menoleh karena terlihat dari kaca rias di depannya.

__ADS_1


“Terima kasih pengertianmu ya Sayank,” kata Mukti. Dia mencium puncak kepala kekasihnya. Ayya menoleh dan mencium Mukti tanpa ragu. Mukti tentu saja kaget Ayya berani mencium dirinya lebih dulu. Mukti yakin Ayya sudah  memaafkan semua kesalahan akibat tragedi itu. Tak perlu kata-kata verbal. Semua perilaku Ayya telah membuktikan. Mukti pun membalas kecupan Ayya dengan cium-an panjang.


__ADS_2