
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Wah pacarmu perhatian banget ya segitu atensinya dia mencari kamu,” komentar Mukti saat Ayya telah menyudahi pembicaraan dengan Arjun.
“Dia bukan pacarku, wajarlah dia nyari wong dua hari ponselku enggak bisa dihubungi,” jawab Ayya lirih tak mau perdebatan mereka terdengar pasien lain yang sama-sama menunggu giliran di periksa dokter.
“Kita makan siangnya nanti ya sekalian sama pak pengacara aja ya? Kalau kita makan siang duluan nanti di sana makan lagi. Kita enggak sanggup kalau harus dua kali makan siang,” kata Mukti saat sudah di mobil selesai berobat.
Mukti sudah janjian dengan pengacara di mana lokasi pertemuan mereka. Begitu mendapatkan visum Mukti langsung menghubungi pengacara dan mengatakan dia akan kontrol ke dokter kecantikan dulu.
“Iya Mas, enggak apa-apa kok, aku kuat. Tadi sudah sarapan banyak,” kata Ayya.
“Obatmu dibawa kan yang kemarin?”
“Tadi dokter bilang obatnya diganti yang barusan ditembus. Dan yang kemarin sudah habis juga kok. Sisa obat doter kemarin itu sudah aku minum tadi pagi,” jawab Ayya.
“Yo wis, berarti nanti habis makan siang kamu jangan lupa minum obatnya,” pesan Mukti.
“Iya, aku ingat kok,” jawab Ayya. Dia juga ingin kembali sehat. Ayya masih memikirkan harga obat oles yang super mahal buat siang dan malam. Andai dia bayar sendiri, tabungannya untuk belanja modal usaha papanya bisa cepat habis.
Ayya dan Mukti makan siang bersama dengan Pak Putut Adhyaksa ditempat yang telah di sepakati. Disana nanti pak Putut juga akan bertemu dengan klien berikutnya.
__ADS_1
“Sambil makan enggak apa-apa kan saya tanya-tanya? Kalau nanyanya nanti habis makan lumayan buang waktu sedikit,” Putut terbiasa gerak cepat tak mau buang waktu.
“Enggak apa-apa kok Pak,” Ayya menjawab mewakili Mukti karena dia lihat lelaki itu sedang penuh mulutnya tak bisa bicara karena baru saja menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Ayya dan Mukti mengerti bahwa waktu sangat berarti buat seorang pengacara seperti Pak Putut.
“Bisa ceritakan perkenalan anda dengan pelaku tindak pidana yang akan kita perkarakan?” tanya Putut pada Komang Ayu.
“Saya baru kenal di situ Pak. diperkenalkan diperkenalkan oleh kak Wayan temannya Pak Mukti,” Komang Ayu menjawab pertanyaan pengacara yang akan membantu mengatasi pengaduan Mukti.
“Jadi beneran baru kenal, bukan saya salah info,” kata Putut sambil corat coret di buku yang dia bawa.
“Benar Pak. Saya baru sekali bertemu di situ dan berkenalan, bukan baru berkenalan tapi sudah sering ketemu, sama sekali bukan,” kata Ayya memperjelas bahwa dia baru pertama kali bertemu saat berkenalan kemarin.
“Baik saya catat semuanya. Terus kejadiannya itu bagaimana? Kenapa anda tidak bicara pada Pak Mukti tentang perlakuan yang anda terima?” tanya pak Putut.
“Yang pertama saya kan merasa terkunci tak sengaja. Saat terkunci di kamar mandi saya hanya gedor-gedor dan malah yang bukakan pintu dia. Tentu saja saya merasa berhutang budi pada dia karena dia yang bukakan pintu. Saya mengucap terima kasih berkali-kali karena sudah dia tolong.”
“Kalau kasus tentang gagang sapu dia bilang tak sengaja, lalu ya sudah saya pikir memang enggak sengaja. Wong tadi dia habis nolong saya kok. Jadi saya sama sekali tak punya pikiran buruk terhadap dirinya.”
“Yang kedua eh yang ketiga maksud saya, kasus kopi saya sudah lihat rekamannya bagaimana dia sengaja memegang nampan dan membalikan untuk mengenai ke tubuh saya. Kalau tidak di balikan bisa kami berdua yang kena jadi memang sengaja diarahkan pada tubuh saya. Kalau dia sekedar menabrak tentu bisa dia yang menjadi korban tumpahan kopi panas.”
“Itu yang saya lihat dari rekaman CCTV, tapi saat itu saya blank Pak. Bapak bisa bayangkanlah bagaimana panasnya bagian tubuh yang sensitif kena air panas 5 gelas. Saat air menumpahi badan saya jadi saya enggak konsen tentang apa-apa lagi selain sakit panas yang saya rasakan di tubuh,” kata Ayu sambil makan.
“Kalau Mas Mukti bagaimana kenalannya dan seberapa dekat hubungannya serta sudah berapa lama kenal pelaku terlapor?”
__ADS_1
“Saya kenalan itu sekitar 8 bulan lalu, dia adalah pelukis pemula yang katanya berpotensi dan sedang merintis karirnya. Saat itu saya dan kedua teman saya memang berniat untuk mengadakan pameran yang berkolaborasi antara pahat dan lukis. Teman pelukis saya berhalangan sehingga dia bisa tidak bisa ikut berpartisipasi penuh. Dia hanya menyuruh temannya untuk ikut menggantikan dirinya tapi tetap teman saya tersebut yang bernama Ketut menitipkan barang-barang hasil karyanya untuk di manage oleh pelaku. Kalau dipasrahi pada saya atau Made teman saya yang pemahat itu tidak mengerti.”
“Kalau ada orang bertanya tentang lukisan yang saat itu dipamerkan semua dia yang handle, baik lukisan Ketut mau pun miliknya sendiri. Semua dia yang terangkan dan bargaining harga juga dia yang putuskan.”
“Persiapan pameran itu 2 bulan Pak dan pameran berlangsung 3 minggu sehingga kita total ambillah 3 bulan kami intens bersama-sama seluruh team pameran itu.”
“Diakhir pameran atau 3 bulan dari perkenalan dia menyatakan cinta pada saya. Mungkin karena kami sering bertemu, makan bersama, sering ngobrol dan sebagainya selama kami pameran. Tapi tentu bukan hanya berdua dengan dia. Kami melakukan semua kegiatan bersama dengan sesama pelaku seni lainnya. Selalu berdiskusi bareng-bareng tak pernah ada rasa apa pun antara saya ke dia Pak.”
“Jadi saat dia menyatakan cinta, ya saya bilang saya belum siap terikat dengan siapa pun. Itu aja sih Pak.”
“Mungkin dia kemarin cemburu pada Komang Ayu karena kebetulan Komang Ayu sekretaris pribadi saya, bukan sekretaris biasa. Dia menyiapkan semua kebutuhan saya. Sehingga Komang Ayu tentu jelas mengerti apa yang saya mau.”
“Saat Komang Ayu memberikan puding sesuai dengan apa yang saya suka dia marah karena baru saja saya tolak penawaran dia makanan yang dia berikan. Dari situlah kejadian itu bermula. Penguncian dan segala macamnya itu kan kalau kita lihat di rekaman terjadi sesudah Komang Ayu memberikan puding pada saya, bukan sebelumnya.”
“Dia mengunci Komang Ayu setelah puding sampai ke tangan saya dan saya nikmati. Itu jelas alasan utama dia marah. Karena sebelumnya Komang Ayu di belakang, tidak duduk bersama saya sejak kami datang ke TKP,” jelas Mukti.
Mas Mukti perhatian banget sih ingetin mbak Ayya suruh minum obat. Padahal tadi kan kesel waktu lihat mbak Ayya-nya terima telepon dari Mas Arjun. Ada reader yang minta mas Mukti ngomong secara gamblang apa yang di rasa ke mbak Ayya loh. Kenapa sih Mas Mukti enggak mau langsung ngomong aja? Bikin Eyank enggak sabar nih nungguin mas Mukti mengatakan kejujuran isi hatinya. Kita tunggu keberanian Mas Mukti ya
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.
__ADS_1