
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Makanannya sudah siap, ayo semua makan aja,” ajak Ayya setelah mendapat kode jempol dai bu Pinem. Mukti dan teman-temannya memang berdiri mengamati apa yang sedang dia kerjakan ketika Ayya dan Carlo menghampiri untuk berkenalan tadi.
“Ayo Carlo kamu ikutan makan yuk,” ajak Ayya.
“Loh kok jadi aku ikutan, sudah aku tunggu sini aja,” tolak Carlo tak enak.
“Ayo kamu juga ikut makan, saya juga tamu kok di sini,” kata Made ramah pada Carlo.
“Oh iya Pak,” jawab Carlo.
Ayya duduk di sebelahnya Mukti sedang Carlo duduk diseberang Mukti.
“Kalian silakan ya makan seadanya,” kata Mukti di depan aneka hidangan yang disiapkan bu Pinem malam ini. Mukti meliahat yang tersedia banyak menu tapi dia tahu yang mana yang masakan Ayya.
“Wayan kamu harus coba iga bakar dan sop kambingnya,” pinta Mukti.
“Kenapa?” tanya Wayan penasaran. Tanpa disuruh dia pasti mengambil menu kambing.
“Kamu kan penggila menu kambing, kamu sudah merasakan resto mana yang paling enak. Jadi aku minta penilaianmu terhadap iga bakar kambing dan sop kambing yang sekarang terhidang ini,” ucap Mukti sambil tersenyum. Walau dia sendiri belum mencicipi, tapi dia yakin rasa masakan Ayya pasti maknyus.
Ayya tentu saja jadi grogi karena masakannya akan dinilai oleh Wayan.
“Mas kok gitu sih,” bisik Ayya tak percaya diri.
“Enggak apa-apa santai aja. Kan enggak kayak lagi ujian,” Mukti memegang tangan Ayu lembut memberi kepercayaan pada Ayya. Ayya tersenyum, dia mengambilkan nasi serta iga bakar kambing lalu diambil sop di mangkuk kecil untuk Mukti.
“Carlo kamu makan loh. Jangan malu-malu,” kata Ayya sambil menyerahkan sop kambing pada Mukti. Tentu semua melihat tindakan Ayya itu.
__ADS_1
“Memangnya siapa yang masak iga bakar dan sop kambingnya?” tanya Wayan saat mengambil satu mangkuk kecil sop dari panci yang terus dipanaskan oleh api kecil.
“Yang pasti bukan bu Pinem,” jawab Mukti sambil tersenyum.
“Wow kejutan dong?” ucap Lingga. Dia langsung menduga siapa yang masak kalau bukan bu Pinem.
“Ya kalau bu Pinem kan biasa masak yang rutin aja, enggak pernah yang seperti ini. Ayya yang masak menu kambing, kemarin aku dibikinkan gulai kepala kakap.”
“Sebentar lagi kamu jadi gendut,” kata Made.
“Karena sudah ada yang mengurusmu seperti seorang istri mengurus suaminya.”
Mereka semua tertawa.
“Jadi yang mana yang masakannya Komang?” tanya Carlo.
“Ini dan ini masakan Komang,” jawab Mukti menunjuk iga bakar kambing dan sop.
“Kemarin kami mencicipi iga bakar kambing dan sop kambing yang di resto pantai waktu bertemu kamu,” kata Mukti.
“Wah ini super,” kata Wayan saat mencicipi kuah sop. Dia memberikan dua jempol pada Ayya.
Ayya tentu saja tersipu malu.
“Terima kasih Kak,” balas Ayya pada Wayan. Lingga yang tak biasa berani makan kambing akhirnya mencicipi iga bakarnya.
“Enak banget, enak bangeeeeeeeet,” kata Lingga memuji iga bakar kreasi Ayya.
Mukti hanya senyum-senyum seakan dia bangga bahwa dia yang masak tentu saja tadi dia sudah membuat foto iga bakar dan sop kambing serta foto banyak teman-teman yang ikut makan, dia langsung lapor ke mamanya.
“Komang kamu hebat banget ya,” puji Carlo. Dia memang memuji masakan kambing buatan Ayya yang pas di lidah.
“Ini hanya kebetulan aja bumbunya pas. Rasanya sama aja kok,” kata Ayya merendah.
__ADS_1
“Mas mau nambah lagi?” tanya Ayya pada Mukti.
“Boleh Yank,” jawab Mukti dia keceplosan memanggil yank di depan semua orang, tentu saja beberapa orang yang mendengar saling pandang. Mereka tahu kalau panggilan Mukti pada Komang Ayu adalah AYYA, tapi bukan YANK.
“Komang kamu enggak makan nasi?” tanya Lingga.
“Aku makan kentang goreng ini Kak. Sama seperti makan steak. Pakai sayuran steak aja wortel, buncis, jagung, dan kembang kol. Terus karbonya pakai french fries. Kenyang koq.”
“Nanti aku makan sopnya juga plecing kangkungnya kok jadi kenyang nggak pakai nasi,” jawab Ayya.
Dan memang Ayya memakan sop di mangkok Mukti. Mereka satu mangkok berdua. Lingga jelas melihat kedekatan mereka berdua. Dia hanya tertunduk.
Semua tentu puas mendapat menu istimewa kali ini.
“Wah kapan-kapan kamu harus ngundang aku lagi kalau Komang Ayu yang masak,” pinta Ketut.
“Tenang aja, nanti malam kalau memang kalian begadang di sini aku bikinkan nasi goreng seafood ya,” janji Ayya pada semua rekannya Mukti.
“Wah beneran gendut aku di sini,” goda Wayan.
“Kalau aku enggak mungkin gendut,” jawab Mukti dengan pedenya.
“Kenapa?”
“Dia ngomel kalau aku enggak makan serat dan minum aku sekarang dibatasi. Kopi diganti jus juga harus makan salad buah dan salad sayur tiap hari.”
“Wah bener-bener istri yang sangat perhatian,” kata Made.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.
__ADS_1