
Mukti sengaja tidak pakai mobil naik mobil Ambar atau mobil Abu maupun mobil keluarga, mobil lama dari Jakarta dulu. Walau bukan mobil butut. Tapi dibanding mobil jenis terbaru milik Ambar dan Abu tentu mobil keluarga ketinggalan jauh. Malam ini Mukti pinjam motornya Aksa buat jalan-jalan.
“Nggak apa-apa ya Yank, kita naik motor?” kata Mukti sambil mengambil helm untuk Ayya.
“Sekali lagi Mas ngomong seperti itu aku marah,” tegas Ayya menerima helm yang Mukti sodorkaan untuknya.
“Kenapa?” jawab Mukti bingung. Rasanya atau menurut dia kata-katanya taak salah.
“Seakan Mas bilang aku itu perempuan matre yang hanya mau pergi naik mobil,” jawab Ayya.
“Nggak begitu Sayank, enggak. Maksudnya Mas bukan begitu. Maksud Mas kita nggak apa apa ya naik motor. Maksudnya itu kan angin dan capek di badan kamu. Bukan maksud Mas nuduh kamu matre. Nggak kayak gitu kok.” kata Mukti belepotan. Dia jadi serba salah sehingga kalimatnya tak beraturan dan berulang terus.
__ADS_1
“Maafin Mas ya. Mas nggak maksud gitu. Maafin,” kata Mukti memegang kedua pipi Ayya. Kembali dia salah lagi. Memang harus seperti ini, harus selalu mereka bicarakan apa yang tak tepat atau tak mengenakan di hati.
“Iya Mas, aku juga enggak marah kan? Aku bilang setelah akau kasih tau Mas masih bilang seperti itu aku akan marah. Maksud aku, Mas itu sering salah bicara eh enggak tepat, bukan salah. Memang kita harus penyesuaian. Tapi Mas harus ingat. aku kalau cari harta bukan terima Mas lah. Ketahuan Arjun anak tunggal kok. Nggak akan berbagi harta dengan siapa pun dan dia juga cinta mati sama aku. Jadi aku tentu nggak akan milih Mas kalau aku cinta harta,” jelas Ayya membuat Mukti “panas” mendengar Arjun cinta mati pada Ayya.
“Kalau aku cinta ketenaran, tentu aku kan nggak akan pilih Mas. Aku akan pilih Carlo, tapi Mas tahu kan siapa yang aku pilih?” Ayya tersenyum menatap mata redup Mukti.
“Sayank, Mas ngerti. Sekali lagi maafin Mas,” ucap Mukti tulus. Tentu dia tak mau kalau Ayya sampai marah.
Mukti tersenyum mendapat jawaban seperti itu dari tunangannya. Memang hanya itu yang mereka harus lakukan. Saling mendengar dan saling mengerti antar mereka.
Mukti dan Ayya sama-sama menggunakan helm untuk mulai perjalanan. Tadi Mukti memang memaksa Ayya menggunakan jaket dulu.
__ADS_1
Mukti tak mau cepat-cepat menjalankan motornya. Dia sengaja lambat agar Ayya melihat pemandangan kota Solo saat mulai malam. Sengaja memang mereka menikmati perjalanan malam ini.
“Kamu ada tujuan lain nggak selain makan?” tanya Mukti.
“Sampai saat ini sih nggak ada Mas. Belum kepengen apa pun. Mungkin nanti kalau terlintas sesuatu bisa lah aku kasih tahu Mas. Tapi kalau saat ini belum.” jawab Ayya. Karena memang tak ada yang ingin dia beli atau dia kunjungi saat ini. Lagian Mukti juga ngajaknya mendadak jadi dia belum browsing apa yang ingin dia lihat do kota Solo ini.
“Ya sudah. Kalau begitu kita langsung ke tempat sate buntel ya. Mas pengen banget makan sate buntel itu sampai puas.
“Oke. Siapa takut,” kata Ayya.
Maka Mukti pun mulai mengarahkan motornya ke tempat sate buntel langganannya. Walaupun dia orang baru di Solo tetapi dia memang beberapa kali ke kedai sate itu sebelum tinggal di Solo. Jadi bukan hanya karena orang tuanya pindah ke Solo
__ADS_1