
“Kenapa Sayang?” jawab Wayan saat menerima telepon putri tunggalnya.
“Pa, aku hanya telepon sebentar takut Papa sibuk melayani pembeli. Aku sedang berkumpul bersama keluarga Mas Mukti Pa. Semua sudah terungkap. Jadi Papa tenang. Dalangnya sama dengan yang menyiram kopi ke badan aku,” ucap Ayya kepada Wayan.
“Alhamdulillah kalau semuanya sudah terungkap,” ucap Wayan.
“Iya Pa. Lalu tiga minggu lagi kami akan pulang ke Bali. Tapi bukan itu intinya. Satu bulan lagi mama dan papa di sini mau melamar aku ke Papa. Jadi aku kasih tahu duluan sama Papa. Cuma jangan gembar-gembor ke mana-mana. Ini cuma kita dulu ya Pa. Soal teknis dan yang lainnya nanti kita bahas saat aku pulang,” kata Ayya.
“Oke. Papa akan terima kedatangan mereka,” jawab Wayan dengan terharu, dia diberi kesempatan oleh Allah untuk menerima lamaran putrinya.
“Dan Papa juga jangan kaget, karena satu setengah bulan dari sekarang aku akan langsung menikah. Jadi lamarannya satu bulan lagi, lalu satu setengah bulan dari sekarang atau dua minggu dari lamaran kami langsung menikah ya Pa,” jelas Ayya.
“Kenapa terburu-buru seperti itu? Apa kamu hamil?” tanya Wayan khawatir.
“Nggak Pa. Alhamdulillah aku tidak hamil, aku masih tetap murni anak Papa. Tidak pernah tersentuh oleh siapa pun. Ini hanya berkaitan dengan bolak-baliknya kakak iparku. Dia sedang hamil Pa. Jadi nggak bisa bolak-balik Badung ke Jogja berulang-ulang. Jadi dia hanya bisa satu kali datang. Untuk itulah dia akan tinggal di Bali selama 2 bulan untuk persiapan pernikahanku,” ucap Ayya yang disenyumi Mukti.
__ADS_1
‘Aku memang baji-ngan Pa. Tapi aku tak pernah ingin menodai orang yang aku cintai sebelum menikah bila aku sadar. Dulu dengan Vio bukan karena keinginanku Pa,’ jawab Mukti dalam hatinya. Biar tak dispeaker karena dia duduk di sebelah Ayya maka dia jelas mendengar semua percakapan Ayya dan Wayan.
“Oke Papa akan siap-siap. Papa ngikutin saja semua yang diatur oleh keluarga calon suamimu,” ucap Wayan.
“Siap Pa. Nanti bicara lainnya saat aku sudah di Badung ya Pa. Pokoknya aku cuma kabarin itu agar Papa nggak kaget,” ucap Ayya.
“Iya Sayang. Jaga diri selalu ya. I love you cantiknya ibu Sukma,” Wayan menutup pembicaraan.
“Nanti lamarannya biar di rumahmu saja ya. Mama nggak ingin papamu merasa rendah diri atau bagaimana. Lamaran tetap di rumahmu karena itu kebanggan orang tua menerima lamaran di rumah sendiri. Nanti akad nikahnya di rumah mama yang dijadikan homestay di Bali atau rumah keluarga kita. Ini semata-mata agar cukup menampung tamu kalau kita pasang tenda di jalan. Mukti bilang di rumahmu jalan tak bisa digunakan karena hanya jalan desa utama, repot masyarakat bila kita pasang tenda.”
“Sejak sekarang akan dijadwalkan kita akan mengadakan pernikahan kapan, sehingga tamu tidak boleh ada pada saat itu di home stay mau pun di villa. Saat akad nikah kamu yang berumah di rumah itu, kami keluarga lelaki tinggal di villa. ‘Kan nggak mungkin satu rumah sebelum pernikahan.”
“Untuk itu kita harus mengatur waktunya sejak sekarang.”
“Aku ngikut saja Ma. Mama mungkin diskusi sama mama Vonny dan tante Laksmi, seakan-akan mereka ada di pihak aku di pihak calon mempelai perempuan. Bagaimana enaknya menurut mereka. ‘Kan Mama tadi tahu aku sudah bilang papa sendirian dan tidak berpengalaman soal ini. Aku tidak punya kerabat perempuan yang bisa menjadi pengganti ibuku untuk diskusi.”
__ADS_1
“Ya oke, pokoknya seperti yang tadi Mama bilang, untuk akad nikahnya kita pakai rumah Mama. Jadi itu rumah pihak perempuan. Lamarannya di rumahmu, tetap kita menghormati papa Wayan dan ibu Sukma sebagai orang tua kamu.”
“Baju adatnya adat Bali kan?” kata Ambar.
“Aku terserah Mas Mukti,” jawab Ayya.
“Nggak bisa Honey, ini pernikahan kita. Kamu harus bersuara maunya kita seperti apa. Mau pakai adat Banyuwangi atau adat Bali karena itu adalah kamu yang tentukan.”
“Kalau gitu pakai adat Bali saja ya bajunya, tapi untuk acaranya aku terserah mama dan papa Wayan nanti diskusinya mau pakai adat mana. Pakai adat Bali atau adat Jember. Aku nggak tahu,” ucap Ayya.
“Eh, nggak cuma adat Jember lho. Ada adat Surabaya, ada adat Banyuwangi selain adat Bali. Yang mana yang mau kamu pakai untuk acara adatnya?” kata Ambar.
Ayya berpandangan dengan Mukti dia bingung menentukan adat mana yang hendak dia pergunakan pada saat acara pernikahannya, sedang baju adatnya dia sudah menggunakan baju adat papa Wayan.
“Buat adilnya acara adatnya ikut adat Jember saja. Adat Mama, jadi pakaiannya pakaian Bali, tapi adatnya adat Jember. Karena kalau aku pakai baju Banyuwangi nggak pas aku lebih senang baju pernikahannya pakai adat Bali. Tapi semua terserah Mas Mukti sih. Kalau pendapat aku seperti itu,” ucap Ayya. Dia selalu menyerahkan keputusan pada calon imamnya walau dia telah memberi pebdapatnya.
__ADS_1
“Aku setuju semua pendapatmu,” Mukti langsung menyetujui pilihan Ayya. Dia menghargai pilihan calon istrinya.
Mukti senang akhirnya dia akan menikah secara resmi dan juga resepsi. Karena dulu dia tak pernah menikah resmi dan juga tanpa resepsi.