CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KENCAN PERTAMA


__ADS_3

Sebelum mematikan ponsel tentu saja Ayya mengirim pesan pada Ambar kalau dia telah usai belanja dan pulang ke rumah duluan. Padahal Ayya sama sekali belum belanja.


“Siapa sih gadis itu dan siapa juga ibu-ibu yang bersamanya?” Putri nama artis baru tersebut bertanya-tanya pada Lucas teman lelakinya.


“Ibu itu pemilik beberapa rumah sakit besar dan beberapa apotek besar di Jakarta. Kebetulan aku dan Carlo kemarin datang ke pesta pernikahan anak tunggalnya,” jelas Lucas. Memang management artis memilih siapa yang bisa ikut di undangan tersebut mewakili management.


“Jadi perempuan itu bukan kaleng-kaleng?” selidik Putri.


“Elo kamu kali ya kaleng-kaleng baru main 1 sinetron yang jadi pemeran pembantu aja udah bertingkah kaya artis super ngetop,” kata Lucas.


“Ma, kalau Mama ketemu Ayya tolong kabari aku ya Ma,” pinta Mukti dengan suara putus asa karena tak bisa menghubungi gadis pujaannya setelah ponsel Ayya tak aktif lagi.


“Memang kenapa enggak kamu hubungi sendiri?” tanya Ambar yang juga ikut terbawa euforia Vonny dan keempat kerabatnya yang asyik belanja.


“Ponselnya mati Ma, tak bisa aku hubungi,” jelas Mukti dengan tidak tenang.


“Kalau ketemua nanti akan Mama beritahu,” jawab Ambar sekarang dengan rasa bersalah tentunya. Kalau tahu jadinya seperti ini tadi dia biarkan saja Ayu belanja sendirian.


“Dari tadi Mama juga enggak pegang ponsel karena asyik belanja sama tante Vonny.” jelas Ambar lagi.


“Untungnya Ayya sudah tidak bersama Mama sehingga dia enggak tambah bete,” ucap Mukti.


“Iya Mama jadi merasa sangat bersalah pada Ayu. Padahal tadi dia hanya ingin beli roti burger sama dagingnya. Karena Mama ikut tante Vonny langsung ikut dan semuanya akhirnya ikut dan malah belanja yang enggak enggak seperti ini,” kata Ambar.


“Ini hanya sekadar pengalaman Mama aja. Untuk selanjutnya jangan pernah bawa dia ke mall kalau tak punya tujuan. Dia tak akan pernah mau. Kemarin aja mau aku bawa ke mall karena alasan mau beli sepatu bolanya Farhan dan Fahri. Kalau enggak dia enggak akan mau,” terang Mukti.

__ADS_1


“Jadi menantu Mama dua-duanya sama ya. Walaupun yang satu orang super kaya yang satu dari golongan biasa aja, tapi kedua-duanya tak suka belanja. Padahal mamanya Kak Adel itu biangnya belanja,” ujar Ambar.


“Iya Ma Kak Adel itu klop sama mas Sonny. Sama-sama lebih senang makan dan baca atau olah raga yang berhubungan dengan alam.”


“Kalau Ayya itu sama seperti aku. Lebih senang tempat yang tenang dan sepi. Dia enggak suka sama sekali ke mall seperti aku. Walau lama tinggal di Paris sekali pun aku enggak gila mall.”


“Mungkin nanti menantu Mama dari Aksa akan beda lagi sesuai dengan kesukaannya Aksa,” kata Mukti.


“Eh ini ada pesan dari Ayu, Mama baru lihat karena sejak tadi memang enggak buka ponsel. Ayu bilang dia sudah selesai belanja dan pulang duluan,” Ambar membaca pesan Ayu sambil bicara dengan Mukti.


“Sepertinya enggak mungkin Ma kalau dia bilang sudah selesai belanja. Dia sengaja kirim pesan itu sebelum belanja ke Mama karena sejak tadi aku hubungin dia ponselnya masih aktif hanya dia tidak mau ngangkat.”


“Ya sudah kamu tenang aja, temani adik-adikmu di Jakarta. Kasihan dari Surabaya kalau mereka enggak puas berkeliling,” Ambar menasihati Mukti.


“Mana bisa aku konsen menemani adik-adik kalau Ayya enggak ada kabar?” keluh Mukti jujur.


“Bukan soal nyasar Ma. Masalahnya dia bersama Carlo!” potong Mukti.


“Kamu tak usah jealous seperti itu. Sudah tenangkan pikiranmu dan konsentrasi pada adik-adik saja. Kasihan mereka kalau pemandu wisatanya pikirannya galau.”


“Aku sudah bilang sama Aksa kita pulangnya dipercepat mungkin enggak sampai asar kami di sini langsung pulang.  Aksa sudah bilang pada Farhan dan Fahri aku butuh cepat-cepat untuk packing karena besok pagi habis sarapan aku sudah harus berangkat ke bandara.”


“Ya sudah kamu pokoknya hati-hati. Kalau bisa Aksa saja yang pulang bawa mobil,” Ambar takut Mukti ugal-ugalan bawa mobil karena sedang kalut.


“Mama lupa aku kan pakai sopirnya Om Ariel. Enggak bawa mobil sendiri,” kata Mukti.

__ADS_1


“Oh iya ya kamu enggak nyupir sendiri,” kata Ambar.


“Mau makan di mana?” tanya Carlo. Lelaki itu sangat bahagia. Pertemuan tak terduga ini malah jadi kencan pertama mereka. Andai hari ini ada shooting pun dia akan izin tak datang daripada membuang kesempatan langka bersama pujaan hatinya.


Tadi di kasir Carlo juga makin kagum pada komang Ayu yang tak mau dibayari sama sekali. Padahal di belakang Carlo banyak gadis yang menadah tangan minta dibelanjain.


“Di mana ya enaknya?” kata Komang Ayu yang sudah selesai belanja.


“Kamu punya rekomendasi apa?” tanya Komang Ayu pada Carlo.


“Bagaimana kalau kalau di masakan Sunda itu? Di saung POJOK COBEKNYA ABAH?” tanya Carlo.


“Oke, enak tuh kayaknya makan ikan bakar sama lalapan,” Komang Ayu suka akan pilihan makanan nusantara yang Carlo tentukan.


‘Aku makin tergila-gila sama kamu. Ceweq lain maunya di makanan western atau menu luar. Kamu aku test masakan Indonesia malah suka banget. Pantas saat bertemu pun kamu sedang makan di resto pantai. Rupanya karena kamu memang menyukai makanan Indonesia,’ Carlo terus memuji Komang Ayu yang tampil apa adanya tak dibuat buat.


Carlo pun mengajak kedua temannya yang memang sejak tadi berdiri agak jauh.


“Ayo kita makan siang dulu,” aja Carlo pada Putri dan Lucas. Dia membawa belanjaan Komang Ayu walau sudah ditolak pemiliknya. Tapi Carlo memaksa membawakan.


“Habis makan aku langsung pulang ya,” kata Komang Ayu saat mereka baru masuk ke resto dan mencari lokasi duduk di area lesehan.


“Aku antarkan,” jawab Carlo.


“Enggak usah lah, aku naik taksi aja. Aku tahu jalan kok,” tolak Komang Ayu tak enak merepotkan.

__ADS_1


“Enggak bisa, aku harus antarkan,” kata Carlo ngotot.


“Terserahlah kalau kamu mau antar aku,” jawab Komang Ayu pasrah sambil tersenyum manis membuat jiwa Carlo melayang-layang.


__ADS_2