
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Tiket kita sudah, Mas antar Papa check out yok, biar malam ini Papa tinggal di villa. Dan Mukti biar temani Mama, karena Aksa mau belajar,” pinta Abu.
Bukan tanpa alasan Abu minta Sonny yang antar, semata agar Mukti kembali dekat dengan sang mama.
\*\*\*
Pagi ini Abu dan Ambar berangkat ke Surabaya sedang Sonny kembali ke Jogja.
Mukti pun mulai malam ini akan menginap di villa untuk menemani Aksa.
Semua pakaian Mukti dan Abu di villa ini tentu masih lengkap karena belum pernah dibereskan.
Karena di villa hanya berdua, maka hubungan Mukti dan Aksa menjadi dekat. Mereka banyak cerita apa pun. Biasanya Aksa hanya bercerita dengan Sonny yang sesama anak mama, karena buat Aksa Mukti sosok yang menyebalkan karena memonopoli papa mereka.
\*\*\*
"Bagaimana soal rumah di Jakarta ini? Kalian mau pertahankan atau enggak?" tanya Ambar pada anak-anaknya saat mereka sedang zoom rutin malam ini. Tentu awalnya Ambar akan tanya semua kegiatan Aksa hari ini, ujiannya, makannya, seragamnya dan semua hal. Bahkan sebelum Aksa berangkat sekolah Ambar akan menghubungi Mukti untuk mengecek apakan anak bungsunya bawa kartu ujian.
"Buat apa Ma? Di Solo nanti ada rumah. Di Bali masih ada rumah dan villa. Di Jakarta mau buat apa? Siapa yang mau pakai?" tanya Aksa.
"Bukankah walau sedikit itu buang biaya operasional? Kita tetap harus keluarkan gaji karyawan dan biaya perawatan agar rumah tidak hancur. Itu mubazir karena tak ada lagi yang akan rutin ke Jakarta bila perusahaan sudah definitif di Solo," panjang lebar si bungsu dari keluarga Lukito menjabarkan.
Abu dan Sonny langsung menangkap jiwa pebiznis handal dalam karakter Aksa. Kejeliannya menilai suatu persoalan tak bisa dipandang enteng.
Mukti yang tidak berjiwa biznis tentu tak bisa menilai seperti Sonny dan Abu.
"Jadi kalian enggak ingin punya rumah di sini?" Abu kembali menegaskan niat anak-anaknya.
__ADS_1
"Enggak," jawab si kecil cepat.
"Aku pikir juga enggak perlu Pa," Sonny memberi pendapatnya.
"Lebih-lebih usaha kita sudah akan pindah ke Solo buat apa kita rumah di Jakarta? Kalau butuh menginap ya kita nginep di hotel aja repot amat," lanjut Sonny lagi.
"Dulu Papa dan Mama beli rumah di Jakarta kan karena ada perusahaan di sana," ulas Mukti. Sekarang buat apa kita pertahankan kalau Papa sudah pindah ke Solo?"
"Oke berarti deal ya kita buang rumah Jakarta," kata Ambar.
"Ya enggak dibuang juga kali Ma," jawab Aksa.
"Iya maksudnya gitu lah. Berarti kalian nggak nyesel kan?" Ambar memastikan pendapat tiga anaknya.
"Enggak Ma," kata Mukti pasti.
"Pokoknya bayar gudang Jogja ya," goda Sonny. Sekarang barang yang tiba di alamat Jogja sudah penuh di dua kamar kosong di rumah Sonny, juga di gudang. Besok barang yang datang terbaru akan diatur di ruang tamu dan ruang tengah.
"Siap," kata Abu. Mereka sekarang ada apa pun akan di diskusikan bersama.
"Oke masalah rumah udah selesai. Sekarang kita bahas masalah eyang Angga."
"Kalau kita pindah Solo. Kita harus pikir eyang Angga sendirian di Surabaya. Enggak mungkin tiap saat salah satu dari kita gantian nemani misal dengan jadwal piket mingguan."
"Eyang harus kita bawa ke Solo. Masalahnya eyang belum tentu mau. Tante Vonny dan Om Sjahrir mau coba bujuk eyang Angga untuk ikut kita di Solo. Minggu depan mereka ada pertemuan bisnis di Surabaya. Jadi sekalian mau nginep di rumah eyang sambil ngebujuk."
__ADS_1
"Kenapa Mama dan Papa bingung kalau harus melepas eyang Angga sendirian di Surabaya kan ada Tante Laksmi?" pancing Abu.
"Tante Laksmi sudah dikasih tahu kalau dia bukan anak eyang Angga. Saat dia nggak tahu, dia bukan anak eyang Angga aja Tante Laksmi kan nggak urusin eyang. Apalagi sekarang setelah dia tahu dia bukan anak eyang Angga," kata Abu.
"Seharusnya ya!" kata Mukti.
"Seharusnya kalau dia udah tahu dia bukan anak eyang Angga, dia HARUS tambah hormat dan mencintai seperti aku makin hormat dan cinta pada Mama dan Papa."
"Seharusnya tante Laksmi sadar, biar aku dan dia bukan anak kandung aja dari bayi dirawat dan diberi kasih sayang full. Padahal bukan anak kalian. Seperti itu."
"Aku terbebani harusnya aku balas jasa dengan lebih baik bukan malah menghindar Ma, Pa," kata Mukti berapi-api.
Mukti merasakan cinta kasih kedua orang tuanya terutama Ambar yang sudah tahu dia bukan siapa-siapa tetap mengasihinya sepenuh jiwa.
"Itu kalau orang punya otak!" jawab Sonny.
"Sudah kita enggak usah bahas dia. Kita bahas aja bagaimana dengan eyang Angga," jawab Ambar. Dia tak ingin menjelekkan orang lain yang tak tahu terima kasih.
"Aku setuju sih kalau eyang Angga dibawa ke Solo. Memang SEHARUSNYA bukan SEBAIKNYA. Seharusnya ikut kita, karena dia sendirian," kata Sonny.
"Mama dan Papa akan berupaya eyang Angga ikut kita," jawab Abu.
"Iya Pa harus itu kasihan eyang Angga sendirian," balas Mukti.
"Masalahnya Papa lupa soal eyang Angga. Papa dan Mama kemarin kontrak rumah kecil dekat rumah yang akan dibangun itu hanya ada dua kamar. Jadi nanti sementara Aksa, Papa bikinkan kamar darurat ya. Papa bisa minta tukang bikin kamar dibelakang."
"ku tidur di ruang tamu juga enggak apa apa Pa. Yang penting bersama kalian," jawab Aksa santai.
\*\*\*
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok