
“Itu seluruh kisah tentang aku ketika keluar dari sini. Tapi aku belum tahu tentang Carlo yang tiap hari datang ke cafe tersebut. Aku juga nggak tahu kalau kejadiannya itu ada di cafe itu karena waktu aku makan siang melihat dua gadis itu aku duduk di sana. Aku setiap makan siang ada di sana. Aku nggak pernah lihat Mas lagi mungkin karena Mas sudah dilarang Mas Sonny tapi aku nggak lihat Carlo juga.”
“Carlo setiap hari dia telepon aku kadang satu kali kadang tiga kali tapi kemarin waktu aku ngobrol sama Sonny dia aku block.”
“Kenapa dia menghubungi kamu sedang kamu janjiannya sama Lukas?”
“Aku pernah telepon Lukas satu kali, tapi yang bicara Carlo. Sehingga sejak itu nomor Lukas juga aku block. Begitu pun nomor Carlo.”
“Sesudah itu ada beberapa nomor yang selalu menghubungi aku tapi aku nggak angkat Karena aku tahu pasti itu nomor mereka. Kan sejak itu aku kembali ke nomor lama.”
“Kalau begitu sekarang buka block kedua nomor tersebut kita mulai penyelidikan kita mengapa mereka menghubungi kamu terus. Kamu janjian saja bertemu dengan Carlo satu kali untuk mengetahui apa motivasinya. Mas dan Wayan serta Made akan dukung kamu sebelum mereka pulang ke Bali. Karena mereka juga akan segera pulang begitu urusannya selesai.”
“Nanti malam aku akan mulai buka blockir mereka. Jangan sekarang. Aku masih malas bicara dengan mereka,” kata Ayya.
Mukti menuang air putih dan meminum dari gelas yang Ayya bawa tadi. Ternyata tanpa mereka sadari dua jam lewat mereka bicara.
__ADS_1
“Kayanya mama sama papa sudah pulang. Ayo kita keluar. Nggak enak di kamar kelamaan.”
“Enggak apa-apa, sejak tadi pintu tak di tutup koq. Tak perlu takut seperti itu,” jawab Mukti.
“Aku mau bikin teh sore untuk mereka,” balas Ayu langsung membuka lebar pintu kamar dan keluar.
“Mama sudah lama?” tanya Ayya melihat Ambar sudah di dapur.
“Belum. Nggak berapa lama kok,” jawab Ambar berbohong. Padahal cukup lama dia tiba, bahkan sempat mendengar sebagian pembicaraan Mukti dan Ayya.
“Teh panas saja. Tadi Mama beli ini. Lumpia semarang tapi belum digoreng jadi mau mau Mama goreng dulu,” ucap Ambar sambil mengeluarkan satu kotak kue.
“Asyik banget. Mama beli banyak nggak?” tanya Ayya cepat.
“Kenapa memangnya?”
__ADS_1
“Aku suka banget Ma lumpianya. Lebih-lebih sama kaldu bawang putihnya. Aku nggak ngerti nyebutnya apa Ma? Karena itu kan bawang putih tapi kental. Bukan kaldu juga ya Ma? Pokoknya itulah. Enak enak banget kan Ma?” ucap Ayya.
“Untuk Mama beli banyak ya. Walau Mama nggak tahu kamu suka tapi Aksa memang suka banget.”
“Wah aku kembali saingan sama Aksa. Semoga Mas Mukti juga nggak suka ya Ma. Jadi sainganku nggak terlalu banyak,” ujar Ayya.
“Siapa bilang? Mukti Aksa dan Sonny itu penggila lumpia semarang,” jawab Ambar. Dia tak jadi menggorenga karena pekerjaannya diambil alih calon menantunya.
“Ya ampun. Semoga kak Adel nggak sama. Jadi masih ada lah yang tidak saingan sama aku,” ucap Ayya penuh sesal/
“Nggak apa-apa. Aku nggak saingan kok Honey,” kata Mukti.
“Jatah aku buat kamu deh Yank,” lanjut lelaki itu lembut. Dia tetap tak mau dengan konsensusnya Ayya tadi bahwa mereka ngambang dan untuk sementara tak usah merasa Ayya adalah tunangannya.
Tadi Ayya meminta Mukti menganggap Ayya hanya sebagai karyawannya seperti dulu sebelum mereka tunangan. Tentu soal itu Mukti tidak menyetujuinya. Jadi di depan orang dia tetap memperlihatkan bahwa Ayya tetap tunangannya.
__ADS_1