CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
2 LAWAN 1


__ADS_3

“Kok kamu sudah keluar? Apa sudah selesai makannya?” tanya Ambar.


“Iya Ma. Ini mau taruh piring kotornya. Mas Mukti sudah selesai makan dan dia tadi minta kentang. Mungkin sudah selesai digoreng oleh Bu Pinem,” kata Ayya.


“Kami punya lemet Ma. Mama mau cobain?” kata Ayya.


“Tadi sore bu Pinem bikin lemet,” lanjut Ayya.


“Aduh Mama udah cukup kenyang, tapi lihat lemet kepengen juga,” kata Ambar. Dia pun mengambil lemet hangat dan membuka bungkus daun pisangnya.


“Mama besok habis makan siang pulang ya,” ucap Ambar.


“Kok cepet Ma? Mas Mukti belum juga sembuh. Kalau Mama ke sini buat mas Mukti ya tunggu sampai dia sembuh lah Ma.”


“Mama yakin besok pagi dia udah sembuh kok. Tenang aja,” kata Ambar dengan yakin.


“Aamiiiin, semoga apa yang Mama bilang benar-benar terwujud,” jawab Ayya tulus.


“Mama pesawatnya sore jadi dari sini habis makan siang,” jelas Ambar.

__ADS_1


“Mama mau request apa buat besok pagi, aku masakin deh,” tanya Ayya.


“Nggak, Mama nggak kepengen apa-apa dengan masakanmu. Cuma kangen sama ayam betutu yang di tempat langganan Mama aja,” ucap Ambar. Bukan tak ingin dimasakin. Tapi mencegah Ayya sibuk masak. Padahal siapa sih yang enggak mau dimasakin Ayya?


“Kalau begitu, aku pesenin ya Ma buat besok pagi, biar diantar ke sini sekalian Mama bawa buat ke Solo ya?” kata Ayya.


“Eh iya bener. Kamu pesan sekarang minta 2 ayam utuh dan 1 bebek utuh. Jadi besok Mama bawa ke Solo,” kata Ambar. Tentu saja dia sangat antusias bisa bawa bebek dan ayam betutu dari tempat langganannya.


“Iya Ma,” kata Ayya. Dia pun minta nomor telepon pembuat ayam dan bebek betutu langganan Ambar. Ayya memesan dua ayam dan satu bebek. Karena satu ayam tentu untuk dimakan di studio.


“Aku cek mas Mukti dulu ya Ma. Takutnya dia butuh sesuatu. Aku mau kasih dia ponselnya aja biar kalau dia butuh aku bisa panggil lewat ponsel. Karena ponselnya tadi jauh di meja.”


“Ini Mas kentangnya masih panas. Ini juga ada lemet kalau Mas mau,” Ayya membawa satu piring kentang french friesh panas, satu piring kecil lemet dan satu gelas kosong serta satu botol air putih.


“Mas ingin duduk di luar aja boleh?” pinta Mukti.


“Mas kuat kok jalan pelan-pelan,” lanjut Mukti lagi.


“Oke, Ayo,” kata Ayya. Dia pun meletakkan nampan itu di meja lalu membimbing Mukti untuk keluar kamar.

__ADS_1


“Bu Pinem, tolong nampannya bawa sini. Pak Muktinya mau duduk di luar aja,” kata Ayya ketika keluar kamar. Kebetulan Bu Pinem sedang ada bersama Ambar.


‘Ternyata benar tak butuh dokter untuk datang memeriksa. Begitu Mama yang datang dia langsung bisa lebih baik,’ kata Ayya dalam hatinya melihat perbedaan Mukti begitu Ambar datang.


“Ini Mas, dimakan mumpung masih panas.”


“Ma aku lemes loh dikasih makan sama dokterku bubur. Bubur itu kan nggak bikin kenyang. Bukan nggak bikin kenyang maksud aku kenyangnya nggak bertahan lama. Aku jadi lapar terus,” keluh Mukti.


“Lho kok aku yang disalahin?” kata Ayya.


“Merasa jadi dokter aku ya?” goda Mukti.


“Tu Ma. Begitu ada Mama dia langsung sehat. Langsung bisa godain aku. Tadi boro-boro Ma,” kata Ayya.


“Iya tuh. Kalau kangen Mama bilang aja, pakai belaga sakit dulu biar Mama datang,” balas Ambar.


“Sekarang gantian kan aku yang dikeroyok. 2 lawan 1 enggak imbang nih,”  canda Mukti. Ambar dan Ayya langsung tertawa mendengar perkataan Mukti.


Mukti pun makan lemetnya lebih dulu bukan kentang yang tadi dia minta ternyata rasa lemet lebih enak di mulutnya yang pahit daripada rasa kentang goreng.

__ADS_1


__ADS_2