CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PEMAKAMAN IBU


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



Komang segera menyalakan ponselnya.



‘*Pakde. Saya sudah di bandara Denpasar tunggu saya sampai saya tiba baru kita bahas pemakaman ibu ya*,’ tulis Komang pada pakde Saino.



‘*Iya, Pakde sedang menunggu khabar dari papamu. Nomor ponselnya sejak kemarin tak bisa dihubungi*,’ jawaban yang Komang terima dari pakde Saino menyadarkan Komang kalau dia malah melupakan belahan hati sang ibu. Papanya malah belum dia beritahu sejak kemarin.



‘*Papa kemana ya koq enggak bisa dihubungi? Apa papa merasakan kepergian ibu karena kedekatan batin mereka sangat dekat? Mengapa papa tak bisa dihubungi*?’ pikir Komang. Dia malah tak memperhatikan perjalanan sudah sampai mana. Yang dia tahu dewa penolongnya sejak masuk mobil sibuk melakukan koordinasi dengan teman-temannya di ponsel yang tak pernah bisa sunyi.



"Ini galeri saya yang di Badung nanti temuin Sita agar dia bisa langsung mengenal kamu. Sekarang kamu turun dulu." Mukti dan Komang tiba di galery milik Mukti.



"Sebentar saya panggil Sita untuk temuin kamu." kata Mukti begitu mereka turun di galerinya.



  "Kamu turun aja sebentar nanti diantar sopir ke rumahmu."



 "Tidak usah Pak. Saya bisa kok pulang sendiri. Banyak angkot dari sini menuju daerah rumah saya," tolak Komang merasa tak enak terus merepotkan Mukti.



 "Sudah, jangan banyak ngebantah." Mukti langsung masuk galery dibuntuti oleh Komang



 "Sita mana?" tanya Mukti.



 "Ada Pak sedang di kamar mandi," jawab seorang pegawai lelaki.



 "Suruh ke ruangan saya cepat."



 "Baik Pak."



 "Kamu duduk situ," kata Mukti pada Komang Ayu.



 "Kamu biasa dipanggil siapa?"


__ADS_1


 "Terserah pemanggilnya Pak. Ada yang panggil Komang. Ada yang panggil Kokom. Ada yang suka goda panggil Kopyang kalau di Jakarta. Kalau di Bali sini saya biasa dipanggil Omy. Tapi orang tua saya memanggil Yaya.”



 "Oke terserah orangnya ya.  Saya akan sebut kamu Komang di depan semua orang, tapi saya akan panggil kamu Ayu," kata Mukti.



 \*'Nama Ayu itu sesuai untuk wajahmu yang Ayu,' \*kata Mukti dalam hati tentunya.



"Iya Pak. Bapak memanggil saya?"  Sita yang tadi dipanggil Mukti masuk ke ruangan yang memang tak ditutup oleh Mukti.



 "Sita empat bulan ini saya akan jarang datang karena saya punya program untuk pameran di Solo. Kebetulan saya ketuanya."



 "Kamu harus standby saat saya tanya stock barang dan semua data."



 "Baik Pak."



 "Lalu kakak saya akan menikah di Jakarta. Jadi saya super sibuk." Lanjut Mukti.



 "Wah Pak Sony akan menikah?" Sita sebagai pegawai lama tentu tahu siapa kakak pak Mukti.




 "Saya minta kamu benar-benar bekerja yang baik."



 "Ya Pak. Saya akan tetap bekerja dengan baik." Janji Sita.



 "Lalu ini Komang. Hari ini mau pulang untuk pemakaman ibunya. Dia baru datang dari Jakarta. Nanti kalau sudah selesai urusan pemakamannya Komang akan datang ke sini. Kalian saling tukar nomor ponsel saja. Kalau saya sedang sibuk lupa membalas pesannya, nanti dia langsung kerja di sini."



 "Kamu juga jangan lupa beritahu saya langsung saat mau bekerja." pesan Mukti pada Komang Ayu.



  "Iya Pak," jawab Komang, lalu Komang dan Sita bertukar nomor telepon.



 Buat Sita, sikap dan kelakuan Mukti seperti ini tak aneh. Banyak pegawai di galery ditolong kerja, bukan karena melamar. Termasuk dirinya.



 Sita masuk kerja saat dia butuh uang buat biaya calon suaminya yang tabrakan. Dia butuh biaya rumah sakit. Sita dan calon suami sama-sama anak yatim piatu. Ada seorang pegawai galery di Denpasar yang Sita minta bantuannya. Dan pegawai itu lapor pada Mukti.

__ADS_1



 Walau tak mengenal Sita, Mukti langsung membantu biaya rumah sakit.



 Sejak itu Sita dan calon suami bekerja di Galery sebagai balas jasa pada Mukti. Gaji mereka tak dipotong karena Mukti tak menganggapnya sebagai hutang!



 "Jadi jelas ya kalau saya enggak ada, kamu langsung temui Sita tapi kamu tetap kabari saya." kata Mukti.



 "Baik Pak." Komang mengangguk.



 "Ya sudah, sekarang kamu langsung masuk mobil dan sopir saya akan langsung antar kamu ke rumahmu!"



 "Terima kasih Pak." Komang langsung menyalami Mukti. Dia tak menyangka malah akan diantar sampai ke rumah oleh sopirnya Mukti.



“Ibuuuuuuuuuuuuuu,” Komang melihat wajah putih pasi ibunya yang sudah dingin.



“Jangan ada tetes air mana Nduk. Tinggal menunggu kamu kita akan makamkan ibu. Liang sudah disiapkan sejak tadi pagi,” bisik bude Ati memeluk anak tunggal Wayan dan Sukma itu.



Komang menenangkan dirinya dan berupaya tegar. Dia pun menerima segelas air putih yang bude berikan.



“Kamu siap Nduk?” tanya Saino.



“Inggih Pakde. Ayo berangkat. Kasihan ibu bila ditunda-tunda,” jawab Komang berupaya tegar. Sebagai anak tunggal dia  harus siap sejak saat ini dia tak punya keluarga lagi di Bali, selain sang papa di Gianyar yang masih belum bisa ditemui saat ini.



Malamnya, Pakde Saino bilang ada sedikit uang sisa dari yang pertama di transfer kemarin, juga ada tambahan transferan dari dua adik Sukma tatkala tahu kalau kakak sulung mereka meninggal sehingga Komang tak perlu memberi uang lagi untuk semua biaya pemakaman.



Bude menyerahkan semua uang sumbangan warga juga uang dari kedua paman Komang.



“Bude, bisa dipegang saja? Gunakan itu buat uang selametan ibu hingga tujuh hari. Nanti kalau kurang kabari aku. Semoga kita bisa bikin selmetan 40 harinya ibu juga,” Komang memasrahkan uang itu pada bude Ati untuk mengelola buat selametan pengajian saja.



“Baik Nduk. Bude akan buat selametan dan pengajian tiap malam sampai malam ke tujuh di rumah bude saja ya. Biar agar luas duduknya,” bude Ati menerima amanat Komang. Memang rumah Komang lebih kecil ruang tamunya dibanding ruang tamu rumah pakde Saino.



“Injih Bude. Itu lebih baik,” jawab Komang.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok



__ADS_2