
“Mas aku merem duluan ya,” pamit Ayya. Sehabis salat isya Ayya pamit tidur lebih dulu.
“Ya,” jawab Mukti pelan. Dia tak rela Ayya jauh darinya walau hanya masuk ke kamar saja. Tapi dia juga sedang menggebu ingin kembali ke bahan yang sedang dia kerjakan. Tinggal finishing lalu siap tampil.
“Ini nanti buat temen kerja,” Ayya menyiapkan satu botol air putih dan satu piring kecil ubi rebus dalam nampan kecil.
‘Tadi katanya bilang mau nyiapin nasi capcay, tapi ternyata yang dikasih cuma ubi rebus,’ batin Mukti. Tentu saja dia tak mau komplain secara langsung pada kekasih hatina itu. Dia terima saja semua yang disiapin.
‘Masih bagus sekarang ada yang siapin, sebelumnya kan juga nggak ada apa-apa. Kalau aku nggak minta pasti Bu Pinem juga nggak kasih apa pun!’ Mukti menyadari hal itu dan mensyukuri semua yang dia miliki saat ini.
“Mas maem dulu yuk,” ajak Ayya memecah keheningan malam. Saat ini sudah jam 01.30 WITA.
“Loh, kamu kok bangun?” tanya Mukti kaget melihat kekasihnya berdiri di depan matanya.
“Iya, tadi aku pasang alarm jam 01.00 untuk masak,” jawab Ayya. Mukti pun mengikuti Ayya.
‘Gila bener ini calon istri bela-belain bangun pasang alarm cuma buat masakin aku. Gimana kalau sudah jadi istri coba? Aaaah … bikin aku nggak sabar ngehalalin dia,’ kata Mukti dalam hatinya sambil mengikuti Ayya yang berjalan ke meja makan.
“Menu kayak gini nggak enak kalau dingin, jadi aku bikin baru. Maaf ya cuma ada ayam ungkep yang aku goreng sama capcay kuah,” ucap Ayya sambil menyendok sedikit nassi ke dalam piring.
“Kamu ikut makan ya?” pinta Mukti.
__ADS_1
“Nggak Mas, cukup Mas aja. Aku temenin sampai selesai.”
“Nggak usah ditemenin juga nggak apa-apa kok. Kamu tidur aja,” jelas Mukti.
“Nggak apa-apa Mas. Habis ini aku tidur lagi kok,” tolak Ayya.
Mukti jadi tak enak karena Ayya terpaksa bangun untuk memasakkan dirinya.
“Atau habis ini Mas tidur ya? Bangun besok subuh. Mas kurang tidur loh,” Ayya memperingatkan Mukti agar menjaga dirinya.
“Ya sudah habis ini Mas tidur deh. Kayanya enak tidurnya sambil meluk nih,” goda Mukti.
“Iya, meluk dalam mimpi,” jawab Ayya.
‘Nggak bahaya bagaimana? Pasti bahaya buat jantung aku! Aku pasti deg-degan dan nggak bisa merem,’ kata Ayya dalam hatinya. Memeikirkan itu saja jantungnya sudah bergerak lebih cepat.
“Sudah ah nggak usah neko-neko,” ucap Ayya.
“Janji nggak ngapa-ngapain Yank. Cuma peluk aja kok. Biar tidurnya nyenyak,” pinta Mukti serius.
‘Ih gimana aku mau bisa tidur kalau dipeluk?’ kata Ayya lagi. Dia sungguh taak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
‘Wah kayaknya gawat nih sekarang. Semua harus diungkapkan nggak bisa menghindar begitu aja,’ tekad Ayya.
“Bagaimana mau tidur nyenyak Mas, kalau Mas peluk?”
“Ya enak kan hangat. Jadi pasti nyenyak,” kata Mukti sambil makan. Dia memandang wajah di depannya karena Ayya memang duduk di seberang mejanya.
“Apa bukan kebalik? Malah jadi malah nggak bisa merem Mas.”
“Kok malah jadi nggak bisa merem?” tanya Mukti. Dia memang benar-benar tidak mengerti mengapa malah jadi nggak bisa tidur.
“Bagaimana mau tidur kalau deg-degan,” kata Ayya dengan wajah memerah. dia menunduk tak berani menatap wajah tunangannya tersebut.
Mukti kembali tertawa terbahak-bahak. Dia uyel-uyel puncak kepala Ayya dengan gemas.
“Ya Allah Yank. Cuma dipeluk aja deg-degan,” balas Mukti.
“Buat Mas mungkin sudah biasa meluk perempuan bahkan lebih dari itu pun Mas juga biasa. Tapi buat aku kan aneh Mas. Aku serius nanti jadi nggak bisa merem. Jadi lebih baik janganlah.”
“Kalau biar bisa tahu benar apa nggak prediksimu itu, harus trial and error,” kata Mukti.
“Mas kan udah janji sama mama nggak akan macam-macam.”
__ADS_1
“Nggak perlu janji sama mama Yank. Yang perlu itu janji sama diri sendiri. Mas sudah janji kok nggak ngapa-ngapain. Beneran cuma peluk aja,” kata Mukti.
Ayya memandang mata Mukti yang sedang menatapnya dia mencari kejujuran di sana dan dia lihat keteduhan mata tunangannya tersebut. akhirnya Ayya hanya diam. Mukti menganggap itu adalah izin.