CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TENTANG KAMU, MAMA DAN PAPA


__ADS_3

“Ma boleh masuk?” tanya Ayya saat ketukannya mendapat jawaban dari Ambar di dalam kamar.


“Masuk aja Yu, Mama enggak kunci koq,” jawab Ambar.


“Aku pamit dulu ya Ma.” kata Ayu. Mereka berdua duduk di tepi ranjang kamar itu.


“Iya, kamu jaga diri dan jaga kesehatan ya, Kamu harus sabar sama Mukti karena mungkin akan banyak kata-kata dia yang tak kamu sukai,” Ambar memberitahu Ayya kemungkinan gadis itu akan makan hati dengan pikiran Mukti yang tak selaras dengan banyak orang.


“Nggak apa-apa, aku mengerti Ma,” jawab Ayya. Tentu tak enak bilang dia sebal dengan putranya Ambar kan?


“Kamu sudah makan? Maksud Mama sudah kenyang? Kamu nanti sampai Bali itu siang loh.”


“Iya Ma sudah makan kok. Sudah cukup kenyang. Paling nanti sampai Bali biasanya mas Mukti langsung makan di galeri yang kita datangin pertama. Kayanya sih besok mau ke galeri di Denpasar,” jawab Ayya.


Saat itu Abu masuk, dia tak tahu ada Ayu di kamar tempat dia tidur bersama Ambar di rumah Ariel.


“Wah Papa ganggu ya? Maaf ya,” kata Abu.

__ADS_1


“Enggak ganggu Pak, aku cuma lagi pamit sama Mama. Kalau pamit di luaran itu kan buat umum kalau sama Mama aku pasti pamit duluan,” kata Ayu.


“Sama Papa enggak pamit khusus kayak ke Mama ?”goda Abu.


“Nggak mungkin lah aku masuk kamar cuma berdua Papa. Apa pun yang terjadi pasti omongan orang akan berdampak buruk,” kata Ayu.


“Bagaimana proses perkaramu?” tanya Abu.


“Apa kemarin Papa enggak sempat ngobrol sama Pak Putut saat resepsi?”


“Waktu di gedung enggak sempat lah. Cuma kasih selamat aja. Namanya di gedung seperti itu rame banget,” ujar Abu.


“Papa minta kamu jangan pernah cabut perkara ya,” pinta Abu.


“Enggak akan Pa. Kalau cabut perkara aku bisa disunat Mama,” Ambar tertawa mendengar joke dari Ayu.


Saat itu Mukti juga ikut masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu. Mukti melihat mama, papa dan Ayya sedang tertawa bahagia. Bukan sedang bicara serius.

__ADS_1


Sebenarnya tadi Mukti mencari Ayya ke mana-mana, tapi tidak ketemu. Dia juga mencari Ambar di teras belakang maupun di tengah bahkan Mukti tanya Tante Vonny, tapi ibunya Adel tidak tahu di mana Ambar berada.


“Mas Mukti cari Mbak Ayu?” tanya Fahri.


“Kamu memangnya lihat dia ada di mana?” jawab Mukti.


“Tadi masuk kamar Bude Ambar,” balas Fahri.


“Oh oke, terima kasih ya,” kata Mukti.


“Kamu nih main masuk aja enggak pakai ketuk pintu,” Abu menegur Mukti.


“Sengaja kok Pa. kalau aku ketuk pintu ada yang langsung kabur,” kata Mukti. Mukti pun masuk ke arah pembaringan karena sebenarnya sejak tadi Ambar duduk di pembaringan bersama dengan Ayu, sedang Abu duduk di kursi rias yang biasa digunakan Ambar kalau di ruangan itu.


“Mumpung enggak ada orang, memang sengaja aku cari tempat tersembunyi seperti ini. Aku mau bicara sama Papa sama Mama,” kata Mukti.


“Kalau begitu aku keluar dulu ya Ma, Pa,” Ayu langsung sadar diri kalau Mukti ingin bicara serius dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Enggak bisa Yank, karena yang mau aku bicarakan itu tentang kamu, Mama dan Papa,” kata Mukti serius. Dia tatap wajah Ayya yang ketakutan.


“Ada apa?” tanya Abu.


__ADS_2