
Boarding time. Ayya tetap diam, komen di status WA Ayya juga tak di jawab, tentu saja itu membuat Mukti makin kesal.
‘Kenapa sih aku sampai seperti ini?’ pikir Mukti
‘Bahkan dulu Vio tak berani membantahku, apalagi melawan seperti yang Ayya lakukan saat ini. Dan bila Vio sedikit membantah aku pasti akan langsung memarahinya dan Vio langsung diam. Tapi aku tak pernah bisa marah pada Ayya. Boro-boro aku marahin. Dia diam aja aku yang ketakutan,’ keluh Mukti kesal dalam hatinya.
‘Apa yang harus aku lakukan ya agar dia mau membalas pesanku atau bicara padaku?’
Mukti berpikir sebentar dan langsung mendapatkan ide apa yang harus dia lakukan agar Ayya mau bicara dengannya. Mukti langsung tersenyum dan kemudian dia tidur.
‘Ih kok malah dia tidur sih? kan yang niat tidur tadi aku,’ batin Ayya. Dia kesal karena keinginannya untuk menghindar dari Mukti dengan mengatakan ingin tidur malah Muktinya yang tidur.
__ADS_1
‘Konyol!’ kata Ayya lalu dia memandang awan yang berarak di luar jendela.
Sampai pesawat landing Mukti belum bangun, Ayya pun bangkit pelan-pelan dia tak ingin membangunkan Mukti. Biar nanti pramugari aja yang membangunkannya. Semalam Mukti tak bisa tidur setelah melihat Ayya dan Ambar berpelukan di ruang makan rumah Vonny. Dia segera atur strategi menyatakan cinta di depan Ambar dan Abu. Jadi sekarang dia benar-benar lelap.
Ayya mengambil travel bag miliknya, ada seorang lelaki yang baik membantu mengambilkan karena travel bag-nya terletak di bagian dalam tertutup dengan travel bag milik Mukti.
“Yang ini milik Anda juga?” tanya orang tersebut, karena travel bag Mukti dan milik Ayya adalah kembar hanya beda di size. Ayya menggunakan yang big size dan Mukti menggunakan yang middle mereka tak bawa yang kecil
Ayya segera keluar dari pesawat setelah travel bag dia terima.
“Pak, sudah tiba di Bali,” kata seorang pramugari membangunkan Mukti.
__ADS_1
Mukti melihat pesawat sudah sepi dan tak ada Ayya di sebelahnya. Mukti cepat mengambil travel bag-nya dan lari keluar. Dia sangat takut Ayya pergi dari sisinya.
‘Walau aku tahu di mana rumahnya, belum tentu dia pulang ke sana saat kabur. Apa yang aku harus terangkan bila aku tanya keberadaan Ayya pada pak Wayan?’ Mukti berlari keluar. Dia sangat takut kehilangan Ayya.
Mukti belum pernah merasakan takut kehilangan seperti ini. Bahkan pada Vio yang dia pikir cinta sejatinya dan pernah dia nikahi pun tak ada rasa was-was takut kehilangan. Apa ini yang dinamakan cinta sejati ya readers setia yanktie?
“Ups, maaf,” Mukti hampir saja menabrak seorang anak yang berjalan pelan di depannya.
“Apa yang harus aku katakan pada mama dan semua keluarga besar bila Ayya memang kabur dari sisiku?” keluh Mukti dalam gumam pelannya.
“Apa aku bisa hidup tanpa dia? Apa dia akan minta bantuan Carlo atau Arjun agar tak bisa aku temui?” Mukti langsung menduga hal buruk yang akan dia hadapi.
__ADS_1
Sekarang Ayya bukan gadis yang tak tahu apa pun. Mukti yakin bisa saja Ayya langsung beli tiket kembali ke pulang Jawa. Entah ke Jakarta atau Solo. Di sana ada Sri atau kembali kerja di cafe tempat kerjanya dulu. Pasti dua chef pemujanya akan senang bila Ayya kembali bekerja di sana.