
“Selamat siang, dengan siapa ya?” kata Wayan saat menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenal.
“Assalamu’alaykum Pa, ini aku,” kata suara di ujung sana.
“Ayya. Kamu ganti nomor Sayang?” tanya Wayan mengetahui yang menghubunginya adalah putri tunggalnya tercinta.
“Iya Pa. Dan aku minta Papa nggak kasih tahu nomor ini ke siapa pun. Aku cinta Papa dan nomor ini cuma Papa yang tahu. Please Papa jangan bilang aku telepon. Aku cuma kabarin Papa bahwa aku baik-baik saja. Kalau ada yang tanya tentang aku Papa harus bilang aku nggak pernah hubungi Papa sama sekali. Pasti sebentar lagi ada orang datang ke rumah tanya apakah aku pulang atau enggak. Jadi Papa ngerti kan Pa?”
“Ada apa Sayang? Kenapa kamu kabur? Kenapa kamu nggak pulang ke sini saja? Papa akan belain kamu apa pun yang terjadi.”
“Untuk saat ini aku nggak bisa cerita apa pun ke Papa. Yang harus Papa tahu aku cinta Papa dan nomor ini cuma Papa yang aku kasih tahu. Kalau Papa kasih tahu nomor ini ke siapa pun aku akan pergi jauh dari Papa dan nomor ini pun langsung aku ganti lagi. Jadi semua terserah Papa.”
__ADS_1
“Aku nggak bisa cerita apa pun Pa. Karena aku juga belum bisa menentukan aku mau ke mana.”
“Sekarang kamu di mana Sayang?” tanya Wayan.
“Aku masih di terminal Solo Pa. Aku belum tahu mau ke mana. Tapi aku yakin aku pasti selamat. Yang penting Papa tenang. Itu saja. Jadi kalau nanti ada orang cariin aku, Papa sudah tahu jawabannya. Papa pura-pura kaget nggak tahu aku di mana dan Papa ikut cemas karena aku menghilang.”
“Iya Sayang. Papa ngertiin kamu. Tetapi kamu jangan lost contact sama Papa ya?”
“Enggak Pa. Aku nggak akan lost kontak tapi Papa simpan nomor ini jangan pakai nama aku. Jadi nanti kalau suatu saat ada orang cek nomor Papa nggak ada nama aku. Biarin saja nama aku masih di nomor yang lama.”
Dia bingung sendiri apa yang terjadi dengan anaknya sampai kabur dan mengganti nomor tapi Wayan juga tak mau mendesak. Dia hafal karakter Ayya yang sama persis dengan Sukma. Kalau sudah memutuskan sesuatu Ayya dan Sukma tidak mau dipengaruhi siapa pun. Keputusan mereka tak berubah sebelum perubahan itu dia mau ubah sesuai kemauan sendiri.
__ADS_1
“Ya sudah cukup segitu saja ya Pa. Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykum salam.”
Dari kantor Abu semuanya pulang ke rumah bersamaan. Tentu dengan dua mobil. Ambar naik ke mobilnya Abu, Mukti dan Angga di mobil satunya dengan driver.
Sepanjang perjalanan Angga sama sekali tak mau bicara dengan Mukti.
Sampai di rumah Mukti langsung berlari masuk ke kamarnya Ayya dia memperhatikan tak ada yang berubah dari kamar itu. Dia buka lemari baju Ayya. Beberapa sudah tak ada tapi baju yang kembaran dengan Mukti dia tinggal dan yang paling mengagetkan Ayya meninggalkan ponsel yang Mukti belikan juga laptop ditinggal di meja. Diatas laptop ada cincin tunangan mereka!
“Ayyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” Mukti langsung berteriak. Ambar, Abu dan Angga langsung berlari ke kamar Ayu.
__ADS_1
Ambar melihat cincin tunangan yang ada di atas laptop juga ponselnya Ayya semua tak ada yang Ayya bawa. Begitu pun baju-baju kembaran mereka. Ambar masih bisa lihat karena lemari masih terbuka, belum ditutup oleh Mukti. Semua tak ada yang Ayya bawa. Seakan gadis tersebut ingin meninggalkan semua kenangan bersama Mukti.
Abu mengambil ponselnya Ayya, dia nyalakan. Ternyata di ponsel tersebut tidak ada kartunya Ayya. Ayya membawa nomornya jadi yang ditinggal hanya ponselnya saja mungkin nanti suatu saat nomor tersebut akan diaktifkan tetapi saat ini nomor tersebut memang sudah tidak aktif sama sekali.