CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
AYYA ANDIRA


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Kamu enggak cerita soal Ayya,” protes Mukti begitu Ayu selesai menutup percakapan dengan papanya dan mengaduk lemon tea miliknya yang sudah mulai mengendap.



“Ayya itu namaku, panggilan khusus dari kedua orang tuaku. Ketika lahir namaku adalah Ayya Andira.”



“Ayya singkatan dari Ayu dan Wayan. Nama ibuku Sukma Ayu dan nama ayahku Wayan sehingga namaku menjadi Ayya.”



“Ketika akan dimasukkan sekolah dan dibuatkan akte kelahiran maka menggunakan surat-menyurat dari surat nikah Papa dan Mama adopsiku. Namaku diubah menjadi Komang Ayu. Dalam akte kelahiran aku ditulis bukan anak kandung Wayan dan Dewi, aku ditulis anak adopsi mereka. Mungkin Dewi tidak mau bila dia menyebut aku adalah anak kandungnya. Mungkin dia takut hartanya akan jatuh ke tanganku jadi di akte kelahiran ditulis aku adalah anak adopsinya,” jelas Komang Ayu.



“Ayya. Kayanya aku lebih senang memanggil nama itu. Aku enggak akan panggil kamu Ayu lagi karena terlalu pasaran,” Mukti memutuskan mengganti panggilan untuk Komang Ayu.



“Terserah aja mau dipanggil apa pun, karena seperti yang pernah aku bilang dulu. Ada yang panggil aku Komang ada yang panggil aku Kokom ada yang panggil aku Kompyang. Apalah suka-suka mereka. Aku enggak keberatan kok.”



“Tapi enggak ada yang panggil kamu Ayu kan?” tanya Mukti



“Teman enggak, mereka lebih suka panggil aku dari kata Komang itu. Pakde, bude serta para paman dan bibi ku memanggil Ayu dan hanya ibu serta Papaku yang manggil aku Ayya, karena nama Ayya itu sangat berarti buat mereka berdua. Itu  adalah bukti cinta mereka berdua sehingga hanya mereka yang panggil aku Ayya.”



“Dan sekarang tambah aku,” kata Mukti.



“Keluarga boleh panggil Ayu, tapi hanya aku yang boleh panggil Ayya selain orang tuamu,” dengan posesif Mukti bicara seakan dia adalah pemilik Komang Ayu secara resmi.



Masih sore, Mukti langsung mengajak Ayya ke toko tas untuk mencari travel bag bagi Ayya.



“Itu kurang besar, ini aja,” Mukti memberi saran sambil menunjukkkan tas mana yang dia maksudkan. Tumben dia ikut bersama mendampingi Ayya.

__ADS_1



“Apa enggak kebesaran Mas?” bantah Komang Ayu.



“Bagaimana kalau kamu ngambil yang sedang aja dua? Kayaknya lebih enak sehingga kalau butuh bawa sedikit enggak perlu semuanya.”



“Terlalu banyak Mas, nanti uangnya enggak cukup,” tolak Komang Ayu.



“Enggak usah mikir uang. Uang yang ada di kamu langsung masukin tabungan. Kamu setor tunai di ATM . Itu ada banyak mesin ATM. ATM mu apa?” tanya Mukti.



“BPD Bali,” jawab Komang Ayu. Memang dia mendaftar rekening di bank tersebut. Jadi rekeningnya adalah rekening Bank Bali.



“Ya sudah sini sebutkan nomor rekeningmu biar aku setorkan semua yang kamu mau setor. Kamu pegang aja sedikit. Enggak perlu banyak-banyak uang cash di dompetmu,” kata Mukti.



Ayu menyisakan 5 lembar uang cash selebihnya dia kembalikan ke Mukti.




Mukti langsung mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening yang Komang Ayu berikan tanpa menghitung jumlah yang tadi Ayu setorkan pada Mukti.



“Ini kenapa banyak banget?” Komang Ayu kaget melihat notif uang masuk di ponselnya dari mBanking yang baru saja Mukti lakukan.



“Suka-suka aku,” jawab Mukti santai.



“Terus yang tadi nggak di setor?” tanya Ayya.



“Enggak perlu disetor, aku juga harus ngambil tunai kan? Kan sama aja nanti aku harus ngambil. Mendingan yang tadi dari kamu aja.”


__ADS_1


“Terserahlah,” jawab Ayya, sekarang dia sudah tak punya uang cash buat bayar travel bag sehingga mau enggak mau semua nanti Mukti yang bayar.



“Ini beli ini dan ini,” kata Mukti menunjuk satu tas pakaian kecil dan satu tas pakaian besar juga sedang.



“Kok banyak banget?” tanya Ayya.



“Nanti kita pakai bareng. Aku kan juga harus pakai tas. Baju aku kan kemarin ada beberapa gara-gara kematiannya Prilly. Kan aku dibelikan baju koko beberapa. Semua harus aku bawa pulang ke Solo kan?” kata Mukti.



“Ya sudahlah,” jawab Ayya sambil mengambil travel bag pilihan Mukti tadi. Jadi Mukti membeli satu set travel bag dari ukuran kecil sedang dan besar karena satu set tentu warna dan coraknya sama.



“Nanti yang kecil biar buat aku pakai. Kamu pakai terserah kamu yang besar atau yang sedang. Yang tak terpakai kamu lipat aja masukin di travel bag yang dipakai,” pesan Mukti.



“Baik,” jawab Ayya tanpa protes, dia cukup puas tak bingung bawa baju miliknya.



Hari ini adalah makan malam terakhir sebelum mereka bertemu lagi nanti saat lamaran. Saat lamaran nanti keluarga Sonny akan tinggal di sebuah kamar hotel terlebih dahulu karena tak mungkin orang melamar tapi sudah satu rumah. Sehabis lamaran baru semua menginap di rumah Sjahrir.



“Eyang, Papa, Mama tiket sudah aku beli ya. Tadi Ayya bilang kita berangkat jam 09.10 jadi besok jam 07.00 kita berangkat dari sini,” jelas Mukti pada Abu, Ambar dan Angga di meja makan.



\*‘Tadi pagi Ayu sekarang Ayya, ada apa lagi ini?’ \*kata Adelia dalam hatinya.



“Benar kan Ya?” tanya Mukti.



“Iya betul Pak,” jawab Komang Ayu.



‘*Iih ini anak pintar juga di depan orang dia panggil aku pak*,’ batin Mukti  sambil tersenyum dan senyum itu tentu saja dilihat oleh Adelia yang duduk tepat di seberangnya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.

__ADS_1



__ADS_2