CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
YANG ANAK MAMA SIAPA?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Mukti Diam seribu bahasa tidak mengajak Ayya bicara apa pun dan buat Ayya saat itu tidak masalah karena dia malah ngelamun tidak peduli pada Mukti yang masih marah. Tentu saja itu membuat Mukti semakin kesal. Mukti super ngebut pun Ayya tak protes karena dia memang sedang melamun.


“Iya Pak Putut,  kami telah tiba di parkiran Pak,” Mukti memberitahu dia telah tiba, saat itu pak Putut Adhyaksa SH memang menghubunginya menanyakan dia ada di mana.


“ ….”


“Saya lihat mobil Bapak, saya akan ke situ,” jawab Mukti.


“ ….”


“Baik,” balas Mukti dan dia langsung keluar dari mobil serta menghampiri mobil pak Putut.


Ayya yang kaget mendengar Mukti membanting pintu tersadar, dia ikut keluar dan ikut menghampiri Pak Putut dengan tergopoh-gopoh. Begitu Mukti melihat Ayya turun dari mobil, Mukti mengunci pintunya dari jauh dengan remote control.


“Apa khabar mbak Komang?” kata Pak Putut.


“Baik Pak. Bapak sehat?” tanya Ayya menerima uluran tangan pengacara gagah itu.


“Ya saya sehat,” jawab Pak Putut.


“Bagaimana lukanya?”


“Alhamdulillah sudah hampir sembuh,” jawab Ayya,


“Mana yang lain?” tanya Pak Putut lagi


“Mereka sudah di dalam lebih dahulu Pak,” jawab Mukti, dia sudah membaca pesan dari Made dan Wayan serta Ketut bahwa ketiganya telah tiba di pengadilan negeri dan sedang ngopi di cafe.

__ADS_1


“Kita masih punya waktu 1 jam. Kita nongkrong di cafe aja atau di sini tanya Mukti. Dia tak enak menentukan tempat ngobrol. Biar pak Putut saja yang menentukan.


“Di cafe saja lah sambil ngopi,” kata Pak Putut. Mereka pun menuju Cafe kebetulan teman-teman Mukti sudah ada di kafe lebih dahulu.


‘Dia enggak peduli padaku,’ batin Mukti sedih. Dia memesan kopi dan Ayya tak melarangnya sama sekali.


Ayya sendiri berpikir tak menegur Mukti karena ini di tempat umum dan dia bukan istri atau pacar Mukti. Kalau dia sebagai asisten diberi pesan dokter tentu akan dia ingatkan.


Tapi persoalan ini menjadi beda buat Mukti yang sedang sensitive.


Cukup serius pak Putut bicara dengan Made, Ketut dan Wayan. Tak lama Indra dan Lingga ikut datang. Sejak semalam pandangan Lingga terhadap Mukti sudah berubah. Gadis itu sudah tak mau lagi menjadikan Mukti sebagai kandidat calon suaminya.


“Iya Ma,” jawab Ayya saat mendengar ada panggilan dari Ambar. Tentu tadi mereka telah bertukar salam.


“Kalian jadi ke pengadilan?” tanya Ambar.


“Tadi malam papa telepon Pak Putut, karena Pak Putut bilang ada janji dengan kalian satu jam sebelum masuk sidang,” jelas Ambar.


“Ya Ma, kami sudah di lokasi kok,” kata Ayya. Lingga melihat dengan jelas bagaimana Ayya dan Ambar berkomunikasi dengan sangat akrab.


“Mama mau bicara sama Mas Mukti?”


“Enggak usah kalau memang kalian sudah di sana. Mama pikir kalian belum sampai maka Mama hubungi kamu,” jelas Ambar. Dia takut mereka belum sampai dan Mukti sedang menyetir maka dia telepon ke Ayya.


“Enggak, kami enggak telat dan sudah di sini,” jelas Ayya.


“Ya sudah salam saja buat Pak Putut dan Mukti,” ujar Ambar.

__ADS_1


“Nanti aku sampaikan ke Mas Mukti dan pak Putut Ma.”


“Kamu kapan jadi berangkat ke sini?”


“Kalau soal berangkat Mama tanya Mas Mukti aja. Nanti aku bilangin Mas Mukti sehabis dari sini biar Mas Mukti hubungi Mama ya? Sekalian kami cerita apa yang terjadi di dalam ruang sidang nanti,” Ayya tak berani menjawab kapan dia berangkat ke Solo atau Jakarta. Kalau menurut dirinya pribadi, dia lebih baik menunggu Mukti di Badung atau galeri lain daripada ikut ke Jakarta.


“Ya, Mama tunggu.”


“Ya Ma, nanti aku ceritain. Assalamu’alaykum,” Ayya memutus pembicaraan dengan Ambar.


“Wa’alaykum salam.”


“Pak Putut. Maaf tadi ada salam dari Bu Ambar dan Pak Abu,” kata Ayya.


“Oh ya, terima kasih,” balas Putut.


“Yang anak mama siapa, yang ditelepon siapa,” kata Mukti pada Made yang duduk di sebelah kirinya. Ayya duduk di sebelah kanan Mukti. Lingga yang duduk di sebelahnya Made mendengar.


“Namanya juga mama punya anak perempuan ya kayak gitu,”  Made berupaya meredam amarah Mukti.


“Mas jangan lupa, sesudah sidang nanti telepon mama. Mama minta cerita lengkap sama tanya kapan kita berangkat ke Solo,” bisik Ayya.


“Nanti kamu ingetin lagi,” jawab Mukti singkat.  Saat itu pak Putut sedang bicara dengan Wayan dan Ketut tadi sudah bicara dengan Made.



__ADS_1


![](contribute/fiction/6969677/episode-images/1691140569948.jpg)


__ADS_2