
“Sekarang yang penting kita cari dulu siapa itu pembuat atau pengirim video karena kamu sampai sekarang belum dapat video yang dipotong,” kata Abu pada Sonny.
“Iya Pa. Nanti aku mulai cari siapa pengirim video tersebut walaupun dia pakai identitas siapa pun pasti bisa melacak.”
“Untung saja Mama minta nomor pengirim tersebut karena memang kuncinya ada di sana Ma. Pengirim pertama itu nomornya bisa menjadikan semuanya terang. Semoga saja nggak sampai 24 jam pengirim akan terlacak,” kata Sonny.
“Ya sudah sampai situ saja Mama mau pulang. Mama masih banyak tugas,” kata Ambar.
“Apalagi Ma?” tanya Sonny dan Abu hampir bersamaan.
“Mama mau bilang sama Mukti bahwa kebohongannya sudah terbongkar dari hari Minggu. Karena Ayu sudah mendengar perempuan menangis di sebelahnya Mukti.”
“Nggak usah lah Ma. Nggak usah diomongin soal itu,” cegah Abu.
“Bagaimana nggak usah diomongin? Nanti Mukti akan terus berbohong dan akan malah tambah ribet kalau dia terus berbohong. Dia harus sadar harus mengakui semuanya. Sekarang itu Ayu sedang sangat marah besar karena dibohongi oleh Mukti. Kalau saat itu Mukti tidak berbohong, Ayu tidak kabur dia. Terlebih-lebih dia tahu video itu hanya untuk dirinya berarti kan ada memang orang yang mau menghancurkan dia. Tapi Mukti juga menghancurkan dengan membohonginya itu yang Mama harus clear kan dengan Mukti. Mukti terlalu salah membohongi Ayu seperti ini. Dia kira Ayu nggak dengar semuanya.”
“Ayu sih bilang kamu bohong Mas. Tempatmu tuh sunyi senyap sedangkan di sini rame. Mama pernah dengar seperti itu tapi nggak tahu kalau Ayu itu ternyata sudah mendengar suara tangisan di sebelah nya Mukti.
__ADS_1
“Aduh tambah runyam kalau seperti ini,” ucap Sonny.
“Makanya Mama harus selesaikan.”
“Ya sudah Mama pulang ya. Karena Mama bawa mobil sendiri,” pamit Ambar.
“Kenapa nggak pakai sopir?” tanya Abu.
“Takut sopirnya ditanyain sama Papa, Mama lagi di mana. Nanti bisa bahaya kan. Sudah tahu pertemuan tadi pertemuan rahasia nggak boleh ada yang tahu,” kata Ambar.
“Jadi besok-besok kalau Ayu ingin ketemu lagi dia pasti percaya sama Mama karena pertemuan pertama saja Mama lulus sensor.”
“Oh iya, tadi kan Papa sudah cerita kan kalau tiap hari itu Carlo telepon ke nomornya Ayu yang lama.”
“Mama dapat nomor barunya Ayu nggak?” tanya Sonny.
“Ya enggaklah, kalau dapat pasti Mama kasih tahu semuanya. Serius Mama nggak dapat. Jadi dia kalau mau hubungi Mama memang dia ganti ke nomor lamanya. Dia tidak pasang dua nomor, takutnya salah pencet kan ada orang yang pasang dua sekaligus dia nggak berani seperti itu karena takut salah pencet katanya.”
__ADS_1
“Oke Ma. Aku tunggu kabar berikutnya,” kata Sonny.
“Hati-hati ya Ma, dan ingat harus sabar kalau ngomong sama Mukti, jangan sampai dia tambah merasa down,” ucap Sonny sebelum dia memutuskan sambungan telepon.
“Iya Mama akan hati-hati, kata Ambar saat kembali Abu mengingat dia untuk hati-hati.
“Eh lupa, tadi ada titipan dari Ayu buat Mukti.”
“Kiriman apa?” tanya Abu.
“Ayu nyuruh Mukti tetap nutup pameran besok hari Minggu sore. Ayu juga minta Mukti pakai kemeja yang dia kirimkan, entah apa maksudnya tapi tak boleh bilang itu dari Ayu. Pokoknya Mama harus mastiin dia pakai kemeja itu dan dia yang nutup pameran,” jelas Ambar.
“Oke kalau begitu selamat bertugas. Mama sekarang mau ke mana?”
“Ini Mama sudah tanya Mukti ada di mana. Dia bilang on the way pulang, jadi Mama ketemu di rumah saja.” jawab Ambar sambil berjalan menuju pintu keluar ruang kerja suaminya.
Ambar hendak meninggalkan ruang Abu, di pintu dia balik badan.
__ADS_1
“Pa, ngerasa enggak masakan kantin koq mirip hasil olahan Ayu ya?”
“Papa tadi mau bilang begitu. Tapi lupa.”