
Mukti menggoda Adelia, dia langsung video call. Saat itu Adelia sedang berada di mobil bersama suaminya. Tentu saja dia jadi jealous.
“Lihat nih, kami sedang makan mata roda. Mau dikirim nggak?” kata Mukti. Lalu satu persatu anggota keluarga di zoom oleh Mukti. Aksa melambaikan tangannya. Angga sengaja memegang mata roda dan menyuap ketika di bidik kamera oleh Mukti.
“Eyang awas ya,” ancam Adelia kesal, suamainya hanya tertawa saja melihat istrinya di goda eyang Angga.
“Makanya kamu cepetan ke sini,” kata Abu.
“Iya Pa, memang niatnya kami besok sore pulang kerja akan ke situ,” ucap Adelia.
“Siiiiip, besok aku bikinkan menu iga bakar ya atau mau request yang lain?” kata Ayya bersemangat.
Iya Dek, aku mau iga bakarmu pakai sayuran steak-nya yang banyak. Juga kentangnya, karena aku lihat kentangmu itu ukurannya gede-gede bukan seperti yang french fries,” Adelia setuju.
“Kalau mau dibikin kentang seperti french fries bisa kok Mbak,” jawab Ayya.
“Nggak. Aku pengen kentang yang gede-gede saja,” balas Adelia.
“Minta gulai kambing saja boleh? Jangan dibikin sop kambing, kepengennya gulai,” kata Sonny.
__ADS_1
“Siap Mas, besok aku minta Bu Parman belanja, jadi makan malam kita sudah ada gulai kambing dan iga bakarnya,” kata Ayya.
“Tentu iga bakarnya bukan kambing kan? Kalau dari kambing kecil-kecil banget. Jadi aku bikin iga bakarnya dari sapi.”
“Iya iga bakarnya sapi,” kata Sonny.
Ambar dan Abu saling berpandangan mereka bahagia melihat bagaimana kedua menantunya saling mensuport. Tak ada iri pada mereka. Sama-sama saling menyayangi dan keduanya memang bukan perempuan yang suka membenci orang lain.
“Kak bawain aku coklat monggo,” pinta Aksa.
“Aku takut nggak sempat belinya, nanti aku belikan yang di konter saja ya. Bukan di pabriknya,” kata Adelia.
“Tuh kan, kalau aku nggak ngomong kamu tuh nggak ingat sama pacar sendiri. Padahal bawanya buat pacar kan?” protes Aksa.
“Kayaknya ada di travel bag-nya Mas, ya Mas?” kata Ayya. Karena dia ingat dibeli saat 2 hari sebelum berangkat ke Solo, yaitu sepulang dari sidang.
“Iya Yank, ada di travel bag aku. Ambil saja di kamar aku. Belum aku buka travel bag-nya.”
“Nggak, aku nggak mau masuk kamarmu. Nanti Mas ambil saja atau biar Aksa yang ambil,” jawab Ayya.
__ADS_1
Semua mendengar karena saat itu masih video call dengan Adelia. Tentu saja Adelia senang Ayya bukan gadis yang matre dan sembrono. Dia menghargai sikap gadis itu.
“Ya sudah ya. Kami masih mau makan kue lagi,” kata Mukti.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya, terima kasih,” kata Sonny dan Adelia.
Mukti langsung menuju kamarnya mengambil coklat yang Ayya titipkan di travel bag-nya. Dia juga lupa karena belum buka travel bag sama sekali. Dia malah mengurus barang-barang yang buat pameran.
“Sebenarnya kamu masuk kamarnya Mukti nggak apa-apa. Memangnya kenapa kalau kamu masuk kamar Mukti?” kata Ambar.
“Nggak lah Ma. Kalau tidak urgent seperti waktu Mas Mukti sakit, aku nggak pernah masuk kamar Mas Mukti sama sekali,” ucap Ayya.
“Aku nggak pernah mau beresin apa pun di kamar Mas Mukti, karena takut ada yang barang tersenggol atau hilang atau kotor. Aku nggak akan pernah mau. Aku masuk ya waktu Mas sakit saja.”
“Nggak apa-apa, kamu harus biasa masuk ke kamar Mukti. Kamu harus bisa beresin barang-barang dia pasti dia belum bongkar travel bag-nya. Buktinya dia lupa sama titipanmu.”
“Aku takut pandangan orang Ma, takut kesalahan,” jelas Ayya.
__ADS_1
“Ini rumah Mama dan papa. Siapa yang mau mandang jelek kalau kamu masuk ke kamar Mukti? Sudah hilangkan rasa itu. Kamu harus terbiasa. Ingat dia bukan bosmu, dia calon suamimu,” kata Ambar. Ambar tahu alasan Ayya tidak mau masuk ke kamar Mukti karena merasa itu kamar bosnya.