
Sejak tadi Carlo memang sudah mendengar Mukti selalu memanggil Ayya dengan sebutan YANK, tapi dia tak berpikir bahwa hubungan antara bos dan sekretarisnya itu sudah sedemikian erat.
Carlo baru sadar sejak melihat bagaimana Mukti menyuapi Ayya dan perempuan tersebut tidak menolak padahal tadi sudah bilang kenyang.
“Kayaknya sebentar lagi kita terima undangan nih,” kata Niken. Dia tidak tahu Carlo memang sudah menembak Ayya.
“Masih nunggu waktu Mbak. Kami nggak ingin cepat-cepat,” kata Ayya membuat Carlo makin tak bisa berkata-kata. Perempuan yang dia kasihi membenarkan dugaannya.
“Kenapa?” tanya Hanum.
“Kalian sudah lama jadiannya?”
“Jadian mah bingung kapan mulainya. Kalau tunangan baru kemarin saat di Jakarta,” jelas Mukti. Karena dia sendiri tak yakin kapan dia dan Ayya jadian.
“Itu pun mendadak. Hanya di depan orang tua kami saja agar dia nggak diserobot orang. Kalau untuk menikah memang kami menunda sampai orang tua saya agak sedikit fresh habis menikahi kakak. Tentu mereka energinya terkuras habis. Kami ingin mereka sudah fresh dulu baru mengurus pernikahan kami,” kata Mukti dengan rinci.
__ADS_1
Ayya hanya tersenyum mendengar Mukti bingun kapan mereka jadian. Karena sampai tunangan tak resmi pun Ayya merasa belum jadian.
“Kalian tunangan waktu di Jakarta kemarin?” kata Lukas tak percaya.
“Betul pagi sebelum kami berangkat kembali ke Bali, kami tunangan di depan keluarga kami saja,” jawab Mukti.
“Saat itu kan nggak ada bapaknya Komang,” desak Lukas. Dia ingat karena saat jalan-jalan pun Komang tak cerita apa pun soal tunangan itu.
“Zaman sekarang walaupun jauh tetap aja bisa lihat kan?” kata Ayya cepat untuk menutup bagaimana pertunangan mereka.
“Bagaimana nggak gemetaran kalau tiap hari lingkungan kerjanya dia itu 85% adalah laki-laki” kata Mukti.
“Baik karyawan maupun konsumen yang berhubungan dengan dia itu pasti aja minta nomor pribadinya. Jadi aku kesel. Maka pagi itu langsung aku minta ke orang tuaku dan orang tuanya agar kami sama-sama tenang. Setelah tunangan aku memang lumayan tenang karena kedua orang tua kami sudah tahu. Jadi kami tidak was-was lagi karena orang tua akan sering mengingatkan kami.”
“Wah selamat ya.” kata Lukas dan Niken berbarengan.
__ADS_1
“Aku tunggu undangannya,” kata Hanum.
“Insya Allah nanti sehabis dari Solo baru akan kami pikirkan kapan kami menikah. Karena kami di Solo saja untuk acara pameran itu 3 bulan.” jelas Mukti lagi.
“Kok lama banget pamerannya?” kata Carlo yang akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya.
“Persiapannya satu setengah bulan, acaranya 3 minggu. Lalu sesudah acara kami tetap harus di sana untuk evaluasi kegiatan sampai tahun berikut. Itu kebiasaan dari event yang kami adakan,” jelas Mukti.
“Jadi memang 3 bulan full kami nanti ada di Solo. Benar-benar menyita energi juga pikiran kami, sehingga tak mungkin kami berpikir untuk menyiapkan pernikahan.”
“Pokoknya aku sih maunya nungguin undangan nikah saja. Terserah mau bikinnya kapan,” kata Niken sambil terus makan.
“Perasaan tadi yang bilang kalap sama salad itu Mbak Hanum, kenapa yang nggak berhenti-berhenti makan Mbak Niken ya?” kata Lukas.
“Itu makanya badannya super jumbo,” kata Carlo.
__ADS_1
Niken memang badannya jumbo tapi tetap manis. Dia tidak seperti buntelan pakaian yang tak berbentuk. Badannya tetap berbentuk bagus walaupun size-nya jumbo. Mungkin pakaian yang dia pakai adalah XXL tapi tetap berbentuk dan wajahnya memang cantik.