CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TIBA DI DENPASAR


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



Mukti memasukkan tas milik Komang ke dalam cabin. Lalu dia suruh Komang duduk di kursi sesuai nomor tiket yang dia telah beli. Mukti pun ikut duduk.



"Ini tiket dan KTP mu." Mukti menyerahkan KTP milik Komang Ayu.



 "Kamu tinggal di Badung sama siapa?"



 "Hanya dengan ibu. Lalu dua tahun lalu saya dibawa oleh adik ibu dan dikasih pekerjaan. Lalu  saya bekerjalah di kafe itu sudah mulai dua tahun ini Pak."



 "Tahun ini Ibu mulai sakit sehingga semua uang gaji saya saya serahkan pada ibu. Saya bayar kost separuh,  kadang semuanya ditanggung Sri teman saya tadi."



 "Bapak pasti tanya bagaimana saya bertahan hidup tanpa gaji. Untuk makan kalau saya tidak libur maka saya bisa makan."



 "Siang kan kami dapat jatah makan di cafe Pak. Makan siang itu saya bagi, separuh untuk makan malam tidak saya makan semuanya saat siang," jelas Komang lagi.



\* 'Kasihan sekali gadis ini,'\* kata Mukti. Sesuai didikan Ambar, sifat welas asih sangat kuat dalam jiwa Mukti. Dia cepat memberi rasa iba pada sesama. Ditambah dengan jiwa seni keturunan Kakek dan ayah kandungnya tentu kepekaannya sangat tinggi. Mukti tak bisa melihat orang sedih atau menderita.



 "Lalu nanti, maaf saya tanya ya. Kamu dari Denpasar ke Badung ada ongkos nggak?"



 "Saya ada Rp 20.000 Pak." Komang berkata jujur. Karena memang hanya itu uang yang dia miliki di dompet lusuhnya.



 "Kamu tahu kan untuk naik bus pun enggak cukup uangmu itu."



 "Saya mengerti Pak. Nanti saya akan jual ponsel saya di Denpasar agar saya bisa tiba di rumah. Saya akan hubungi dulu tetangga di rumah kalau saya sudah di Denpasar sebelum saya jual ponsel. Jadi nanti mereka bisa tunggu saya sebelum memakamkan ibu." Komang sudah memikirkan apa yang hendak dia tempuh setibanya di Bali nanti.



 "Kamu sudah punya nomor ponsel saya. Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung hubungi saya," Mukti mengambil uang di dompet dan menyerahkan pada Komang.



 "Ini kamu pegang dan gunakan sebaik mungkin," Mukti memberi 10 lembar uang merah ke telapak tangan Komang.


__ADS_1


 "Semoga bisa kamu gunakan untuk pemakaman ibumu."



 "Ini sangat besar Pak. Enggak usah sebanyak ini. Saya cukup seratus ribu saja untuk tiba di rumah." Tolak Komang.



 "Jangan pernah menolak, kamu juga harus ngurus pemakaman ibumu. Jadi terima aja nanti kalau kurang kamu hubungi saya."



  "Nanti kalau sudah selesai pemakaman dan urusan ibumu, bila ingin bekerja, kamu bisa kerja di galery saya yang di Badung."



 "Ini kartu nama saya. Kamu bisa datang ke galery di Badung atau yang di Denpasar juga bisa. Upayakan telepon saya dulu agar karyawan saya di sana bisa saya beritahu. Karena saya tak setiap saat ada di galery. Terlebih empat bulan ke depan saya akan sibuk di Solo dan Jakarta." Mukti akan sibuk di Solo berkaitan pameran yang dia ketuai. Dan sibuk di Jakarta berkaitan pernikahan Sonny.



 "Baik Pak terima kasih," jawab Komang Ayu.



 "Saya tidur ya," pamit Mukti. Dia teramat lelah sebab semalam hingga larut masih diskusi dengan kawan-kawannya.



 "Saya takut sendirian Pak." Komang bicara jujur. Dia tak mengerti harus bagaimana di dalam pesawat yang baru kali ini dia naiki.




 "Tapi saya enggak mengerti."



 "Sudah ini sabuk pakai aja tak perlu kamu buka sampai turun nanti."



 "Maaf Pak, tapi saya takut."



 "Kamu peluk aja lengan saya. Saya sangat lelah dan butuh tidur." Mukti langsung memejamkan matanya. Semalam dia pulang sangat larut yaitu jam 02.00 pagi dan jam 05.00 sudah harus berangkat ke bandara.



 "Baik Pak, terima kasih," ucap Komang Ayu lirih yang sudah tak terdengar oleh Mukti karena lelaki itu sudah tidur.



"Pak sudah mau sampai," Mukti merasa ada yang menggoyang lengannya.



 "Kenapa" tanya Mukti setengah sadar.

__ADS_1



 "Itu Pak, barusan dikasih tahu sudah sampai. Eh sudah mau sampai," Komang Ayu memberitahu pengumuman dari pengeras suara kalau penumpang diminta bersiap-siap dan kembali menggunakan sabuk pengamannya karena pesawat siap mendarat.



 "Baiklah. Oke terima kasih ya. Lumayan bisa tidur satu setengah jam," kata Mukti.



 Memang pramugari sudah memberitahu bahwa pesawat akan landing.



 "Kamu enggak tidur?" tanya Mukti.



 "Enggak Pak, saya kalau takut enggak bisa tidur."



 Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat. Begitu turun dari pesawat Mukti langsung menyalakan ponselnya.



 "Sudah di mana?" tanya Mukti.



 "Sudah di lobby  kedatangan Pak." balas orang diujung telepon.



 "Kamu enggak pakai mobil sportku kan? Aku sudah minta kamu pakai mobil yang bisa bawa lebih dari satu orang kan?" Mukti memastikan kalau dia tak lupa memerintah jangan pakai mobil sport miliknya.



 "Iya, saya pakai mobil yang biasa dipakai den Aksa," jawab orang itu.



 "Oke tunggu aku," perintah Mukti.



 "Ayo kamu ikut sampai ke tempatku nanti kamu diantar oleh sopirku aja ke tempatmu karena rupanya aku harus ke Badung!"



 Memang  tadi Mukti langsung minta sopir menjemputnya dengan mobil rental milik Sonny di bandara lalu minta diantarkan ke Badung karena beberapa teman meminta mereka ngumpul di Badung dulu siang ini.



 Menerima permintaan itu Mukti langsung minta semua rekannya hari ini menuju Badung saja karena dia ada di sana ada urusan di sana. Nanti semua rekan termasuk Made yang akan tergabung dalam paguyuban seniman Bali akan bertemu dirinya di galery miliknya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok


__ADS_1


__ADS_2