CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KEKHAWATIRAN AMBAR


__ADS_3

“Pak, makan siangnya sudah siap,” kata seorang pegawai.


“Ya sebentar lagi saya ke sana. Panggil Mbak Ayya, eh Mbak Komang Ayu-nya suruh makan bareng saya,” ucap Mukti. Tadi dia lihat Ayya sedang makan rujak bersama seorang pegawai.


“Mbak Komang kan pergi Pak,” jawab pegawai dapur itu.


“Pergi ke mana?” seru Mukti kaget. Dia segera mengambil ponsel miliknya.


“Tadi ikut bagian canvaser ke Gianyar Pak. Nggak tahu dia ke mana,” jawab sang pegawai.


“Kok nggak pamit saya?” tanya Mukti heran.


“Wah saya nggak tahu Pak kalau soal pamit. Yang saya lihat dia tadi naik mobil bak yang keluar menuju Gianyar.”


“Coba hubungi sopir mobil bak dan tanya dia ada di mana,” kata Mukti cemas. Karena barusan dia menghubungi nomornya Ayya tidak aktif.


‘Kamu ke mana lagi sih Yank? Belum rampung ngambekmu?’ kata Mukti dia tambah bingung karena Ayya benar-benar masih marah.


Semua berpangkal gara-gara Mukti mengharuskan Ayya diantar bila ingin pulang ke Badung


‘Ah mungkin aku hubungi papa aja. Kali aja dia ada di sana,’ pikir Mukti segera mencari nama calon mertuanya di ponsel miliknya.

__ADS_1


“Assalamu’alaykum Pak,” sapa Mukti sopan.


“Wa’alaykum salam,” jawab Wayan.


“Apa kabar nak Mukti? Posisi sedang di mana?”


‘Dia tanya posisiku, artinya belum tahu Ayya sudah tiba kembali di Denpasar.’


“Baik Pak, saya baru saja tiba di Denpasar. Apa Ayya ke situ Pak? Soalnya saya mau ajak makan siang kok udah nggak ada. Jangan-jangan dia ke tempat Papa duluan. Kemarin dia memang tujuannya minta libur untuk ke rumah Papa,” kata Mukti jujur.


“Ayya? Ayya belum ke sini tuh. Dan belum hubungi Papa. Kalau dia mau ke sini pasti dia kan kasih tahu Papa dulu. Telepon supaya tanya Papa ada di rumah apa enggak. Takutnya pas Papa belanja buat toko,” jawab Wayan.


“Nggak, dia nggak ada ke sini. Nanti kalau dia ke sini akan Papa kasih tahu. Papa tutup dulu ada yang mau beli barang,” kata Wayan.


“Iya Pa, terima kasih. Aku tunggu kabarnya kalau memang Ayya ke rumah ya Pa,” kata Mukti sedih.


“Ya, akan Papa kasih tahu kalau dia ke rumah,” janji Wayan.


“Pak. Kata driver mobil canvaser, Mbak Komang cuma naik sampai depan Pak. Nggak sampai jauh kok. Langsung turun di pertokoan depan. Tidak ikut sampai Gianyar dan sopir sekarang sedang kembali ke arah sini karena memang dia cuma turunin barang aja,” petugas administrasi yang menghubungi sopir canvaser melaporkan apa yang diberitahu sopir.


“Cuma sampai mall? Dia mau ke mana ya?” kata Mukti bingung karena kalau Ayya ke Badung pasti sudah sampai dari tadi.

__ADS_1


“Mana ponselnya dimatiin,” sesal Mukti. Dengan kejadian ini dia akan memasang GPS di ponsel Ayya.


Mukti tidak jadi makan siang. Dia galau memikirkan di mana Ayya berada.


“Iya wa’alaykum salam Ma,” kata Mukti menjawab salam dari Ambar. Belum selesai Mukti bingung dengan kekacauan menghilangnya Ayya, Ambar menghubunginya.


“Nomornya Ayu kenapa nggak bisa Mama hubungi ya?” kata Ambar dengan cemas.


“Mungkin lagi dicas Ma di kamarnya. Aku juga nggak tahu.”


“Kamu sudah sampai nggak langsung hubungi Mama. Mama nunggu kabar kalian sudah sampai atau belum. Jadi kami cemas. Kami hubungi Ayu nomornya nggak aktif. Kalian bagaimana sih, kami tunggu kabar kalian lho,” omel Ambar.


“Maaf Ma, sampai galeri aku langsung kerja. Ayya sepertinya capek, dia masuk kamar lalu mungkin tidur Ma. Kalau HP-nya dimatikan mungkin karena dicas. Aku juga belum lihat dia lagi, aku langsung di ruangan kerja aku Ma,” kata Mukti.


“Bangunkan dulu, suruh makan,” kata Ambar.


“Iya Ma, akan aku bangunkan nanti langsung aku suruh makan. Mama tenang aja. Aku sejak di sini langsung kerja mohon maaf kalau aku lupa kasih khabar ke Mama,” jawab Mukti. Mukti tahu kalau kondisi normal, begitu turun pesawat pasti Ayya akan memberi khabar pada mamanya. Tapi karena sejak belum naik pesawat Ayya sudah marah maka gadis itu juga lupa kebiasaannya itu.


“Biasanya kalau kamu lupa, pasti Ayu kan kabarin Mama. Itu yang bikin Mama cemas kenapa Ayu begitu sampai tidak langsung kabarin Mama. Ini di luar kebiasaan anak itu. Dan tentu saja itu bikin Mama khawatir,” ucap Ambar. Ibu yang satu ini memang seperti itu. Tak bisa tenang bila belum dapat khabar semua anak-anaknya.


“Mungkin dia lupa saking senangnya sampai kembali di Bali Ma. Tenang aja,” kata Mukti membujuk Ambar.

__ADS_1


__ADS_2