CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
HARUS SELALU DISISI AKU


__ADS_3

“Sri, Kamu naik mobil sama Farhan dan Fahri ya. Pak Murti ngajak aku pakai mobilnya Bu Adel. Mobil sport Bu Adel kan sama seperti mobil sport Pak Sonny maupun mobil sport-nya Pak Mukti hanya muat 2 orang saja.” Komang Ayu memberitahu Sri saat mereka bersiap di kamar. Tentu semua barang Sri langsung di bawa karena dari hotel dia akan langsung pulang dan masuk kerja lagi.


“Boleh enggak apa-apa. Aku sih naik mobil yang mana saja,” jawab Sri. Dia dan Komang Ayu sama-sama tahu kapasitas mereka. Jadi tak mau membuat susah siapa pun.


“Tenang saja buat pakaian kita sampai besok tetap sudah ada kok. Kamu juga ada kamar di hotel sama aku.”


“Iya enggak apa apa. Aku di kamar sama para pembantu di sini juga enggak apa apa. Mereka juga dapat kamar kan? Aku bisa tidur dengan mereka koq,” ujar Sri.


“Enggak kamu sama aku karena aku sendirian,” jawab Komang Ayu.


“Kita ketemu di hotel ya,” mereka sudah selesai packing dan membersihkan kamar itu.


“Atau aku enggak usah satu mobil sama Farhan dan Fahri. Aku sama para pembantu di sini saja bagaimana?  Aku lebih nyaman rasanya aku ngobrol dengan mereka daripada dengan om dan tantemu itu,” usul Sri.


“Om dan tantenya pak Mukti, bukan om dan tante aku kali,” bantah Komang Ayu.


“Terserah saja, pokoknya kamu harus berangkat. Mau naik mobil rombongan pegawai ya enggak apa-apa,” jawab Komang Ayu. Sri membantu membawakan travel bag Komang karena dia membawa dua travel bag. Ada beberapa baju Mukti ditravel bag itu.


“Iya aku naik mobil rombongan pegawai saja, lebih nyaman bisa ngobrol aneka cerita,” ujar Sri lega.

__ADS_1


“Nanti hubungi aku bila sudah sampai sana, biar aku kasih tahu kamarnya. Takutnya aku pas tidak di kamar.”


Tadi memang Mukti mengabari Ayya lewat telepon, Ayya diminta naik mobil bersama Mukti dengan mobil sportnya Adelia. Sri juga tahu itu. Malah dia yang lebih dulu melihat saat telepon berdering karena Komang Ayu sedang sibuk melipat pakaian kotornya.


“Ingat, nanti di hotel kamu enggak boleh jauh dari Mas,” pesan Mukti. Mereka sedang dalam perjalanan berdua ke arah hotel tempat resepsi malam nanti.


“Kan Mas sibuk,” bantah Ayya.


“Justru karena Mas sibuk kamu harus ada di sebelah aku terus. Kamu enggak boleh sibuk dengan Aksa dan adik-adik juga dengan para eyang,” kali ini Mukti lebih jelas meminta agar Ayya membatasi diri melayani semua yang dia sebut.


“Kalau sama Aksa, fahri dan Farhan aku bisa lah kurangi. Tapi kalau sama eyang ya enggak bisa lah Mas.”


“Ya, sama eyang enggak perlu terlalu fokus. Pas resepsi juga enggak boleh jauh dari Mas,” Mukti memberi kelonggaran untuk bersama eyang, tapi tida pada ketiga adiknya.


“Pokoknya dari mulai di hotel harus di sebelah aku. Mas ganti baju harus ada kamu,” perintah Mukti ekstrem. Bagaimana mungkin Ayya menemani saat Mukti di rias? Sedang saat itu dia juga akan di rias MUA?


“Enggak mungkin lah aku masuk kamar rias keluarga laki-laki. Masa aku mau siapin baju Mas di tempat rias laki-laki? Kan enggak mungkin. Lagian saat mas di rias, kan aku juga masuk kamar rias perempuan?”


“Baju resepsi semuanya ada di satu koper keluarga, ada nama di setiap plastik baju. Aku yakin kita sampai sana sudah baju-baju itu sudah digantung-gantung sama MUA. Jadi tinggal Mas pilih saja baju atas nama Mas. Apalagi yang perlu aku siapin?”

__ADS_1


“Mas enggak mau tahu pokoknya sejak di hotel kamu enggak boleh jauh dari aku,” kata Mukti dengan posesifnya. Benar-benar kalah nih yang sudah punya istri.


“Iya.”


Makan siang keluarga besar pengantin memang sengaja diadakan di hotel. Ariel tak tanggung-tanggung. 4 keluarga besar semua makan dan menginap di sana ditambah para pegawai di rumah semua dia angkut untuk merasakan menginap dan makan di hotel besar.


“Sri ayo makan sama aku,” ajak Komang Ayu pada Sri yang baru masuk ruang makan hotel.


“Aku makan sama pegawai saja. Kamu sama Pak Mukti, nanti aku disalahin beliau,” bisik Sri. Dia melihat pandangan tak suka bila Komang mengajak dirinya makan bersama.


“Enggak ada yang disalahin. Paling aku hanya akan ambilin dia makan aja,” balas Komang Ayu.


“Atau nanti pas duduk makan kita berdekatan ya biar bisa ngobrol,” pinta Komang Ayu ketika Sri mencubitnya pelan sebagai kode.


“Iya, lebih baik begitu. Jangan cari masalah.”


“Ya, ayo makan,” ajak Mukti.


‘Kok panggilannya YA? Bukan Yank atau Yu seperti semua keluarganya memanggil Ayu?’ batin Sri. Dia sendiri tahunya Komang Ayu kan kenapa jadi YA?

__ADS_1


“Iya Mas, ayo.” Ayya berjalan diikuti Mukti menuju meja disp;ay makanan. Tentu setia sebentar berhenti karena selalu saja ada yang harus mereka sapa.



__ADS_2