
“Lho kok cepat Sayang?” tanya Angga melihat Ayya masuk ke dalam rumah. Saat itu Angga, Ambar, dan Abu sedang duduk di ruang tengah.
“Aku nggak ngerti Eyang. Aku berupaya baik, tapi aku sekarang dibohongi. Aku tadi bisa menghubungi Mas Mukti lewat ponsel. Dia bilang dia ada di pameran padahal saat itu aku persis di sebelah patung yang dia buat sebagai master. Backgroundnya Mas Mukti sunyi senyap seperti ada di dalam suatu ruangan yang kosong entah itu di kamar atau di mana. Padahal ruang pameran itu sedang ramai hari Minggu seperti.”
“Sekarang Mas Mukti jelas berbohong. Dia bilang dia ada di pameran aku tunggu 5 menit dia juga nggak datang. Jadi Eyang, Papa sama Mama tahu aku sudah dibohongi. Tidak ada lagi maaf dari aku. Terserah Eyang sama Papa dan Mama saja. Nanti Papa dan mama lihat saja bagaimana Mas Mukti pulang. Aku enggak akan lagi hubungi Mas Mukti,” lalu Ayya pun masuk kamar. Dia tak menangis. Sri yang berada di rumah itu jadi serba salah.
Lalu Sri dan Ayya pun ngobrol untuk mengalihkan rasa marah Ayya. Sehabis Ayya pulang pun, Mukti tak langsung mencari Ayya seperti bila Ayya ngambeg. Dia bahkan tak bertanya keberadaan Ayya pada siapa pun. Sepertinya Mukti tak peduli pada Ayya sama sekali.
Habis maghrib Mukti tiba di rumah. Suasana mencekam karena Abu Ambar maupun Angga sudah tahu Mukti berbohong pada Ayya.
‘Melihat wajah-wajah mereka ke aku, pasti mereka sudah tahu soal telepon dari Ayya tadi,’ batin Mukti. Tapi saat ini dia tidak bisa bilang apa pun.
“Kamu dari mana?” tanya Abu.
“Dari pameran lah Pa.”
“Sejak kemarin siang nomor teleponmu nggak bisa dihubungi. Nomor telepon Made dan Wayan pun juga seperti itu. Kami seperti induk ayam kehilangan anaknya. Sepanjang malam mamamu tidak tidur memikirkan kamu dan kamu bilang kamu di pameran? Padahal Ayya ke pameran kamu nggak ada. Kamu mulai tidak jujur kan sama Papa?” desak Abu.
Mukti hanya diam
“Aku mau bicara dulu dengan Ayya Pa,” pamit Mukti.
__ADS_1
“Enggak enak lah dia sedang bicara dengan Sri. Nanti bikin ribut depan orang luar yang bukan keluarga nggak baik.”
“Tapi aku butuh menyelesaikan masalah.”
“Ya jangan sekarang lah. Masih tidak baik kondisinya.” cegah Abu.
“Masalah apa? Kalau kamu nggak bohong nggak ada yang perlu diselesaikan,” kata Ambar ketus.
Mukti hanya diam, dia pun langsung masuk ke kamarnya
Saat salat subuh hari Senin, Mukti berupaya mendekati Ayya tetapi tunangannya itu tidak mau bicara. Ayya menjauh dengan mendekati Bu Parman atau Sri.
Semua sarapan dalam diam.
“Nanti kita kabar-kabarin ya,” pinta Ayya ceria. Tak ada kemarahan atau kesedihan. Dia bisa mengunci semua itu di lubuk hatinya yang paling dalam.
“Oke siap,” jawab Sri.
“Yank, aku mau bicara,” kata Mukti.
“Sepertinya nggak ada yang perlu dibicarakan. Toh Mas tidak bohong. Mas ada di ruang pameran sejak hari Sabtu siang hingga Minggu siang. Aku saja yang salah. Cuma setahu aku pameran hari Minggu itu sangat ramai dan aku ada di sebelah patungmu. Backgroundmu itu sepi Mas. Seperti ada di dalam kamar entah di mana. Aku nggak tahu.”
__ADS_1
“Aku yang salah duga tentang backgroundmu atau kamu punya ruang pameran lain yang senyap. Hanya Mas yang tahu kebenaran itu.”
“Kamu dengarin dulu. Aku mau cerita ….”
“Sudah Mas!” potong Ayya.
“Enggak ada yang perlu dibicarakan. Anggap saja nggak ada apa-apa. Santai saja,” jawab Ayya lagi. Dia langsung meninggalkan Mukti dan mengunci diri di kamarnya.
Jam 10-an Mukti keluar dia bilang mau ke pameran dia mengajak Ayya tapi Ayya tidak mau. Membuka kamar saja Ayya tak mau.
Mukti pulang saat makan malam, sepanjang hari Ayya hanya berdua dengan Ambar. Bicara ngobrol tapi tak pernah membahas apapun soal Mukti. Keduanya seakan tahu, sama-sama menahan jangan bicara tentang sosok bernama Mukti.
Besoknya sama seperti itu Mukti belum bisa bicara apa pun dengan Ayya, karena Ayya masih tak mau bicara. Ayya selalu bilang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tak ada yang salah dalam kejadian kemarin.
“Kamu belum mau cerita sama Mama?” tanya Ambar malam ini.
“Nggak Ma. Aku nggak ada apa-apa kok,” elak Mukti.
“Ingat ya. Mama sudah bilang sama kamu. Tapi kamunya yang nggak mau ngomong apa pun. Jadi jangan salahin Mama kalau terjadi apa-apa. Mama enggak akan bantu,” kata Ambar.
Biar bagaimana pun feeling dia sebagai orang tua merasa ada sesuatu yang Mukti sembunyikan.
__ADS_1
“Iya Ma, tenang saja,” jawab Mukti gugup.