CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BATIK UNGU TANGAN PENDEK


__ADS_3

“Mas sudah aku kirim datanya Silvana seorang penari yang pernah mau jebak aku waktu di Solo 6 bulan lalu. Juga datanya Sarasvati yang sekarang sedang berkasus dan dia minta banding tapi sepertinya akan hancur karena dokter kecantikannya Ayya marah dituduh melakukan visum yang salah oleh Saras,” ungkap Mukti.


“Oke jadi untuk sementara sambil nunggu penyelidikan detektifku, kamu pikir ulang itu bagaimana Ayu sampai marah seperti itu pada kamu. Karena ketahuan kamu sedang bersama perempuan lain yang menangis di sebelahmu. Aku tutup dulu nanti keburu Adelia bangun. Dia tadi tidur cepat dan biasanya sebentar lagi bangun karena kelaparan,” kata Sonny.


“Ya. Kamu jaga saja Adelia yang penting pikiranmu tetap fokus bantu kami di sini,” kata Abu. Dia sangat butuh Sonny, tapi kondisi putra sulungnya sedang tak bebas seperti dulu.


“Insya Allah aku bantu Papa, Eyang, cuma kalau untuk tenaga aku tidak bisa. Kondisiku sekarang sedang terikat di sini,” balas Sonny.


“Kalau nurutin kemauan, aku pasti sudah langsung jalan ke Solo. Kemarin aku ke Solo pulang pergi waktu ngurusin pemilik cafe.”


“Kok nggak mampir,” kata Ambar cepat.


“Aku itu kabur dari kantor sebentar Ma. Kalau aku mampir ke Mama nanti repot lagi. Mama tahu dong kondisi aku. Tadi aku bilang aku nggak bisa ninggalin Adelia lama-lama. Kemarin aku hanya butuh ketemu sama pemilik cafe tempat kejadian. Kalau aku tidak ketemu dia, nanti dia mikir seenaknya saja. Kalau aku cuma bisa gertak lewat telepon.”

__ADS_1


“Terima kasih Mas,” kata Mukti dengan tulus karena ternyata Sonny menyempatkan diri kabur ke Jogja sebentar di sela keterbatasan waktunya.


“Pengalaman buatmu. Jangan pernah bohong apa pun alasannya. Kamu sudah pernah bohong dulu dan salah. Masih kamu ulangin lagi,” kata Mukti.


“Iya Mas, aku kapok,” jawab Mukti. Semua karena dia selalu ingin menyelesaikan sendiri. Akhirnya malah seperti ini. Andai dia selalu terbuka sejak awal. Tentu tak akan runyam.


Sonny pun menutup sambungan teleponnya


“Mukti kamu besok hari Sabtu harus tetap melakukan penutupan pameran ya tidak boleh diwakilkan,” kata Ambar di depan Abu dan Angga.


“Mama ingin merasa bangga, kamu bisa menyelesaikan tugasmu dengan baik walau sedang tak baik-baik saja. Kamu yang buka, kamu juga yang tutup. Walau besok tidak dihadiri oleh menteri tetapi oleh gubernur. Kamu harus perlihatkan pada semua orang kamu tak goyah oleh badai,” jelas Ambar. Penutupan pemeran memang akan dilakukan oleh gubernur Jawa Tengah.


Ya Ma, aku akan tutup,” janji Mukti. Benar yang mamanya bilang. Dai harus menunjukkan di tegar.

__ADS_1


“Dan ini, kamu harus pakai baju ini,” kata Ambar sambil memberikan bungkusan kemeja dari Ayya.


“Kenapa Ma? Kenapa harus pakai baju itu?” tanya Mukti tanpa membuka bungkusan.


“Feeling Mama, kamu harus pakai itu. Kayanya pakemnya bagus buat kamu.” Mukti pun membuka bungkusan baju tersebut. dia lihat satu kemeja tangan pendek berwarna bunga ungu.


“Apa pantas Ma pakai tangan pendek? Aku biasanya kalau acara resmi kan pakai tangan panjang bukan tangan pendek seperti ini,” kata Mukti lagi.


“Sudah pakai saja, itu bagus kok,” kata Angga.


“Dan ada siluet dua burung. Ini bagus buat perjodohanmu,” kata Abu melihat di tengah kemeja Mukti seperti ada siluet burung. Entah itu burung entah bukan. Tapi memang seperti itulah gambar yang Abu tangkap.


“Pokoknya kamu wajib pakai itu. Mama ingin lihat karena Mama akan datang ke sana,” kata Ambar.

__ADS_1


“Iya Ma,” jawab Mukti.



__ADS_2