CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ITU NAMANYA NGAMBEG


__ADS_3

“Eh iya kenal kan, ini teman aku,” kata Lingga. Mereka pun berkenalan dengan dua temannya Lingga tersebut.


“Mbak berdua juga pelukis sama dengan Kak Lingga?” tanya Ayya. Sejak tadi memang Ayya terus bicara karena Mukti sama sekali tak mau bicara apa pun. tadi bicara tentang jadwal undangan pernikahan saja dia mau bicara.


“Kami bukan pelukis,” kata temannya Lingga.


“Kami hanya senang melukis sebagai pengisi waktu saja, karena belajar melukis akhirnya kami dekat,” ujar kedua teman Lingga itu.


“Kirain Mbaknya juga pelukis profesional bukan hanya hobby.”


“Enggak lah. Saya cuma senang aja.”


“Pesanan kami sudah datang, kami makan duluan ya. Karena kami harus cepat-cepat kembali ke Uluwatu banyak pekerjaan yang harus kami kejar sudah dua minggu kami libur bekerja,” kata Ayya.


“Iya, silakan. Selamat makan,” kata seorang temannya Lingga. Dia tidak mengerti mengapa Lingga sangat mengidolakan laki-laki dingin tersebut. Mungkin karena tak ada tanggapan sehingga malah bikin penasaran?


“Bisa minta piring kosong?” kata Mukti kepada pramusaji yang membawakan makanan pesanan mereka.


“Baik Pak.” jawab pramusaji.

__ADS_1


“Buat apa Mas?” tanya Ayya dengan lembut.


“Ini nasinya kebanyakan Yank. Kamu baru suapin aku tadi sebelum maghrib kalau harus makan banyak lagi nggak sanggup,” rajuk Mukti.


“Sekarang nggak sanggup sebentar lagi jam 11-an kelaparan,” goda Ayya.


“Beda Yank, kalau itu kan kerja malam. Lagian kamu juga kebiasaan kalau aku kerja pasti bikin makan tengah malam,” kata Mukti. Ayya hanya tersenyum.


Lingga jadi ingat memang yang dikatakan Mukti dan Ayya barusan adalah benar. Dia tahu sendiri kalau Ayya itu selalu menyiapkan makan tengah malam untuk Mukti bekerja.


“Tapi nanti malam aku belum tahu loh Mas mau bikin makanan apa. Kan nggak tahu isi kulkas,” ujar Ayya.


“Aku nggak yakin Mas seperti itu. Pasti begitu lihat bahan langsung aja kerja,” Mukti tertawa mendengar celoteh Ayya. Karena itu adalah kebenaran. Begitu lihat bahan, dia langsung gatel ingin bekerja.


“Aaa …,” pinta Ayya. Dia menyuapi sayuran dengan saus iga bakar pada Mukti. Tanpa menolak, tanpa protes Mukti pun membuka mulutnya menerima sayuran yang Ayya suapi pada mulutnya.


“Kan Mas tadi udah bilang makan sayurnya besok aja, kenapa disuapin sekarang?”


“Ya udah kalau nggak mau. Aku habisin aja sayurannya,” Ayya pun langsung makan sayuran sendirian.

__ADS_1


“Ha ha ha ngambeg kan? Ngambeg?” goda Mukti.


“Nggak ngambek sih, cuma aku nggak yakin besok aku mau bikinin salad atau makanan lain,” balas Ayya.


“Itu namanya ngambeg,” kata Mukti. Mereka pun terus bercanda berdua seakan tidak ada orang lain di depan mereka.


“Mas ke belakang dulu ya sebentar,” bisik Mukti pada Ayya. Yang melihat dari jauh sepertinya Mukti sedang mencium pipinya Ayya padahal hanya sekadar berbisik. Ayya pun mengangguk.


“Kalian mesra banget ya,” kata Lingga saat Mukti berlalu,


“Yang aku dengar rumorsnya waktu itu Mukti susah jatuh cinta ya. Kamu kok bisa dapetin dia?” tanya temannya Lingga penasaran.


“Mungkin bukan aku yang dapetin dia, tapi dia yang dapetin aku,” jawab Ayya santai.


“Karena saya berprinsip lebih baik saya dicintai daripada mencintai habis orang lain. Kalau kita yang dicintai kita nggak perlu was-was dia meninggalkan kita. Tapi kalau kita mencintai, dia bisa berpaling,” kata Ayya.


Memang itu yang ibunya terangkan bagaimana Sukma yang hanya seorang yang tidak tamat SMA dari desa tapi dicintai sepenuh hati oleh Wayan yang berpendidikan tinggi dan majikannya pula, dan tentu saja ekonominya lebih mapan.


Lingga langsung tertonjok matanya dengan kata-kata yang Ayya ucapkan. Memang benar dikejar seperti apa pun Mukti tetap tak tergapai, bahkan bukan hanya oleh dirinya oleh Saras pun Mukti tak tergapai.

__ADS_1


Padahal kalau Ayya mau sekelas Carlo pun, Ayya bisa dapatkan. Sayang Lingga tak tahu tentang Arjun yang juga mencintai ayu sedemikian besarnya.


__ADS_2