
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
"Aduh pagi-pagi udah bikin orang iri aja nih," goda Mukti pada Sonny melihat Adelia keluar dari kamar dengan tangan dalam genggaman kekasihnya yang selalu disebut pangeranku oleh Adelia. Sonny. Wajah bahagia terpancar pada pasangan itu.
"Makanya cepat cari pasangan, ngapain aja sih kamu," Sonny menjawab seakan selama ini dia bukan jomlo.
"Aduh sombongnya Masku ini. Kemarin kemana aja Mas?" Mukti pun tak mau kalah. Karena yang selama ini jomlo adalah Sonny. Mukti banyak dikelilingi gadis atau perempuan manis hanya Mukti tak mau terikat karena dulu cintanya hanya untuk Vio, tentu sebelum dia tahu Vio menikamnya dengan membunuh dua anak mereka.
"Aku bukan nggak mau punya perempuan. Saat itu aku enggak pacaran karena belum ketemu perempuan terbaik buat aku," Adelia tersenyum mendengar gombalan Sonny kali itu.
"Cepat sarapan, nanti kalian terlambat," ujar Vonny sebagai nyonya rumah.
"Ya enggaklah, yang terlambat malah bu dokter. Kami kan mulainya jam 09.00," bantah Mukti.
"Jam praktik aku juga jam 09.00." Adelia membalas Mukti yang tidak tahu jadwal praktik dirinya.
Mereka pun menuju ruang makan.
"Loh kok kopinya Mukti udah ada duluan?"
"Aku sudah pesan pada asistenku Ma. Begitu bangun tidur. Aku enggak mau belum ada kopi saat aku bangun tidur," kata Mukti tanpa merasa bersalah.
"Daripada pakai asisten kamu cari istri aja lah, biar enggak ribet," kata Ambar.
"Mama nih." Protes Mukti. Memang dari tiga anak Ambar, Mukti yang paling ribet. Mungkin karena faktor genetik yang berbeda.
"Iyalah, buat apa cari asisten buat ngurusin kamu dari pagi siang sampai malam. Mending cari istri beres kan?" jawab Sonny.
"Emang istri tugasnya ngeladenin suami Ma?" kata Adelia. Dia jadi harus berpikir ulang kalau konsep seperti itu yang ada dalam pikiran Sonny tentang figur istri. Sonny langsung sadar dia telah salah ucap.
"Ya enggak juga. Mama juga waktu awal-awal menikah masih kerja. Bahkan saat itu Mama lebih sibuk karena sedang membangun perusahaan sendiri, bukan milik papa. Mama berhenti ketika hamil Sonny berapa bulan."
"Waktu itu hamil berapa bulan Pa?" tanya Ambar pada Abu.
"Sudah masuk enam bulan Ma."
__ADS_1
"Oh iya enam bulan deh. Berhenti kerja bukan enggak boleh sama Papa, tapi karena Mama sendiri mau berhenti. Itu karena mikir nunggu dapetin Sonny aja delapan tahun, masa begitu dapat enggak diurus dengan baik,” kata Ambar.
"Istri itu buat teman sharing, bukan menjadi pengasuh kita atau menjadi pembantu kita." Kata Ariel.
"Bener banget," Angga menyetujui pendapat Ariel.
"Jangan seperti Eyang yang sangat jauh beda antara pernikahan yang memang benar-benar nikah karena cinta dengan pernikahan karena ditipu."
"Komang kamu sudah sarapan?" tanya Mukti di belakang.
"Sudah Pak, saya sudah sarapan dan siap berangkat." Jawab Komang cepat.
"Pokoknya kamu kalau berangkat kerja itu harus sudah sarapan. Jangan sampai perutmu kosong." Mukti memperingatkan Komang.
"Baik Pak," lanjut Komang.
"Sudah kamu siap-siap sebentar lagi kita berangkat."
Komang tidak punya alat make up apa pun tadi dia minta bedak pada pegawai di dapur, juga dia pakai lipstik sedikit yang dia minta.
"Nanti aku akan pamit sebentar beli alat make up sederhana dan alat mandi deh," Komang bicara sendiri sambil membaca cara membuat schedule sederhana.
"Mukti kamu pakai mobil satu aja ya," kata Ariel
"Soalnya papamu, mamamu sama eyang satu mobil enggak bisa kalau kalian ikut di mobil itu."
"Enggak apa-apa sih berlima bisa koq Om." tolak Mukti.
"Sudah kamu pakai mobil yang lain aja. Ngapain juga penuh-penuhan, kayak enggak ada mobil lain aja," Ariel tadi sudah menyuruh om Yapie menyiapkan satu mobil untuk Mukti.
"Kenapa enggak pakai mobilku aja?" kata Vonny.
"Enggak kamu langsung aja ke rumah sakit nanti jadi orang harus nganter kamu dulu ke rumah sakit baru ke pengadilan kalau pakai mobilmu. Biar ke pengadilan tetap dua mobil dengan yang dipakai Mukti."
__ADS_1
"Kamu berangkat sendiri aku berangkat sendiri," tegas Sjahrir.
'*Ya ampun satu rumah ini mobilnya berapa sih*?' batin Komang.
'*Tuan, nyonya dan Bu Adel mobilnya sendiri, belum mobil yang lainnya bener-bener orang super kaya*.'
"Pak Mukti ini kunci mobilnya. Mobil sudah saya siapkan di depan," kata Om Yappie.
"Makasih Om Yappie.” balas Mukti. Dia pun mengajak Komang bersiap.
"Sama-sama pak Mukti."
Komang memperhatikan jalan sekitar untuk mengetahui daerah rumah Adelia.
"Pak nanti pulang saya turun di sini ya," pinta Komang.
"Mau apa?"
"Saya ingin beli alat mandi Pak," Komang bicara jujur.
"Ya nanti lihat kondisi," jawab Mukti ambigu. Tak jelas mengizinkan atau pun melarang.
“Ayu, kamu duduk sebelah saya selama saya tidak menyuruh kamu menjauh.” pesan Mukti sebelum mereka turun di pengadilan.
Jam 08.30 Mukti, Sonny, Abu dan dua orang pengacaranya bertemu dengan Tonny. Mukti minta Komang duduk disisinya dan mencatat semua poin.
Di ruang sidang Mukti duduk dengan Komaang Ayu karena dia sedang tak jadi saksi. Saat itu yang jadi saksi adalah eyang Angga dan bu Ambar. Sonny sebagai pe;apor duduk di depan. Abu duduk disebelah Mukti.
Hakim menanyakan jati diri kedua Menur dan Wahid. Saat semua sedang fokus pada Wahid, tanpa ada yang menduga Vio menerjang Menur dan terlihat banyak darah setelah Menur teriak. Entah dapat darimana, Vio membawa pisau kecil cukup runcing dan dia gunakan menikam Menur berkali kali sebelum dia menusuk lehernya sendiri!
Kejadian tak terduga dan sangat cepat. Petugas cepat bertindak mengamankan TKP.
Tak ada yang bisa keluar atau masuk. Abu berlari memeluk Ambar yang tak percaya melihat hal itu secara live. Komang juga berteriak membuat Mukti reflek memeluknya dan membenamkan wajah Komang didadanya agar tak melihat peristiwa pembunuhan dan bunuh diri itu.
Vio langsung dinyatakan MD ( mati ditempat ) sedang Menur segera dilarikan ke rumah sakit tapi dalam perjalanan nyawanya tak tertolong. Mukti tak percaya melihat wanita yang pernah sangat dia cintai tapi juga menjadi wanita yang sangat dia benci meninggal tragis. Mukti tak peduli pada Vio. Dia memapah Komang yang sangat lemas untuk keluar ruang sidang.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok
__ADS_1