
“Serius perkataan Mas tadi itu bikin aku naik darah,” ucap Ayya.
“Perkataan yang mana Yank?” tanya Mukti terkesiap, dia tengok wajah tunangannya sejenak lalu pandangannya kembali fokus ke jalan raya.
“Mas tanya tadi kan awal-awal. Masih kepikiran ya Yank, begitu kan?” kata Ayya.
“Bagaimana nggak kepikiran Mas? Itu pertama buat aku. Ya pasti kepikiran dong! Untungnya kita sudah janji akan meredam emosi masing-masing. Jadi aku langsung mengalihkan pertanyaan pada kesan Mas waktu melakukan dengan orang lain,” jelas Ayya.
“Iya, Mas salah lagi ya?”sesal Mukti.
“Enggak salah juga sih, cuma nggak tepat,” Ayya meluruskan pendapat tunangannya itu.
“Maaf ya Yank. Karena memang Mas juga nggak berpengalaman merayu seorang perempuan. Mas nggak pengalaman dengan perempuan lain. Dan memang sering yang keluar dari mulut itu spontan yang terlintas di otak saja, enggak diolah dulu. Ajarin Mas untuk berubah ya Yank.”
__ADS_1
“Jadi cuma almarhumah Vio yang Mas pernah peluk dan cium bahkan sampai melakukan hubungan suami istri?” tanya Ayya ingin tahu. Tanpa mengindahkan permintaan Mukti agar membantu dirinya berubah.
“Nggak Yank. Ada satu lagi dan Mas juga nggak pasti apa itu di sebut ciuman. Karena Mas enggak punya rasa apa pun. Semua terjadi bukan kemauanku.”
“Waktu di Paris, ada pesta kampus. Entah bagaimana mungkin dia taruhan dengan teman-temannya, karena selama menjadi mahasiswa Mas nggak pernah minum, merokok atau main perempuan. Mereka mengira Mas sama Made itu pasangan belok. Karena Made merokok dan minum. Sesekali kadang Made juga mau main sana-sini walau nggak sampai berhubungan badan. Tapi setidaknya kalau untuk peluk cium dan segala macamnya dia biasa.”
“Saat itu entah bagaimana Mas yang memang datang bersama Made sedang ngobrol-ngobrol. Pas saat sendiri Mas dipeluk oleh seorang perempuan dan dia mencium bibir Mas. Itu perempuan kedua! Tetapi tidak ada rasa apa pun dan Mas tidak merespon. Mas merasa aneh ada perempuan seperti itu. Mas mikir dia sama sekali tak punya harga diri! Tapi ya itu pandangan Mas ya. Sekali lagi nggak usah dibuat perdebatan. Mas anggap dia sampah, itu saja! Terserah orang beranggapan apa pun. Yang pasti itu menurut Mas.”
“Wah kita datang barengan Pak Putut. Kayanya dua mobil di belakang kita mobilnya Pak Putut,” kata Mukti. Dia lihat dari kaca spion saat sedang ambil tiket parkir.
“Hari ini cuma kita berdua yang wajib hadir Mas?” tanya Ayya sambil menoleh ke belakang.
“Iya. Sebenarnya sih kamu doang. Karena kan kamu pelapor. Mas kan hanya pendukung tunangan saja,” jawab Mukti.
__ADS_1
“Oh gitu. Jadi saksi belum ya Mas?”
“Saksi belum Yank,” balas Mukti.
“Mas yakin papa sama mama sudah tahu walaupun tadi kita nggak laporan mau berangkat ke pengadilan,” Mukti mematikan mesin mobilnya.
“Ya ampuuun, Mas aku sampai lupa lapor mama bahwa kita mau ke pengadilan negeri. Ini gara-gara Mas sih tadi di kamar,” ucap Ayya sambil mengambil ponselnya di tas. Dia akan menghubungi Ambar.
“Memang kita ngapain tadi di kamar Yank?” goda Mukti. Ayya langsung memukul lengan tunangannya dengan gemas.
“Tadi di kamar ada kerbau nyeruduk Mas,” jawab Ayya. Dia langsung bersiap menghubungi Ambar.
“Ya ampun, Mas ganteng-ganteng ini dibilang kerbau Yank? Kamu tega amat sih?” protes Mukti.
__ADS_1