
Pagi ini Mukti sarapan seperti kemarin yaitu nasi goreng kencur, tapi tidak ditemani oleh dengan ayam goreng melainkan dengan udang goreng tepung dan satu gelas jus. Setelah sarapan mereka akan berangkat ke pengadilan untuk persidangan kasusnya Saras.
“Iya Ma,” jawab Mukti. Dia barusan mengirim info tentang nasi goreng kencur dan udang goreng tepung. Kemarin mamanya melihat nasi goreng kencur dan ayam goreng mamanya langsung penasaran dengan nasi goreng bumbu kencur tersebut.
“Pagi ini Mama coba bikin nasi goreng kencur dan ternyata hasilnya enak. Papa, Aksa dan eyang suka,” kata Ambar.
“Aku juga minta dibikin lagi Ma. Jadi hari ini nasi goreng kencur juga tapi dia bikin udang goreng tepung,” begitu laporan Mukti.
“Wow ada aja deh menantu Mama masakannya. Itu dapat udang besar dari mana?” tanya Ambar.
“Kemarin ada orang keliling yang kebetulan bawa udang besar, dia nawarin Bu Pinem. Bu Pinem tanya ke Ayya, langsung diambil Ma.”
__ADS_1
“Pagi ini kalian jadi ke pengadilan kan?” tanya Ambar. Sebenarnya tujuan utama telepon mau tanya hal ini. Ponsel Ayu tak diangkat maka dia telepon pada Mukti.
“Iya Ma, ini baru selesai sarapan, habis ini kami langsung berangkat,” jawab Mukti.
“Mana Ayu nya? Mama telepon dia enggak diangkat,” tanya Ambar.
“Ayya lagi ambil jus beku di freezer Ma. Biasa dia kalau pergi selalu bawa 2 botol jus beku. Jadi nanti siang-siang kami punya minuman jus di mobil. Padahal beli aja banyak jus, tapi Ayya lebih suka buatan sendiri. Jadi selalu dia bawa kalau pergi. Ponselnya di kamar, dia belum bawa keluar ponsel sejak tadi,” jawab Mukti.
“Ya dia bisa mengalahkan kak Adel kalau soal makanan sehat walau hitungannya angkanya nggak tepat, tapi dia selalu bikin balance Ma. Seperti kemarin hari pertama aku datang dari Jakarta sampai Denpasar itu kan sepanjang hari aku nggak makan serat. Itu dia ngomel-ngomel, akhirnya malam aku disuapin sayuran steaknya iga bakar Ma. Padahal aku udah bilang besok aja aku makan seratnya. Tetap dia ngomel kalau aku nggak makan serat.”
Mendengar itu tentu saja Ambar bahagia anaknya ada yang ngurus seperti saat dia masih mengurus anak-anak. Sekarang tinggal Aksa yang dia urus 100%. Yang lainnya hanya dia pantau. Memang Ambar akui dari 4 perempuan yang sekarang ada yaitu Vonny, dirinya Adelia dan Ayu yang paling perhatian pada pasangannya adalah Ayu, walaupun belum jadi suami.
__ADS_1
Ayu selalu memperhatikan makanan dan penampilannya Mukti, Ambar memang memperhatikan hal itu. Vonny yang cinta mati pada Ariel aja tidak setelaten itu dan Adelia yang dokter juga tidak seperti itu. Masing-masing tentu memperhatikan suaminya dengan cara yang berbeda. Tapi caranya Ayu memang sangat berbeda dengan mereka bertiga. Mungkin itu Ayu pelajari dari ibunya yang sangat menghormati sang papa yaitu Wayan.
“Ya udah salam aja ya buat Ayu. Doa Mama buat kalian berdua. Semoga nanti keputusannya benar-benar sesuai dengan keinginan kita, kalau bisa lebih,” kata Ambar.
“Aku sudah tekankan pada Ayya Ma, sampai kapan pun kita nggak boleh kasihan sama Saras, karena kuncinya ada di Ayya.”
“Oke nanti Mama akan kirimkan pesan pada dia agar tidak memberi belas kasihan pada perempuan seperti itu, karena nanti akan banyak korban yang tak berani melawan dominasi mahluk seperti Saras. Masih bagus Ayu bisa bergerak karena ada dukungan dari kita, mungkin kalau dia sendirian juga dia tidak akan bisa seperti sekarang, untuk melawan Saras. Mungkin dia hanya akan diam aja,” kata Ambar.
“Bukan mungkin Ma, kalau melihat karakternya Ayya. Dia PASTI hanya diam dan dia akan tetap diam bila tidak kita dukung. Waktu itu aja dia nggak marah kok ke Saras sehabis kejadian. Dia hanya pasrah menerima saja.” Mukti geram kalau ingat Ayya yang tak mau memperjuangkan hak nya.
“Itulah maksud Mama. Pokoknya tidak ada kasihan untuk perempuan seperti Saras.”
__ADS_1
“Iya Ma.”