
“Papa bilang sih sebaiknya nanti malam kita langsung ambil copy-an rekaman CCTV-nya saja sebelum acara penutupan besok. Yang penting dari awal dipasang sampai nanti malam rekaman itu kamu pegang dulu,” saran Abu yang ternyata sudah ikut masuk ke kamarnya Wayan.
“Ya menurut Eyang juga seperti itu,” kata Angga.
“Aku harap sih Papa sama karyawannya bisa temani kami nanti malam,” kata Mukti.
“Iya, nanti kita cek saja tengah malam. Kalau perlu Mukti nggak perlu berangkat biar Made, Papa sama 4 orang karyawan Papa untuk jaga-jaga. Karena tujuan utamanya mungkin Mukti, dilihat dari orang tersebut hanya ngirim video ke Ayu. Bukan kirim ke Mukti atau ke Made dan yang Made malah tidak dibikin video karena tujuannya hanya untuk Mukti saja.”
“Boleh. Nggak apa-apa kok. Saya berangkat sama Bapak dan karyawan saja. Nanti Mukti terima laporan, kita video call untuk mencegah Mukti keluar sarang,” kata Made. Dai tak keberatan.
“Benar, begitu lebih baik. Mukti bisa memberi perintah dari jarak jauh saja,” kata Angga.
“Kondisi lapangan bisa langsung di beritahu oleh Made. Nanti perintah bisa melalui zoom atau video call. Tidak perlu Mukti datang ke sana,” kata Angga setuju. Dia juga mengantisipasi keadaan menjadi lebih buruk lagi mengingat Ayu sudah sangat ketakutan melihat kondisi saat ini.
“Saya juga sudah bisa berangkat kok,” usul Wayan.
__ADS_1
“Enggak!”
“Tidak!”
Made dan Mukti bersamaan menolak usul Wayan. Mereka ingin siapa pun yang mencoba mencelakai Wayan tadi terus berpilir kalau kondisi Wayan parah.
“Kamu diam di rumah saja. Aku juga bukan kemauanku kok nggak berangkat. Jadi kamu nggak usah merasa nggak enak,” kata Mukti.
“Kamu berarti nemani aku saja, kita pantau dari jarak jauh biar Made yang maju ke lapangan sama Papa,” ucap Mukti.
“Ayo kita salat magrib dulu, nanti habis itu makan malam,” kata Ambar.
“Wayan kamu mau makan di dalam kamar atau bareng kami saja?” tanya Ambar.
“Saya sudah kuat jalan kok Bu. Saya makan di luar saja dan saya tidak mau dibikinkan bubur. Nggak perlu itu.”
__ADS_1
“GR! Siapa yang mau bikinin kamu bubur?” goda Mukti.
Tentu saja semua tertawa dan keluar dari kamar Wayan untuk bersiap menuju kamar salat, hanya Wayan yang tidak salat.
Mukti mengambil makanan dari mobil, dia tadi lupa menurunkannya . Bekal itu adalah menu makan malam buat dia di pameran. Dia berikan pada Bu Parman.
“Bu ini yang bekal tadi siang. Masih utuh semua kok dan yang ini yang kotor sudah aku makan.”
“Iya Mas Mukti, nanti saya panasin. Saya campur dengan makanan lain. Nggak apa-apa ini masih bagus kok, bukan bekas pula.”
“Iya Bu. Itu kan harusnya buat malam saya di pameran. Tapi saya pulang sore jadi tidak ke makan.”
Bu Parman memandangi box untuk bekal, dia langsung teringat pada Ayu. Sosok manis dan lembut yang selalu telaten menyiapkan makan siang untuk dibawa ke pameran selama Mukti berkegiatan di sana. Dia juga tahu Ayu selalu membuatkan jus untuk Mukti.
Tak ada Ayu tentu tak ada yang membuatkan seperti itu, tapi kalau dia bilang bahwa dia kangen Ayu tentu nanti jadi masalah. Atau Mukti jadi tambah sedih. Dia tak mau hal itu terjadi. Jadi hanya dipendamnya saja dalam hati.
__ADS_1