
“Mau ke mana?” tanya Ayya melihat Mukti mau bangkit dari ranjangnya.
“Mau ke kamar mandi,” jawab Mukti pelan.
“Sebentar, aku panggilkan orang buat nemani. Mas sangat lemas takutnya jatuh. Aku nggak kuat kalau harus memapah Mas. Sebentar jangan rewel. Jangan membantah. Aku panggil orang produksi buat nemanin Mas,” kata Ayya. Dia tak menunggu jawaban Mukti lalu langsung berlari keluar memanggil dua orang bagian produksi untuk memapah Mukti ke kamar mandi.
“Tolong bantu juga Pak Mukti untuk berganti pakaian. Ini pakaiannya,” kata Ayya. Dia siapkan semua pakaiannya termasuk dia tadi dengan lancang mengambil pakaian dalam Mukti di almari.
“Mas juga langsung wudhu ya. Nanti Mas salat di tempat tidur aja sambil duduk,” kata Ayya.
Saat Mukti ke kamar mandi Ayya membersihkan tempat tidur merapikan sprei juga melipat selimut dia ganti semuanya agar bersih dan rapi karena Mukti akan salat di situ semua baju kotor Mukti juga sudah dia masukkan ke keranjang pakaian.
Bu Ikhlas langsung membantu Ayya begitu tadi dipanggil oleh Ayya untuk mengganti sprei karena Ayya tidak tahu tempat sprei ada di mana. Mukti keluar tertatih dari kamar mandi dia tak percaya tempat tidurnya sudah bersih dan rapi
“Terima kasih ya Pak,” kata Ayya kepada dua orang pegawai Mukti tersebut.
“Nanti aku panggil lagi ya. Mungkin pakai miscall saja. Kalau aku miscall itu tandanya Bapak ke sini. Jadi saya nggak perlu lari ke belakang,” kata Ayya yang kata-katanya berantakan. Kadang pakai saya kadang pakai aku.
“Iya Bu Komang. Saya akan langsung ke sini begitu ada miscall dari Ibu,” jawab pegawai tersebut. Mereka sudah mengerti saat ini kondisinya berbeda sehingga ibu Komang tak perlu lari ke belakang lagi.
__ADS_1
Semua itu dilihat oleh Mukti, dia tak percaya Ayya bisa menghandle memimpin suatu kegiatan yang tiba-tiba harus ditanganinya dengan baik.
Ayya salat magrib sendirian karena Mukti salat di kamarnya. Mukti memang belum batal sehingga dia tak perlu lari ke kamar mandi lagi untuk wudhu.
“Assalamu’alaykum,” sapa seorang perempuan yang suaranya sangat Ayya kenal. Saat itu Ayya sedang melipat sajadahnya dia sudah selesai salat.
“Mamaaaaaa,” teriak Ayya dia tak percaya Ambar ada di situ.
Ayya langsung berlari menghampiri perempuan yang dia sayangi itu, membuat sajadahnya kembali berantakan. Dia memeluk Ambar dengan dengan penuh kasih.
“Mama sama siapa kok tiba-tiba udah sampai sini?” tanya Ayya dengan rasa senang dan tak percaya kalau Ambar langsung ada di depan matanya.
“Mas Mukti awalnya nggak apa-apa Ma. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia demam dan panas tinggi.”
“Cuma Mama yang tahu kenapa dia begitu. Itu pernah dia alami saat dia SMP kelas 2. Kalau dia sangat tertekan, dia akan seperti itu. Bahkan saat kejadian Vio dia tak mengalami karena rasa tertekannya masih bisa diatasi. Kalau sudah di bawah ambang batas kejadiannya akan seperti ini.”
Ayya mengajak Ambar untuk duduk.
“Apa yang membuat dia tertekan saat kelas 2 SMP Ma? Dan sekarang apa pula yang membuat dia tertekan sampai seperti ini? Kayaknya nggak ada kasus apa pun deh. Kami baik-baik saja dan persiapan pameran juga berjalan lancar Ma,” kata Ayya sambil menduga apa yang membuat Mukti tertekan.
__ADS_1
“Mama salat dulu ya. Mama belum magriban. Nanti kita cerita. Tapi Mama juga nemuin Mukti dulu sehabis salat,” kata Ambar.
“Eh iya, maaf kirain Mama sudah salat. Silakan sholat dulu. Aku sampai lari dan sajadahku berantakan. Mama mau pakai mukena baru atau mukena aku?” tanya Ayya.
“Pakai mukenamu itu aja,” jawab Ambar sambil ke kamar mandi di belakang untuk wudhu.
“Bu Pinem, Bu Ikhlas sudah pulang belum?” tanya Ayya pada bu Pinem di dapur.
“Masih, baru saja dia selesai salat di belakang,” jawab bu Pinem.
“Tolong suruh siapin kamar buat ibu Ambar ya,” pinta Ayya.
“Sudah siap dari tadi Mbak,” jawab bu Pinem.
“Kok sudah siap dari tadi?” Ayya malah bingung.
“Sejak siang tadi kami sudah tahu Bu Ambar akan ke sini. Tapi Bu Ambar bilang nggak perlu cerita ke Mbak karena dia tak mau Mbak jadi bingung sendiri. Ibu Ambar sudah memberitahu kami sejak beliau dapat tiket. Sudah pasti akan berangkat. Sebelumnya dia bilang dia akan cari tiket dulu,” kata bu Pinem.
“Oalah, kalian malah sudah tahu lebih dulu,” kata Ayya.
__ADS_1